Home » Opini » Bobotoh Persib dan Cinta yang Luar Biasa

Bobotoh Persib dan Cinta yang Luar Biasa

Kira-kira apa jadinya sepak bola tanpa kehadiran suporter? Sudah pasti sepak bola akan terasa hambar. Tidak ada gerombolan manusia yang menghiasi tribune dengan koreografinya dan bersorak dengan chant-nya ketika pertandingan berlangsung. Panitia pertandingan bakal gigit jari karena tidak ada tiket yang terjual. Atau yang lebih dramatis, mereka tidak mau menggelar pertandingan karena dinilai percuma¾tidak laku. Media massa juga tak memiliki ladang berita harian bola maupun sisi lain yang menarik dari sepak bola¾kericuhan suporter misalnya. Intinya, sepak bola menjadi cabang olahraga yang biasa-biasa saja, tidak memiliki daya tarik sama sekali.

Namun, semua hanyalah bayangan semata. Bayangan itu selamanya akan terisolasi dalam pikiran. Mustahil menjadi kenyataan. Sebab, realitas menunjukkan sesuatu yang berlawanan. Sejak zaman ora penak sampai saat ini, eksistensi sepak bola masih terus dibersamai eksistensi suporternya.

Tidak terbantahkan! Dunia sepak bola memang tidak bisa lepas dari dunia suporter. Jika sepak bola dianalogikan sebagai jasad, maka suporter adalah roh yang menghidupkan. Suporter hadir dalam dunianya sendiri dan turut berperan  dalam mempertahankan eksistensi olahraga paling populer ini. Suporter beranggapan bahwa sepak bola lebih dari sekadar olahraga. Baginya, sepak bola adalah apa-apa yang melibatkan hati. Bahkan, sepak bola dianggap sebagai agama, bagi mereka yang “sesat”.

Statement tersebut berlaku bagi setiap negara di berbagai penjuru dunia yang mengenal sepak bola, tidak terkecuali Indonesia. Buktinya, banyak suporter fanatik yang hadir dan menyemarakkan dunia persepakbolaan tanah air. Misalnya Bobotoh, suporter Persib Bandung yang diyakini sebagai salah satu kelompok suporter terbesar di Indonesia.

Tidak hanya memiliki jumlah yang besar dan menyebar di berbagai wilayah, Bobotoh juga memiliki rasa cinta yang luar biasa¾untuk Persib yang sangat mereka cintai dan mereka banggakan. Rasa cinta itu bisa dilihat lewat laga-laga Persib yang tidak pernah berlalu begitu saja tanpa kehadiran mereka. Bahkan ketika Persib harus melakoni laga tandang sekalipun. Sejauh apapun, dengan penuh rasa cinta, mereka tetap setia mengawal. Sementara bagi Bobotoh layar kaca, yaitu mereka yang tidak bisa hadir di tribune karena jarak tidak memungkinkan, rasa cinta itu diluapkan lewat acara nonton bareng (nobar).

Bukti yang menunjukkan besarnya cinta Bobotoh untuk Persib adalah kelapangan dada mereka ketika dihadapkan pada kenyataan pahit, yaitu Persib puasa gelar selama hampir dua dekade. Sebab selama hampir dua dekade itu pula Bobotoh tetap ada, tetap eksis di tribune, dan tetap mau bernyanyi untuk Persib. Meskipun bentuk protes juga turut mereka suarakan. Seperti spanduk bertuliskan “Kami Rindu Juara” yang dibentangkan sekelompok Bobotoh saat Persib melakoni laga melawan Persija di Stadionn Siliwangi pada 3 Maret 2013 silam.

Baru-baru ini Bobotoh kembali meluapkan rasa cinta mereka yang mungkin dinilai berlebihan¾bagi mereka yang tidak paham. Setelah Persib lolos ke babak 8 besar Piala Presiden 2017, mereka cepat-cepat melakukan persiapan. Apalagi venue laga perempat final itu diputuskan untuk digelar di Stadion Manahan Solo pada 25-26 Februari kemarin. Hasilnya,  tagar #Solokeun dan #ModalSolo berhamburan di twitter.

Tagar #Solokeun bisa diartikan sebagai kesiapan maupun ajakan untuk awayday ke Solo. Sementara #ModalSolo merupakan tagar yang diperuntukkan bagi Bobotoh yang ingin mencari modal awayday ke Solo dengan menjual barang-barang mereka. Ada yang menjual kaos, kamera, kemeja, sepatu, jersey, ponsel, printer, dll. Umumnya barang yang mereka jual untuk #ModalSolo adalah barang second.

Sebelumnya Bobotoh pernah melakukan hal serupa. Antara lain ketika Persib harus melakoni laga final Piala Presiden 2015 di Stadion Gelora Bung Karno. Demi awayday ke Jakarta, tagar #ModalFinal pun menghambur di twitter. Ini sama seperti ketika Persib melaju ke babak final Liga Super Indonesia (LSI) 2014 dan harus berlaga di Stadion Jakabaring Palembang. Saat itu tagar #ModalFinal menjadi trending topic di media sosial berlambang burung itu. #ModalFinal Palembang pun menyisakan cerita bahagia. Ya, Persib kembali meraih gelar juara setelah berpuasa hampir 20 tahun.

Pengorbanan Bobotoh untuk awayday  tidak hanya sampai pada tagar #ModalFinal maupun #ModalSolo saja. Bentuk pengorbanan lainnya, antara lain mangkir dari bekerja, sekolah, kuliah, dan aktivitas lainnya. Hal yang dinilai sangat irasional bagi mereka yang tidak memiliki rasa cinta sedikit pun terhadap Persib. Sementara bagi Bobotoh, pengorbanan semacam itu dianggap tidaklah seberapa. Apapun akan dilakukan Bobotoh demi Persib. Sebab seperti yang dikatakan Endan Suhendra dalam buku Persib Juara, “Bagi Bobotoh, Persib adalah segalanya. Persib sudah mendarah daging dan menjadi sejarah hidup yang akan didukung sampai kapanpun.”

Dengan demikian, beragam ungkapan fanatisme Bobotoh seperti “Persib Aing”, “Persib  Sampai Mati”, “Kabogoh Aing Persib”, “Persib Selalu di Hati”, “Persib Forever”, “Persib Atau Mati”, “Persib Salawasna”, dan bermacam ungkapan lainnya dipastikan bukanlah bualan semata. Semuanya adalah luapan cinta yang bergelora di dada.

Bobotoh mencintai Persib dan hanya Tuhan yang mampu membuatnya berhenti.

 

Riri Rahayuningsih

Check Also

Pemilwa dan Perburuan Massa

Sesaat lagi kita akan merayakan pesta tahunan organisasi mahasiswa (ormawa): pemilihan ketua dan wakil ketua …