Home » Sastra » Cerpen » Malam ke 1000 untuk Kunang-Kunang

Malam ke 1000 untuk Kunang-Kunang

“Aku merasa berdosa meninggalkan desa,” kata Si Baju Ungu.

“Aku tidak. Merantau kan pilihan hidup kita,” Merah Muda menanggapi.

“Tidakkah kau memikirkan kampung halamanmu, bila sewaktu-waktu kau diminta untuk pulang?” tanya Si Baju Ungu.

“Tentu saja. Hanya orang egois yang lupa dengan kampung halamannya sendiri.”

“Apa yang kamu persiapkan untuk kepulanganmu?”

“Tidak tahu.”

Dua wanita tanggung itu, yang disebut Si Baju Ungu dan Merah Muda, sedang dalam perjalanan dengan sebuah bus lokal. Ini bus terakhir. Waktu telah menunjuk pukul dua puluh satu empat lima, di mana jam operasi bus tersebut hanya sampai pukul dua puluh dua. Lima belas menit barangkali adalah waktu yang cukup untuk tiba di tujuan.

Si Baju Ungu memandang keluar. Dilihatnya beberapa kendaraan dan rumah-rumah melaju dari arah berlawanan. Tampak hanya sebagai kunang-kunang dari kaca yang buram oleh embun. Kunang-kunang yang sama yang pernah dilihatnya di desa.

Kala itu, ia pertama kali melihat kunang-kunang. Ia tidak pernah tahu sebelumnya bahwa ada makhluk kecil bercahaya di malam hari. Jika memang ada yang seperti itu, dipikirnya adalah bintang-bintang yang berserakan di langit seperti gula pasir.

“Ini bukan bintang, ini kunang-kunang,” kata ayahnya. “Cahayanya seperti menyibakkan kelambu demi kelambu karena ia terus bergerak menyusuri kelam.”

Si Baju Ungu hanya bisa terpaku. Heran. Memang begitulah seharusnya kunang-kunang. Kodrat seekor binatang telah membuat kunang-kunang menerangi malam. Si Baju Ungu sama sekali tak terjerat oleh kata-kata puitis ayahnya soal kunang-kunang, justru sebaliknya ia melongo. Ia memang tidak memaknai kunang-kunang terlalu dalam. Pikirannya yang masih belia hanya tahu soal kesenangan, ketika dilihatnya kunang-kunang bergerak melayang-layang, bagaikan sebuah parade di persawahan. Bertahun-tahun kemudian, ia baru bisa memaknainya.

“Menurutku kita harus meniru kunang-kunang,” ujar Si Baju Ungu.

Terdengar seperti bunyi mulut tengah mengunyah. Si Baju Ungu menoleh ke samping kiri, rupanya Merah Muda sedang berupaya membuat balon dari permen karet.

“Sekembalinya dari rantauan, aku ingin coba membangun desaku, membuatnya lebih terang dengan ide-ideku.”

“Apa tidak ada yang lain?” Merah Muda akhirnya menanggapi.

“Itu saja cukup. Terdengar klise ya?”

“Iya. Ucapanmu tadi lebih mirip dialog di sinetron-sinetron tahun 90-an.”

Biarin. Apa salahnya bermimpi?”

“Itu bagus. Memangnya yang kau bangun itu manusianya atau desamu secara fisik?”

“Dua-duanya bisa.”

“Bagaimana caranya?”

“Nah, itulah masalahnya. Belum tahu.”

***

Si Baju Ungu mengingat, bagaimana dirinya sewaktu mengutarakan niatnya untuk merantau. Kedua orang tuanya langsung memberikan izin. Tidak ada cucuran air mata. Tidak ada drama yang membuat perpisahannya berjalan alot. Justru sebaliknya, ibunya membekalinya dengan sebuah kalung emas yang entah berapa karat, disusupkan ke dalam kutangnya. Kata ibu: “Sesuatu yang berharga harus disimpan di tempat yang berharga pula.”

Bagi keluarganya, perpisahan yang disebabkan karena niat untuk mencari kehidupan yang lebih baik harus dilancarkan. Apalagi untuk seorang pemudi seumuran Si Baju Ungu, karena itu akan menguntungkan buat masa depan. Rasanya seperti memeram buah-buahan di wadah beras, yang akan dibuka kembali ketika sudah masak.

Si Baju Ungu mengerti apa yang diinginkan orangtuanya. Tidak lain dan tidak bukan hanya untuk melihat puterinya sukses bila pulang nanti. Cukup sederhana. Si Baju Ungu merasa itu pekerjaan yang mudah. Hanya saja ia tidak tahu dari manakah akan memulainya. Tentu saja di perantauan ia tidak mungkin bertani. Pasti tidak ada sawah untuk digarap, sama kondisinya dengan keadaan di desanya. Sawah makin berkurang lantaran disulap menjadi perumahan. Termasuk sawah milik ayahnya. Itulah salah satu yang mendasari niatnya pergi merantau. Sejak sawahnya dijual, tak ada mata pencaharian yang layak untuk sekedar memenuhi kebutuhan perut sehari-hari. Hanya tinggal besi dan beton yang tak berbuah dan tak bisa dipanen.

Selain itu, Si Baju Ungu juga merasa bosan tinggal di desa. Tak ada hiburan. Sudah jarang ditemukan kunang-kunang yang dulu kerap muncul di malam hari. Seiring dengan terenggutnya sawah, nyaris tak ada kunang-kunang yang menampakkan diri. Penerangan malam hari kini berasal dari perumahan dan minimarket yang menyala selama 24 jam. Tidak alami. Tidak enak dipandang lama-lama. Maka dari itulah, ia berminat menjadi kunang-kunang bagi desanya suatu hari nanti selepas dari perantauan. Tentu saja kunang-kunang bukan dalam arti sebenarnya.

***

Si Baju Ungu merasa tiba-tiba saja kepalanya pusing. Ia berkali-kali menekan dengan tangannya untuk menahan rasa sakit. Melihat kawannya payah kesakitan, Merah Muda menawarkan Si Baju Ungu berbaring di pangkuannya.

“Tidak usah dipikirkan. Pasti nanti ada jalannya.” Merah Muda mencoba menenangkan.

“Tapi aku hanya lulusan SMA. Bekerja apapun asal bisa mencetak rupiah. Bagaimana aku pulang dengan tenang?”

“Kau boleh pulang kapanpun kalau memang niat.”

“Aku pasti melakukannya kalau jadi kau.”

“Ya sudah lakukan saja.”

Kepala Si Baju Ungu makin berat. Seperti ditindih seekor gajah. Merah Muda tak tahu bagaimana perasaannya. Ia selalu bermimpi buruk sejak mendapatkan pekerjaan ini. Ia selalu tak habis pikir bagaimana ia bisa memperoleh pekerjaannya. Ia hanya ingat, ketika mulai kehilangan asa untuk mencari makan di tanah rantau ini, seorang pria datang memberinya uang setelah tidur dengannya.

Si Baju Ungu makin lama makin mengerti bagaimana memasang harga untuk menjajakan kelamin. Setidaknya ia dapat menangguk untung yang lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Banyak pelanggannya yang berbaik hati dengannya. Menanggungnya makan atau membantu membayar sewa kost. Satu-satunya yang masih mengganjal sampai sekarang: ia tak dapat menikmatinya. Itulah soalnya. Kenikmatan bercinta hanya dapat diperoleh dengan seorang pasangan yang sama, dan telah disahkan menurut hukum agama. Sementara yang selama ini ia lakukan lebih tepat dikatakan beranak-pinak, dengan lelaki berbeda setiap malamnya, sehingga ia pun kesulitan menentukan ayah bagi benih-benih yang tersemai di perutnya.

“Sebenarnya apa masalahmu hingga harus merasa berdosa, kalau setiap dua minggu sekali kau bisa mengirimi uang ke orang tuamu?” Merah Muda kesal dengan keresahan Si Baju Ungu yang sebetulnya cuma diulang-ulang. Menurut perkiraannya, ini merupakan malam ke seribu sejak Si Baju Ungu mengungkapkannya pertama kali. Tinggal satu malam lagi dia dapat menyamai Shehrazat untuk mencapai seribu satu malam.

“Tidakkah kau berpikir dengan pekerjaan kita?” Si Baju Ungu balik bertanya.

“Jadi itu masalahmu?”

Bus berbelok ke kanan dari sebuah pertigaan. Menyalip satu dua motor. Melintasi tiga buah polisi tidur. Sebelum akhirnya tiba di halte.

Pintu bus terbuka. Mengeluarkan suara yang terdengar seperti desisan ular. Si Baju Ungu dan Merah Muda keluar dari bus, lalu berjalan meninggalkan halte. Merah Muda menengok arlojinya, tepat pukul 22.00.

“Dengar, aku bukanlah Dewi Ayu, yang sukses berkarir di dunia pelacuran, dan aku tidak mungkin jadi dia.” Si Baju Ungu membuka kembali pembicaraan.

“Benar. Kau bisa bernafas, sedangkan Dewi Ayu hanyalah tokoh rekaan Eka Kurniawan.”

“Bukan itu maksudku. Bagaimana aku …..”

“Ssst…. Kita hampir sampai. Kasihan pelanggan yang menunggu. Paling tidak kau sudah jadi kunang-kunang di kota ini.”

Ahmad Yasin

Check Also

Itulah Alasan Mengapa Kau Harus Hidup

Jerman, 17 Agustus 2017 Kau terjaga, menatap ke luar jendela. Matamu menatap pohon pinus kurus …