Home » Opini » Hancur Lebur di Akhir Tahun

Hancur Lebur di Akhir Tahun

“Aku selalu suka sehabis hujan di bulan Desember.”

Efek Rumah Kaca.

Entah apa sebabnya, akhir tahun selalu dirayakan oleh hampir setiap orang. Kalau sudi merogoh kocek untuk barang sekali pakai dalam setahun, kita mesti merayakannya dengan membeli terompet dan kembang api. Kadang berhari-hari atau seminggu sebelumnya kita sudah bikin rencana berkumpul dengan orang-orang terdekat. Dengan cara sederhana maupun belibet, orang selalu mengakhiri, juga mengawali, sebuah tahun. Manusia memang makhluk yang hobi merayakan.

Merayakan tentu sah-sah saja, tapi cobalah lakukan yang berbeda; akhiri tahun tanpa ditemani, sendiri, mensterilkan diri dari omong kosong, dan jauh dari pretensi perayaan. Kau bisa, antara lain, melakukannya dengan memanjakan telinga bersama lagu-lagu bertema Desember, bulan terakhir dalam hitungan tahun Masehi.

Jika kau menyukai genre folk, coba dengarkan “December”-nya Basia Bulat, dan jangan pelit kalau punya tahu bulat, atau putarlah lagu Linkin Park berjudul “My December”. Di sana kau akan mendapati Chester Bennington sembuh dari kerasukan setan screaming.

Untuk memulai memperbaiki selera musik-dalam-negerimu, berkenalanlah dengan Efek Rumah Kaca dan nikmati lagu “Desember” seperti yang kukutip di atas. Jika sudah begitu, kau boleh meningkatkannya dengan mencari tahu Sajama Cut, Pandai Besi, Christabel Annora, dan Stefanni BPM.

Tiga nama yang kusebut terakhir bahkan pernah menyanyikan lagu “Desember” dengan gaya masing-masing. Khusus Christabel dan Steffani, tak hanya telingamu yang dimanjakan, tetapi juga matamu (jangan dibaca dengan intonasi tinggi). Mereka berdua wanita berparas menarik. Aku ingin membahasnya di sini, tapi lain kali saja, ah. Malu.

Para musisi itu mungkin saja menggagas tema Desember dalam lagu mereka tanpa niatan agar kau bisa mendengarkannya semasa peralihan tahun satu ke tahun berikutnya. Tapi sudahlah, dengarkan saja. Ada pelbagai hal yang identik dengan Desember: liburan, kampoang halaman, sampai hujan. Menurut para klimatolog di BMKG, Desember termasuk dalam periode penghujan. Dengan suhu dingin pada bulan ini, tentu tubuh butuh penghangat. Mendekatkan diri ke perapian atau berselimut ke dada pasangan mungkin cara yang paling ampuh sekaligus nyaman. Namum, daripada mencari kulit lawan jenis yang masih di angan-angan, dan kalaupun nyata, hanya akan terjadi melalui pemaksaan, kusarankan kau menempuh cara sebelumnya. Manfaatkan gawaimu atau mintalah teman menyanyikan lagu bertema Desember, eh maaf, maksudku hujan.

Di Ekspresi sih ada dua teman yang tanpa diminta pun akan menyanyi dengan sendirinya. Dua teman itu lebih baik dijauhkan dari daftar relawan yang akan kau mintai bantuan. Mereka penyanyi bersuara pas-pasan yang gemar mengganggu latihan vokal UKM Kerohanian—IKMK—di samping ruangan kita. Sebuah penistaan agama. Sungguh bikin malu. Tercela.

Mari kita mulai serenteng lagu bertema hujan itu dengan “November Rain”. Tak usah ambil pusing dengan nama bulan pada judulnya. Hematku, inilah salah satu lagu terbaik bertema hujan. Yang menyanyikannya Guns N’ Roses, grup musik rock legendaris dari negerinya Donald Trump. Penggalan lirik “November Rain” kira-kira begini:

When I look into your eyes

I can see a love restrained

But darling when I hold you

Don’t you know I feel the same

Cause nothing lasts forever

And we both know hearts can change

And it’s hard to hold a candle

In the cold November rain

Ada lagi lagu yang cocok untuk dicocokkan ke telingamu pada Desember ini. Bernostalgialah dengan tembang Benyamin Sueb. Tembang yang kumaksud ialah “Hujan Gerimis”. Penggalan liriknya: Eh ujan gerimis aje/Ikan lele ade kumisnye/Eh jangan menangis aje/Kalo boleh cari gantinye. Setelah mendengarkan suara dari penyanyi Betawi ini, resapilah betul-betul pesan implisit dalam muatan lagu ini, lalu tunaikan.

Dalam canda gurau dengan temanmu, selipkanlah pantun-pantun cerdas. Sebab, kini pantun makin direndahkan nilainya menjadi medium hinaan murahan sebagaimana dipertontonkan kepada khalayak oleh televisi. Massaakkk aeerrr…

Sebagai penikmat lagu galau, tapi tetap ingin dicap punya selera musik yang bagus, aku menyarankanmu, sekali lagi, memutar lagu Efek Rumah Kaca. Perkara jaminan mutu yang ditawarkan ERK tak akan kubahas di sini. Itu sama saja melakukan repetisi dari paragrap kedua.

Begini, ERK punya “Hujan Jangan Marah”, kau bisa melakukan eksperimen psikologi dengan lagu ini. Coba ganti term ‘hujan’ dengan pronomina orang kedua, dan syairkan lirik itu di depan cermin. Kau akan mendapati yang dibujuk untuk menahan dan berhenti marah ialah dirimu sendiri. Marah oleh sebab apapun kepada siapapun. Setelah tak lagi marah, boleh jadi kau akan membujuk diri sendiri dalam hal lain: meminta maaflah karena kemarahanmu. Pendek kata, jangan marah, berapologialah.

Selain musik, masih ada medium lain untukmu berhibur dan berlibur: film. Cobalah memanen film-film bagus pada akhir tahun. Maksudku, susunlah daftar film yang tayang sejak awal hingga akhir tahun. Saksikan trailer-nya, kemudian, berdasarkan nilai persuasi dalam trailer—atau sebentuk bocoran film lainnya—itu, tentukan film mana yang hendak kau tonton.

Biasanya film-film itu bisa kau unduh gratis setelah dua-tiga bulan tayang di bioskop atau sejak pertama kali tayang. Saranku, tak usah memusingkan diri dengan film-film dokumenter. Dengan dialog yang tak hidup dan muatan ideologis di dalamnya, alih-alih terhibur, jika tak banyak referensi pembanding, kau hanya akan menegadahkan kepalamu untuk dicuci otak.

Hindari pula film bergenre horor. Ini untuk mencegah penistaan dalam tujuan menonton film. Musababnya, dengan menonton film horor, kau hanya akan ketakutan, bukan justru menikmatinya. Film kok untuk ditakuti, bukan dinikmati!

Tontonlah film-film cerita-bahkan jika harus lebih spesifik, tontonlah yang fresh certified. Aku punya beberapa rujukan untukmu. Mari kita segerakan menyebutnya satu-satu.

Ada film Room. Bukan berarti aku tak punya kalendar, atau lupa tahun berapa yang tengah kubahas dalam tulisan ini, tapi film ini memang sangat layak kau tonton. Room adalah film Kanada yang tayang perdana pada 2015 lalu. Kisahnya tentang seorang gadis remaja 17 tahun yang diculik. Ia dikurung di ruangan sempit, yang dalam film ini disebut ‘room’.

Room adalah kamar kedap suara yang ditutup oleh pintu dengan kunci berkode. Kode itu hanya diketahui oleh si penculik. Tujuh tahun gadis itu, Joy namanya, dikurung di dalamnya. Tujuh tahun! Diculik, diperkosa, dan pada tahun kedua ia memiliki seorang anak.

Jika boleh menilai dengan kata yang tak terlalu spesifik: yang ‘menarik’, si anak, yang dinamai Jack, tak pernah diberi tahu apapun tentang dunia oleh Joy. Yang ia pahami hanya ‘room’. Di luar itu, Joy menjelaskan segalanya dengan sebutan “luar angkasa”.

Jack mengenal yang diluar ‘room’ hanya melalui televisi, dan buku dongeng. Ia tak tahu bahwa Old Nick, yang datang hanya pada malam hari untuk menyetubuhi ibunya, itu nyata. Manusia, baginya, hanya ia dan Joy.

Mungkin lucu jika ada seseorang mencandai kawannya karena ketinggalan tren penggunaan gawai. Enteng saja keluar pertanyaan, “Baru keluar dari gua mana?” Sebab, orang yang dicandai memang hidup di dunia yang terus berkembang. Hanya saja dalam beberapa hal, seperti gawai barusan, ia tertinggal. Namun, Jack sejak lahir tak pernah hidup di “dunia”. Ia, sekali lagi, dikurung di ‘room’ hanya berteman ibu dan anjing imajinasinya. Ia seperti sebentuk plastik dan Joy, oleh karena keterpaksaan dan keterbatasan, membentuknya demikian.

Demi tahun yang penuh anomali ini, aku berikan kepadamu rujukan film yang terbit tahun ini. Kita lanjutkan dengan pembahasan film Captain Fantastic. Ini bukan film tentang Steven Gerrard, mantan pemain Liverpool yang memiliki julukan sama dengan judul film ini. ini adalah film keluarga, film pendidikan, dan tentang kelas sosial.

Tunggu dulu, mengapa aku menyebut-nyebut kelas sosial? Apakah ini menyinggung komunisme-kapitalisme? Proletar-borjuis? Jawabnya: tidak. Lagi pula aku bukan aktivis. Mana berani aku sok membahas tema-tema melangit macam itu.

Alkisah, suatu keluarga tinggal di kawasan hutan. Ben dengan istrinya, Leslie, bisa kusebut sebagai sepasang suami-istri cerdas. Sejak menikah mereka tinggal di hutan bertahun-tahun lamanya. Bisa ditebak, mereka beranak-pinak di sana. Mereka mendidik enam anak mereka dengan cara mereka sendiri.

Namun, jangan menebak mereka adalah keluarga tertinggal macam Tarzan. Sudah kusebut sebelumnya bahwa mereka cerdas. Anak-anak mereka diberi bacaan berat bahkan sejak balita. Sehingga si bungsu yang usianya baru lima tahun sudah bisa menjelentrehkan apa itu fasisme.

‘Captain’ dalam judul ini merujuk pada Ben, Ayah dan suami di keluarga ini. Leslie, sang istri, diceritakan meninggal di rumah sakit pada awal film ini. Leslie punya wasiat kepada Ben, ia ingin dikremasi, bukan dikubur. Sebab ia seorang penganut Budha. Berbeda dengan keluarga Katoliknya. Ben awalnya enggan mendatangi pemakaman Leslie. Ia khawatir Jack, ayah Leslie, akan mengambil hak asuh anak-anaknya. Namun dengan bujukan keenam anaknya akhirnya Ben datang juga. Ben memboyong keenam anaknya itu ke kota.

Konflik pun dimulai, anak-anak Ben bersinggungan dengan dunia. Dari melihat sepupu-sepupu barunya berkelahi menggunakan medium virtual, sampai terheran-heran dengan orang-orang gemuk karena makanan yang tak alami. Si bungsu sempat mengira, Nike, sebuah merk aparel olah raga yang diperbincangkan bersama para sepupunya adalah dewa Yunani. Si cikal, Bodevan, yang sudah beranjak dewasa—Ben dan istrinya gemar menamai anak-anaknya dengan unik, nama itu hanya ada satu di dunia—tercekat kerongkongannya saban hendak berbicara dengan gadis.

Persinggungan puncak ada pada pola asuh anak. Mertua dan adik Ben ingin anak-anak itu diasuh dengan cara manusia “normal”. Bersekolah, makan makanan dari pasar swalayan, bekerja. Soal pendidikan Ben, seperti kusebutkan sebelumnya sebagai orangtua cerdas, menang saat cekcok dengan adiknya. Kepada kedua anak adiknya yang sudah menginjak sekolah menengah, Ben menanyakan tentang Bill of Rights. Kedua keponakaannya itu tak paham. Salah satu anak Ben yang baru berusia delapan tahun justru hafal tiap kata dan kalimat dalam Bill of Rights. Lebih dari itu, Ben bahkan meminta anaknya menjelaskan dengan kata-kata sendiri dan menganalisisnya. Anaknya bisa. Ben bangga.

Hal semacam itu lantaran Ben mengasuh anaknya, di hutan, dengan cara disiplin. Melatih fisik, mengajari bermain musik, memberi buku-buku tebal. Hal yang Ben sebut sebagai ‘home schooling’ ketika menjawab pertanyaan Jack, mertuanya, tentang pola pendidikan untuk keenam anak itu.

Tontonlah film ini, maka setidaknya sesaat—kalau bukan selamanya—kau pasti akan menyesali mengikuti pola pendidikan terinstitusi yang bertahun-tahun kau tempuh. Bacaan dibatasi, tutur kata dimanipulasi, pengajaran dangkal dan terspesifikasi. Segala hal yang dijalankan oleh organisasi memang sampah.

Sampai di sini, mungkin acap keluar pertanyaan darimu: ini tulisan apa? Tujuannya apa?

Baiklah, mari kita bikin jelas. Setelah melantur ke sana ke sini, harus kunyatakan tujuan esaiku ini. Penulis memang tak boleh membiarkan pembacanya bingung. Kendati salah satu ciri khas esai adalah penuh teka-teki.

Bagiku, kita tak perlu repot-repot berurusan dengan hal-hal tak penting dan tak ada sangkut pautnya dengan diri kita. Desember ini saja ada banyak hal yang terlalu bikin pusing. Aku sebut saja, misalnya: Pemilwa.

Pemilwa bisa kusebut tak penting lantaran siapapun yang menang hasilnya akan sama saja. Bahkan, bisa saja aku tega menyebut Pemilwa tak ada hasilnya sama sekali. Itu baru dianalisis dengan pertanyaan, “Siapa yang menang?” Sebab, dari tahun ke tahun, kita bisa menebak siapa yang akan menang.

Selain itu, sebagai seorang yang kerap dicap apatis, apolitis, bahkan ateis, aku yakin kita memang benar-benar tak perlu terlibat sebagai apapun, dari dekat atau jauh, dalam Pemilwa. Asumsiku, agenda politis macam itu hanya urusan para aktivis, mahasiswa intelek, dan organ-organ pergerakan. Kita, kalau kau setuju denganku, tak perlu sok menjadi aktivis. Mengurusi Pemilwa, mengikuti pergerakan kampus maupun luar kampus, terlibat dalam demonstrasi, atau apapun yang berbau keaktivis-aktivisan.

Para aktivis itu kerap mencontoh peristiwa atau orang hebat masa lampau. Demonstrasi 66’ dan 98’ menjadi langganan mereka saban merumuskan pergerakan. Dari tokoh, mereka paling sering menjadikan Soe Hok Gie sebagai anutan dan legitimasi aktivisme mereka. Sugguh celaka.

Yang mereka tahu dari Gie hanya demonstrasi. Padahal, jika membaca buku-buku Gie—salah satunya mengandung term ‘demonstran’ dalam judulnya—kita akan tahu bahwa Gie lebih sering membaca, menulis, naik gunung, nonton film dan acara musik. Gie justru tidak berandil besar dalam pegangan demonstrasi mereka. Aktivisme Gie berbeda dari aktivisme para mahasiswa pemujanya saat ini. Alih-alih menghasilkan esai-esai kritis dan melakukan kajian dalam kegiatan-kegiatan hiburan, para aktivis kini malah jadi maniak demonstrasi. Seperti Gie, bagiku daripada repot ikut demonstrasi, pergerakan, dan mendaku aktivis, kita lebih baik di indekos, mendengar musik, menonton film, sesekali membaca. Syukur jika mau berdiskusi dengan teman dan menuliskannya.

Kau boleh mengabaikan pendapatku. Sebab, aku pun bisa cuek secuek-cueknya sebagaimana yang telah kulakukan bertahun-tahun. Namun, jika yang menjadi maniak demonstrasi, mendaku aktivis, dan salah memahami aktivisme mahasiswa adalah orang-orang yang kukenal, beberapa bahkan dengan bangga kusebut teman, dengan siapa lagi aku harus berteman?

Itu baru soal tujuan esai ini. Berikutnya tentang jenis tulisan ini.

Aku dengan enteng menyebut ini sebagai esai. Perbedaan memang terasa dalam banyak hal di esaiku. Hal itu lantaran kita sudah terlalu terpaku dengan “definisi” dan “karakteristik” esai yang selama ini kita kenal dan berseliweran, termasuk di Ekspresi.

Pernahkah kau membaca esai, di Ekspresi misalnya, yang menggunakan pronomina ‘aku’ dan ‘kau’? Atau esai dengan tema yang melantur—kalau tak tega menyebutnya tak bertema?

Sungguh, esai adalah tulisan sebebas-bebasnya tulisan. Tiada batasan dalam ber-esai. Satu-satunya batasan dalam esai adalah ketiadabatasan itu sendiri.

Pernah suatu kali aku melihat teman di Ekspresi yang kesulitan menulis esai. Ia punya tanggungan menulis tema pendidikan ketika itu. Aku kemudian menyarankannya menulis dengan gaya esai dalam Sekolah Itu Candu, buku yang menjadi referensinya menulis tema pendidikan. Oleh sebab karakteristik esai dalam buku itu dinilai melenceng dari tradisi beresai kita, ia menolak saranku.

“Enggak tahu ya di Polred ada keharusan tulisan harus konservatif?” sanggahnya  ketika itu.

Konservatif yang ia maksud ialah esai harus serius, penuturan melangit, dan berdasar pada seabrek sumber yang dibaca kejar tayang. Kupikir, apakah term ‘bosan’ sudah hilang dari kamus Ekspresi? Mengapa masih melanggengkan tradisi beresai macam itu?

Betapa mengkhawatirkannya tradisi demikian. Apalagi pada Desember ini Ekspresi merayakan perayaan besar-besaran dan berhubungan dengan esai: menulis buku kumpulan esai. Kuyakin esai-esai yang ditulis nanti akan berkarakteristik sama dengan para pendahulunya. Sedangkan esaiku ini dianggap bukan esai. Sebab mengandung unsur ketidakseriusan, melucu—kendati perkara ini bisa diabaikan lantaran leluconku dalam esai ini cenderung jayus—dan tema yang mengambang.

Akan tetapi, apa boleh buat, ini adalah esai syarat penulisan buku. Jika tak mengirimkannya bisa-bisa aku gagal jadi salah satu redaktur buku dan dianggap tak berintelektual. Maka, aku harus mengalah untuk mematuhi tradisi esai-serius-Ekspresi. Selain itu, aku juga ingin memperpanjang esai dengan cara yang terhormat. Tak seperti beberapa teman yang asal copy paste dengan alasan pragmatis: jumlah katanya cukup.

Esai-serius-Ekspresi pun dimulai: akan kuceritakan dan kuanalisis sejarah Revolusi Perancis yang bermula dari kegeraman rakyatnya kepada ratu mereka yang senang berfoya-foya, Marie Antoinette. Tapi, malas, ah.

Putra Ramadan

Check Also

Choirul Huda dalam Pelukan dan Hati Masyarakat Lamongan

Pemain Semen Padang FC (SPFC), Vendry Mofu menerima umpan lambung tepat di kotak penalti Persela, …