Home » Opini » Wayne Rooney, Scouser yang Berjaya di Tanah Manchester

Wayne Rooney, Scouser yang Berjaya di Tanah Manchester

Dok. SkySports.com

Menit 90+4, gol tendangan bebas Wayne Rooney bersarang ke gawang Stoke City. Tidak ada perayaan berlebihan. Rooney justru menyuruh rekan-rekannya untuk mengambil bola karena Manchester United (MU) saat itu baru menyamakan kedudukan 1-1.

Malam itu, Sabtu (21/1) adalah hari di mana Rooney menorehkan gol ke-250 bagi Manchester United sekaligus menjadi top skor sepanjang masa klub. Torehan tersebut memecahkan rekor gol milik Sir Bobby Charlton sebanyak 249 yang bertahan selama 40 tahun.

Pencapaian ini tentu membanggakan. Apalagi Rooney “hanya” butuh 546 pertandingan bersama MU untuk menjadi pencetak gol terbanyak klub ketimbang Bobby Charlton yang membutuhkan 758 penampilan selama berseragam MU kurun 1956-1976. Sebelumnya 2015 Rooney juga mengukuhkan dirinya sebagai top skor sepanjang masa timnas Inggris setelah melampaui torehan 49 gol dari orang yang sama.

Kendati demikian, MU tetap tak mampu meraup tiga poin pada dua laga terakhir yang selalu berakhir imbang. Lagi-lagi hasil ini diperoleh setelah tertinggal lebih dulu sejak babak pertama. MU beruntung mampu mencetak gol penyama kedudukan melawan Stoke City ketika umur pertandingan tinggal satu menit. Hasil ini memperpanjang capaian tak pernah kalah dalam 17 laga United di semua kompetisi. Kini mereka masih tak beranjak dari urutan 6 klasemen Liga Inggris dengan koleksi 41 poin.

Di luar pencapaian Rooney tersebut, ada satu hal yang akan sulit dilupakan dari sosoknya: kenyataan bahwa ia adalah Scouser, sebutan bagi orang yang berasal dari Merseyseid atau Liverpool.

Barangkali identitas tersebut tidak akan dibahas dalam tulisan ini seandainya ia adalah orang London. Namun, menjadi unik tatkala Rooney sebagai Scouser berhasil mencatatkan sejarah di klub Manchester.

Sudah menjadi rahasia umum di Inggris bahwa Scouser dan Mancunian (sebutan orang Manchester) ibarat dua kutub yang berlawanan. Mereka akan saling menolak ketika coba disatukan. Hal ini tak lepas dari sejarah Liverpool sebagai kota pelabuhan dan Manchester kota industri.

Adalah pembangunan kanal di kota Manchester pada 1887 yang memicu rivalitas mereka. Kanal tersebut menjadi akses keluar-masuk barang ke Manchester yang sebelumnya melalui pelabuhan Liverpool. Akibatnya pendapatan kota Liverpool menurun yang selama ini mengandalkan pemasukan hasil distribusi barang dari dan ke pelabuhan.

Sejak saat itulah muncul sentimen antara orang-orang di kedua kota tersebut. Sentimen yang awalnya dipicu motif ekonomi akhirnya meluber ke berbagai aspek, tak terkecuali ranah sepak bola, di mana itu ditunjukkan dari persaingan klasik Manchester United dan Liverpool FC.

Rooney sesungguhnya adalah produk akademi Everton, klub sekota Liverpool. Akan tetapi keberadaan Rooney yang terus berkembang hingga dipercaya sebagai kapten MU lama-lama sedikit mengherankan. Seorang Scouser berjaya di Manchester. Sesuatu yang sulit dibayangkan dalam sejarah rivalitas Scouser dan Mancunian. Bahkan kini menggoreskan sejarah baru sebagai top skor sepanjang masa di klub Manchester.

Maklum, sebagai klub Manchester, MU sebetulnya punya tradisi alami mendorong Mancunian masuk di tim utama dan setidaknya menjadi organ terpenting di tubuh tim. Contoh paling nyata Class of 92. Mereka produk akademi MU dan asli Manchester.

Identitas sebagai Mancunian tersebut penting dirawat karena, seperti kata Mike Phelan mantan asisten pelatih MU, keberadaan Mancunian adalah identitas bagi MU. Di zaman ketika makin banyak pemain impor di Liga Inggris, mereka seolah mewakili semangat kedaerahan dan simbol lokalitas yang patut dijaga agar identitas klub tidak hilang.

Maka ketika MU akhirnya dipegang oleh seorang putra kota pelabuhan, gengsi Mancunian dengan Scouser seolah melunak. Ketradisionalan MU seakan luntur. Sehingga sampai menjadi olok-olok Liverpudlian yang menganggap mancunian sebetulnya ingin menjadi Scouser.

Pernah ada satu masa di mana MU benar-benar tak diperkuat Mancunian, yakni ketika Danny Welbeck, satu-satunya mancunian yang tersisa di MU dijual ke Arsenal pada 2014. Beruntung setelah itu lahir Mancunian-mancunian baru yang tak kalah menjanjikan, seperti Tyler Blackett, Cameron Borthwick Jackson, dan Marcus Rashford. Nama terakhir menjadi andalan MU hingga saat ini.

Akan tetapi, di luar rivalitas Scouser dan Mancunian, Rooney tetaplah orang yang keluar sebagai pemenang. Sambil menerima gaji 4,3 miliar rupiah per pekan, ia bisa terus berprestasi dan namanya akan tetap disebut untuk waktu lama.

Perolehan 250 gol Wayne Rooney itu diakui oleh salah satu Scouser yang juga legenda Liverpool, Jamie Carragher, sebagai pencapaian yang lebih baik ketimbang scouser lain.

Carras tidak berlebihan karena nama-nama beken seperti Robbi Fowler dan Steven Gerrard berada di bawah Rooney dalam urusan koleksi gol. Fowler mengemas 183 gol sementara Gerrard 159 gol. Kedua orang itu mempersembahkan gol-golnya bagi klub kota tercinta mereka, Liverpool, sementara Rooney untuk klub rival. Yang menjadi nilai plus bagi Rooney karena ia juga meraih banyak gelar bergengsi bersama MU. Salah satunya mencicipi 5 gelar juara Liga Inggris, gelar yang tak pernah diraih oleh dua legenda Liverpool itu.

Once A Blue, Always A Red

Sejarah baru yang diukir Rooney untuk MU rasanya makin ironis ketika mengingat kembali masa mudanya yang dipupuk semangat scouser di Everton. Bagaimanapun nama Rooney sebagai pemain pertama kali harum di klub tersebut. Ia adalah pembenci Liverpool, rival sekota Everton, dan tampaknya akan terus bersinar sebagai bintang masa depan.

Mulanya rasa cinta Rooney pada Everton ditunjukkan ketika ia merayakan golnya dengan menunjukkan sebaris kalimat “Once A Blue Always A Blue” yang tertulis pada kaos dalamnya di laga final FA Youth Cup. Namun dua tahun berselang, pada musim panas 2004, Rooney berlabuh ke Manchester dan berseragam MU.

Kepindahan tersebut langsung membuat rusak hubungan Rooney dengan suporter Everton. Ia dicap pengkhianat. Melepas seragam birunya Everton agar bisa mengenakan seragam merah MU.

Penggemar Liverpool bahkan memelesetkan kata-kata Rooney di atas dan menggubahnya menjadi nyanyian.

“He wore a t-shirt, he wore always a blue. But now he’s fucked off, and gone to Man U.”

Mantan bintang Everton itu akhirnya bersinar, namun sinarnya merah. Secara prestasi maupun finansial, MU jelas di atas Everton. Everton bahkan terakhir kali juara Liga Inggris pada musim 1986/87.

Dengan menjadi top skor sepanjang masa klub, ia benar-benar hanya sekali menjadi biru dan bukan tak mungkin akan menjadi merah selamanya. Kelak orang-orang akan mengenang legenda Manchester United dalam urusan gol adalah seorang Scouser. Tentu saja selama rekor Rooney belum terlampaui.

Ahmad Yasin

Check Also

Pemilwa dan Perburuan Massa

Sesaat lagi kita akan merayakan pesta tahunan organisasi mahasiswa (ormawa): pemilihan ketua dan wakil ketua …