Home » Opini » Memotret Che Guevara

Memotret Che Guevara

Fotografi tidak melulu soal estetis-tidaknya sebuah foto. Terlebih apabila foto tersebut dipandang dari berbagai angle. Nilai sebuah foto tidak akan selesai jika hanya diperdebatkan dengan konsep oposisi biner—indah atau jelek. Foto adalah persoalan bagaimana sebuah pesan dapat tersampaikan kepada khalayak ramai.

Hari itu, 4 Maret 1960, adalah hari berkabung, tepat dimakamkannya korban pengeboman La Coubre. Sehari setelah peristiwa nahas itu, ketika Che Guevara dan Alberto Korda berada dalam satu garis linier, tanpa sengaja dua foto berhasil tertangkap kamera Leica M2. Gambar Che Guevara berhasil terpotret secara vertikal dan horizontal di dalam sebuah gulungan roll film. Tepat seper sekian detik sebelum sang revolusioner itu turun dari mimbarnya.

Foto itu memvisualkan Che Guevara yang sedang berorasi di Pemakaman Colon, Havana. Guratan wajah Che Guevara yang mengandung amarah dan kepiluan mendalam dapat ditangkap oleh lensa kamera. Alberto Korda, si empunya foto, adalah fotografer fesyen yang banting setir menjadi jurnalis foto. Dialah fotografer yang telah berjasa mengabadikan foto Che Guevara menjadi tren ikonik anak muda di abad 20an. Tidak banyak orang tahu riwayat Alberto Korda. Potret fotonya lebih dikenang dibanding si pemotret.

Perkenalannya dengan Kamera

Lahir pada 14 September 1928 di Havana, Kuba, Alberto Korda adalah anak dari pegawai kereta api. Korda memilih untuk terjun ke dunia fotografi. Perkenalannya dengan dunia fotografi dimulai ketika remaja, Korda menjadi seorang asisten fotografer. Beberapa kali ia kerap memotret berbagai perjamuan, pernikahan, bahkan pembaptisan. Kemampuan mengaplikasikan berbagai teknik kamera dia peroleh dengan berguru kepada sang fotografer, Luis Pierce.

Pada 1953, Korda mantap mendirikan sebuah studio fotonya sendiri. Korda Studio, nama studio pertama yang didirikannya. Bahkan boleh dibilang foto yang dihasilkannya berbeda dengan hasil jepretan fotografer lain. Hal tersebut dikarenakan Korda selalu mengambil detail objek dari angle yang berbeda.

Obsesinya akan foto didorong oleh dua sebab. Hasrat dunia, dan yang lainnya adalah wanita. Kedua hal tersebutlah yang mendorongnya untuk mempelajari dunia fotografi. Sebagai kawula muda, Korda selalu berharap bahwa dengan foto, dia akan mampu menjumpai banyak wanita cantik. Apalagi di awal kariernya, ketika menjalankan Korda Studio, foto fesyen dan iklan menjadi fokusnya.

Ternyata harapannya berujung hoki. Dia menikahi seorang model berkelas, wanita cantik asal Kuba, Natalia Menendez. Bahkan karena obsesinya terhadap wanita dan fesyen, dia menahbiskan dirinya sebagai fotografer fesyen pertama di Kuba.

Kemudian, kehidupannya bergulir setelah mendapati kontradiksi sosial yang ada di Kuba. Korda melihat potret kemiskinan dan penderitaan di sekelilingnya. Hal tersebutlah yang mendorong Korda akhirnya bergabung ke kubu sayap Fidel Castro. Bahkan Korda menjadi fotografer pribadi Fidel selama hampir 10 tahun. Setelah itu, Korda mendedikasikan foto-fotonya untuk revolusi. Dia ingin menunjukkan kepada dunia bagaimana fotonya mampu memviralkan nilai-nilai yang dianut oleh Fidel.

Guevara dan Simbol Budaya

Guerrillero Heroico adalah bukti bahwa foto dapat dijadikan sebuah alat untuk melakukan regenerasi budaya. Foto itu mampu menjadi medium yang ampuh sebagai penyalur nilai. Bagaimana tidak, foto itu, di akhir abad 20an, menjadi lambang penolakan terhadap ketidakadilan dan penindasan; simbol revolusi dan perlawanan. Nilai yang selalu dipegang oleh sang Revolusioner Kuba sampai akhir hidupnya, sebelum dieksekusi oleh pemerintah Bolivia.

Regenerasi budaya lewat medium foto Guerrillero Heroico adalah hal yang dilakukan Korda. Penyampaian pesan secara visual secara mendalam membuat kesan tersendiri. Nilai-nilai maupun semangat hidup Che Guevara, sang pahlawan lintas bangsa, mampu hadir dalam foto ikonik itu. Menyiratkan bahwa makna hidup adalah sebuah perlawanan. Jika ditilik lebih mendalam, gurat wajah sang El Che itulah pesan yang coba disampaikan. Sebuah ekspresi jiwa yang diteruskan lewat medium foto hasil bidikan Korda.

Di titik itu penyampaian sikap individu Korda sangat terlihat. Hasil dari pemilihan angle dan penentuan kesempatan yang pas. Kedua komponen itu mampu dikomposisikan menjadi sebuah artefak kebudayaan. Bagaimana sebuah proses kebudayaan yang terabadikan kedalam medium visual.

Di titik itu pula penentuan sikap sang fotografer menunjukkan hasil jepretannya. Hanya akan menghasilkan foto abal-abal tanpa pemaknaan mendalam, ataukah menghasilkan foto yang memiliki kedalaman dan kedekatan makna. Guerrillero Heroico adalah sikap Korda yang mampu menafsirkan dan menyampaikan makna intim yang ditunjukkan oleh El Che. Ekspresi kemarahan berpadu dengan kepiluan menyayat yang terpancar.

Kemudian, lewat foto, Korda melempar wacana yang diproduksi oleh tempaan berbagai peristiwa kontradiksi empirisnya. Bagaimana kemiskinan terjadi. Bagaimana kesenjangan sosial sangat tampak disekitarnya. Bagaimana sebuah revolusi adalah jalan satu-satunya untuk terlepas dari semua itu. Lewat Guerrillero Heroico, Korda memvisualkan apa yang ada dalam hati dan pikirannya. Lewat foto itu pula, Korda menggambarkan realitas tragis yang pernah dia alami.

Guerrillero Heroico merupakan wacana Korda yang diproduksi dalam sebuah artefak visual. Wacana tentang potret realitas sosial Kuba dan nilai sebuah perlawanan terhadap ketidakadilan. Tampaknya, Korda berhasil menyampaikan pesan dari potret seorang El Che.

Dalam tataran pragmatis, Guerrillero Heroico berhasil menyebarkan nilai yang ada di dalamnya. Foto itu mampu menggerakkan massa lewat sebuah produk kebudayaan. Guerrillero Heroico adalah karya monumental yang berimplikasi besar dalam tataran kebudayaan manusia.

Ahmad Wijayanto

Check Also

Pemilwa dan Perburuan Massa

Sesaat lagi kita akan merayakan pesta tahunan organisasi mahasiswa (ormawa): pemilihan ketua dan wakil ketua …