Home » Berita » SPAS Kecam Represi Aparat kepada Petani Sukamulya

SPAS Kecam Represi Aparat kepada Petani Sukamulya

spas-sukamulyaSelasa 22/11, Aliansi Solidaritas Agraria untuk Sukamulya (SPAS) membacakan tuntutan. Salah satunya adalah bebaskan 3 Petani Sukamulya yang ditangkap oleh Polres Majalengka. Foto oleh Arfrian/EKSPRESI

Ekspresionline.com – Selasa (22/11), Aliansi Solidaritas Perjuangan Agraria untuk Sukamulya (SPAS) menggelar aksi untuk para petani Sukamulya, Majalengka, Jawa Barat. Dalam aksinya yang digelar di Titik Nol Malioboro, SPAS mengecam represi yang dilakukan aparat kepada petani Sukamulya. “Masyarakat Sukamulya sebenarnya menginginkan adanya dialog dengan Panitia Khusus (Pansus) Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB). Akan tetapi, malah dijawab dengan gas air mata,” papar Budianto selaku Kordum Aliansi SPAS.

Hal senada juga dikatakan oleh Simon selaku massa aksi. Simon menganggap tindakan yang dilakukan aparat sangatlah tidak manusiawi dan tidak demokratis. “Tindakan itu merupakan pelanggaran hak berekspresi para petani dan harus dihentikan,” imbuh Simon. Tindakan yang dimaksud Budianto dan Simon terjadi pada 17 November lalu ketika para petani Sukamulya yang menolak pengukuran lahan bandara dipukuli dan disemprot gas air oleh aparat.

Budianto menjelaskan, anak-anak di desa Sukamulya merasa trauma dan tidak berani berangkat sekolah sejak kejadian 17 November lalu. Selain itu, Puskesmas juga tidak memberikan layanan kepada masyarakat setempat. “Dinas kesehatan di sana yang menginstruksikan untuk tidak membuka puskesmas di Sukamulya,” lanjut Budianto.

Desa Sukamulya merupakan satu dari sebelas desa yang akan digusur untuk pembangunan BIJB. Dari sebelas desa yang nanti akan dibangun bandara, hanya desa Sukamulya yang tidak mau melepaskan tanahnya. Sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2015-2019 pemerintahan Jokowi-JK, BIJB merupakan satu dari 15 bandar udara yang akan dibangun untuk memuluskan program tersebut.

“Sebenarnya para petani Sukamulya tidak menolak secara mentah-mentah program pembangunan BIJB. Mereka hanya mengeluhkan persoalan yang terkait relokasi dan usaha apa yang kemudian dijalankan setelah digusur,” papar Budianto. Mayoritas penduduk Sukamulya bekerja sebagai petani dan itu yang harus dipikirkan pemerintah.

Singgih Norma

Check Also

KMP Education Research Conference Buka Pekan Raya KMP 2017

Senin (13/11), suasana ketika KMP Education Research Conference berlangsung. Foto dokumen KMP. foto oleh Danang/EKSPRESI …