Home » Opini » Sir Alex Ferguson dan Absolutisme

Sir Alex Ferguson dan Absolutisme

Sir Alex Ferguson bukanlah nama yang asing di telinga pencinta sepakbola. Bahkan ia terlalu familiar, lantaran begitu sering disebut-sebut selama masa kejayaannya bersama Manchester United (MU). Sudah 49 trofi juara ia koleksi selama 39 tahun ia melatih. Banyak orang telah mengakui, entah dengan perasaan cinta atau benci atas pencapaiannya yang gemilang ketika masih aktif melatih.

Tanggal 31 Desember 2016 bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke 75. Separuh lebih usianya digunakan untuk menjadi pelatih. Berbagai prestasi yang diraih Ferguson memang merupakan buah dari tangan dinginnya. Ferguson meramu setiap klubnya menjadi besar bukan hanya dengan kecerdikannya mengatur strategi, melainkan melalui proses panjang yang melibatkan banyak hal. Salah satunya dimulai dengan kepemimpinan yang memegang kendali atas pemain-pemainnya.

Dalam autobiografinya, Ferguson menulis, “Ketika manajer kehilangan otoritasnya, tidak ada lagi yang namanya klub. Para pemain akan mulai mengatur dan itu bermasalah.” Diakuinya sendiri, pusat wewenang di Manchester United adalah kantor manajer. Ferguson menciptakan suatu kondisi yang membuat pemain-pemainnya tunduk. Ia menggunakan pengaruhnya untuk mengendalikan pemain agar sesuai keinginannya. Dengan kata lain, setiap arahan yang diberikan pada pemain mau tidak mau harus dituruti. Keputusan ada di tangan pelatih, karena kedudukan pelatih lebih tinggi dari pemain.

Ferguson memanfaatkan kekuasaannya atas siapapun, tanpa pandang bulu. Perseteruannya dengan David Beckham kiranya adalah satu dari sekian kasus yang pernah dialami Ferguson dengan pemainnya sendiri. Insiden sepatu melayang yang ditendang Ferguson dan mengenai pelipis Beckham hingga robek sebenarnya adalah puncak dari akumulasi kekesalannya pada pemain tersebut.

Ferguson memandang Beckham tidak dapat melepaskan aspek selebritasnya akibat statusnya sebagai pemain bintang. Ia berpendapat, seorang pemain seharusnya tetap fokus dengan urusannya di lapangan hijau, dan mengalihkan perhatian kamera. Apalagi jika hal-hal di luar sepakbola memengaruhi performa pemain di atas lapangan.

Pernah Ferguson memergoki awak pers yang berjajar di sepanjang jalan menuju tempat latihan MU. Saat ditanya, mereka hanya ingin mengetahui perkembangan potongan rambut baru Beckham. Pada titik inilah Ferguson menganggap Beckham telah ditelan oleh agen-agen selebritas. Beckham juga selalu berkilah tiap kali permainannya menuai kritik, khususnya pada tahun-tahun terkahirnya berseragam MU. Baginya, apa yang dilakukannya di lapangan sudah benar, setidaknya menurut penilaiannya sendiri. Inilah yang membuat Ferguson merasa Beckham harus angkat kaki dari Old Trafford, kandang MU.

Absolutisme Ferguson

Untuk menegaskan kekuasaan memang perlu diiringi dengan tindakan. Suatu tindakan diambil untuk menunjukkan keberadaan sang penguasa. Penguasa tunggal dapat melakukan apapun karena seluruh wewenang ada di tangannya. Untuk urusan sepakbola, Ferguson adalah penguasa tunggal di MU.

Berbicara mengenai penguasa tunggal, sebenarnya dapat merembet ke pengertian dari absolutisme itu sendiri. Absolutisme merupakan jenis kekuasaan yang mengutamakan adanya penguasa tunggal untuk mewujudkan kekuasaan mutlak.

Absolutisme sudah berkembang di Eropa sejak masa feodal sekitar abad 16. Waktu itu dikenal sistem hierarki yang menempatkan pemilik tanah berada di tingkat paling atas, kemudian diikuti militer, baru petani di posisi terendah. Tanggungjawab petani pada tuan tanah sangat besar karena dialah yang menggarap tanah itu.

Absolutisme semakin menemukan bentuknya ketika di Inggris, James I naik tahta menggantikan Elizabeth sebagai raja di tanah Britania. Absolutisme ini dikenal monarki absolut, sebab jabatan raja diangkat berdasarkan garis keturunan maupun kerabat yang sedarah, dengan masa jabatan tidak terbatas.

Kendati dalam pemerintahan James I terdapat parlemen yang mengawasi, tapi mereka tidak banyak berkutik. Seluruh anggotanya pun ditentukan oleh raja. Bahkan raja berhak membubarkan parlemen jika tidak sejalan dengannya, karena saat itu belum ada aturan parlemen tidak dapat dibubarkan.

Pada prakteknya absolutisme memang terkesan membungkam suara-suara penentangnya. Otoritas hanya dimiliki oleh raja. Namun, absolutisme memiliki keuntungan, yaitu tercipta stabilitas dan jarang ada keributan. Konsekuensinya memang suka tidak suka harus menaruh kepercayaan pada sang penguasa. Akan tetapi, jika dibandingkan dengan demokrasi, di mana sistem ini bersifat terbuka, kondisi suatu negara sering distabilitas karena banyak pihak yang merasa memiliki kepentingan untuk diperjuangkan.

Masa Ferguson di MU boleh jadi era kekuasaan absolut. Sebelumnya, absolutisme Ferguson memang terlihat sejak ia memulai karir kepelatihannya. Ferguson melakukan serangkaian tindakan untuk menegaskan kekuasaan kepada pemain. Ia menunjukkan siapa dirinya dan meyakinkan untuk tidak sembarangan berhadapan dengannya.

Ketika memanajeri St Mirren, klub divisi utama Skotlandia, Ferguson menegur salah seorang pemain terkait foto bersama tim di Paisley Express, sebuah surat kabar lokal.
Penyebabnya, pemain tersebut yang juga kapten tim mengacungkan dua jari di belakang Ferguson. Ia menilai bahwa kelakuan tersebut mirip anak sekolah dan menunjukkan betapa pemain itu belum dewasa. Ia mengancam akan mencari kapten lain.

Ferguson tidak menerima alasan pemainnya atas kesalahan yang sudah jelas ia lakukan. Ia selalu punya catatan untuk setiap pemainnya. Catatan-catatan tersebut menjadi pertimbangannya untuk mengambil keputusan. Ferguson melakukan itu bukan tanpa sebab, melainkan dipicu oleh serangkaian pelanggaran indisipliner para pemain. Ferguson hanya berusaha untuk membuat tim lebih tertata. Rasa tanggungjawab selalu ditekanakan untuk pemainnya.

Dengan kekuasaan yang dimiliki manajer, nasib pemain jadi tidak pasti. Pemain selalu punya hasrat bermain tinggi, tapi di sini ada manajer yang mempunyai wewenang mengontrolnya. Seorang pemain tidak dapat memastikan ia akan bermain setiap pekan. Besarnya hasrat bermain itu disadari oleh Ferguson. Dalam beberapa kasus, pemain kerap mengemis minta bermain, sekalipun sudah diskor akibat perilaku yang kurang disiplin.

Frank McGarvey, salah satu pemainnya di St Mirren, harus menerima kenyataan pahit lantaran ketahuan mabuk sehari sebelum pertandingan final dalam suatu kejuaraan lokal. Meskipun Frank bermain di final dan St Mirren kalah, ia tak dapat menghindari hukuman larangan bermain dari Ferguson karena tingkah polahnya ketahuan setelah seseorang melaporkannya. Frank kemudian memohon-mohon untuk dimainkan lagi.

Dalam kekuasaan yang absolut, di mana tidak semua orang bisa bergerak dan bersuara, kadang muncul tantangan yang terpercik melalui perlawanan-pelawanan secara langsung maupun tidak langsung. Hal ini wajar lantaran banyak pihak merasa disatukan oleh satu tujuan, yaitu mematahkan dominasi seorang penguasa.

Ferguson mengakui jika tantangan itu kerap menggoyahkan kepemimpinannya. Kadang ada satu dua pemain yang telah mencuri hati banyak orang menggunakan pengaruhnya untuk mengintervensi. Apalagi jika klub itu merupakan sarang pemain bintang. Biasanya mereka menjadi pelopor apapun untuk bersikap pada apa saja, entah terkait metode latihan, kelayakan fasilitas, atau ambisi tim mengejar gelar.

Ferguson tidak mengingkari betapa kehadiran pemain semacam itu amat membantu semangat tim. Tipe pemain tersebut dapat menegakkan kehendak manajer dan klub. Namun, ia takkan tinggal diam kalau tindakannya menimbulkan gesekan-gesekan. Roy Keane dikenal sebagai pemain tengah hebat dan paling berpengaruh di ruang ganti MU. Sayangnya, banyak tindakan Roy Keane yang kelewatan, bahkan sampai berkonflik dengan kawannya sendiri.

Besarnya pengaruh Keane membuat Gary Neville mengutarakan pada Ferguson tentang ketidaksenangan pemain dengan sesi latihan yang dipimpin Carlos Queiroz, asisten manajer Fergie. Kata Ferguson, “Kalian suruh saya ke sini untuk mengeluh soal latihan? Jangan macam-macam ya! … Memangnya kalian pikir bicara dengan siapa?” Ferguson memang sangat percaya dengan Carlos dan ia tak senang bila ada yang tidak setuju dengan kepanjangan tangannya.

Selama di MU, Roy Keane sudah menjelma pahlawan bagi suporter dan klub. Perilakunya bisa membuat seseorang menganggukan kepala tanda setuju. Serangannya terhadap pemain-pemain muda MU yang dianggapnya lemah sewaktu wawancara bersama MUTV berhasil memengaruhi suporter. Serangan itu, yang menyasar Darren Fletcher dan pemain muda lain, mendorong suporter MU sendiri untuk menyoraki mereka di suatu pertandingan. Tindakan Roy Keane itu cukup bagi Ferguson mengambil satu keputusan untuk mendepaknya.

“Saya dapat menggunakan kekuasaan saya kalau saya memang menginginkannya, dan saya pernah melakukannya, tetapi dengan menduduki jabatan di MU, kekuasaan itu secara alamiah datang sendiri.” (Autobiografi Saya, hlm. 148). Sebagaimana sudah ditulis di awal, Ferguson sebenarnya menganggap bahwa kekuasaan yang dimilikinya hanya perkara soal kendali. Kendali amat penting bagi Ferguson untuk membawa timnya berjalan ke jalur yang benar. Terbukti, masa baktinya selama 27 tahun di United telah menuai berbagai prestasi bergengsi.

Masa jabatan yang panjang tersebut juga menjadi kelebihan Ferguson menanamkan nilai-nilainya pada MU. Sampai muncul anekdot yang menyatakan bahwa Manchester United adalah Ferguson, dan Ferguson adalah Manchester United. MU dan Ferguson tak dapat dipisahkan, bagaikan telah menjadi satu jiwa. Menjadi manunggal.

Era absolut United tampaknya akan berlanjut ketika tongkat estafet diserahkan kepada David Moyes, pria yang masih se-tanah air dengan Ferguson, yaitu Skotlandia. Moyes disiapkan untuk jangka panjang karena gaya kepemimpinannya mempunyai kemiripan dengan Ferguson. Tak tanggung-tanggung, ia dikontrak 6 tahun.

Namun, jauh panggang dari api, ia gagal memenuhi ekspektasi dan hanya sanggup bertahan di United selama 10 bulan. Dengan demikian, era absolutisme di United berakhir. Sejak Ferguson pensiun tiga tahun lalu, United sudah berganti pelatih sebanyak tiga kali dan mengalami masa gelap dengan terpuruk di liga maupun kompetisi Eropa. Happy Birthday, Sir!

 

Ahmad Yasin

Check Also

Choirul Huda dalam Pelukan dan Hati Masyarakat Lamongan

Pemain Semen Padang FC (SPFC), Vendry Mofu menerima umpan lambung tepat di kotak penalti Persela, …