Home » Opini » Dangdut: Kian Populer, Kian Miskin Makna

Dangdut: Kian Populer, Kian Miskin Makna

mediadangdut.com

Malam itu, tiga tahun lalu, alun-alun Pemda Gunungkidul penuh sesak dengan manusia. Ribuan orang berkumpul untuk berjoget. Semua turut ambil bagian, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga kakek-nenek. Asli dari Kota Pete Sidoarjo, panggil sama-sama … Sumber Wulu bergoyang, Sumber Wulu bergetar! S E R A … seraaaa, Viaaaa Valen, masih bersama panjenengan semuanya!” teriak MC dengan suara khasnya pertanda pesta rakyat tersebut dimulai. Via dengan suaranya yang serak-serak basah kemudian menyanyikan beberapa lagu. Tak pandang usia, semua penonton ikut berjoget.

Jauh sebelum menjadi populer seperti saat ini, dahulu dangdut hanya disukai oleh kaum menengah kebawah. Menurut Moh. Muttaqin dalam Jurnal Pengetahuan dan Pemikiran Seni Volume VII Nomor 2 Tahun 2006, awal mulanya dangdut adalah istilah yang digunakan oleh masyarakat lapisan atas untuk menghina musik melayu. Adalah Billy Chung yang memperkenalkan istilah tersebut, seorang penyanyi dan gitaris dari Bandung yang kondang pada medio 1960-an.

Memasuki Orde Baru, investor asing bebas masuk ke Indonesia. Kebijakan ini turut memengaruhi industri musik dalam negeri. Ciri khas musik Barat terasa sangat kental di Indonesia. Keadaan ini membuat musik dangdut meredup dan mulai terancam eksistensinya. Beruntung muncul sosok Oma Irama dengan lagu Ke Binaria yang berhasil mempopulerkan kembali musik dangdut. Saat itu, lagu Ke Binaria dinyanyikan bersama Elvy Sukaesih pada 1968.

Oma Irama juga aktif membuat film musikal dengan musik dangdutnya. Konsistensinya dalam berkarya membuat Oma Irama mendapatkan julukan sebagai Raja Dangdut. Pria yang mengganti namanya menjadi Rhoma Irama setelah pergi ke Mekah tersebut hingga saat ini masih eksis bersama OM Soneta.

Pada akhirnya, musik dangdut mengalami evolusi dan pecah menjadi berbagai macam aliran dengan ciri khas masing-masing. Sebut saja OM Tarantula yang dimotori oleh Reynold Panggabean, yang dibentuk pada 1980. Grup musik ini memadukan musik timur tengah dengan musik rok. Kemudian, pada tahun 1990 muncul aliran dangdut disko. Kedua aliran musik dangdut tersebut masih bertahan dan terus berkembang.

Lain dulu, lain sekarang. OM Sera dan OM Sagita adalah grup musik dangdut yang santer terdengar akhir-akhir ini. Musik dangdut mereka bawakan dengan nuansa khas dangdut Jawa Timur yang kental dengan tabuhan kendang. Keduanya memiliki penggemar yang tidak sedikit. OM Sera dengan Seramania, sedangkan OM Sagita dengan Sagitamania. Jika OM Sera pernah memiliki Via Valen dengan suara serak basahnya, maka OM Sagita punya Wiwik dengan suara nakalnya.

Cita Citata, Melinda, dan Jupe merupakan artis dangdut yang memilih bersolo karir. Ketiganya beraliran dangdut disko kekinian. Goyang Dumang, Hamil Duluan, dan Belah Duren merupakan beberapa dari karya mereka yang tak asing di telinga kita. Ada juga dangdut pantura dengan penyanyi yang tampil bersama ular dan akhirnya berkasus heboh karena penyanyi tersebut tewas terpatok ular kobranya sendiri.

Jika kurang lebih tiga puluh tahun lalu dangdut dijadikan istilah untuk menghina musik melayu, tidak untuk saat ini. Mampir di rumah makan, musik dangdut diputar. Pulang kerja naik bus, musik dangdut yang diputar. Ke kelab malam, musik dangdut juga diputar. Di televisi ada lomba dangdut. Di acara 17-an ada konser dangdut. Dimana-mana ada dangdut. Dangdut begitu hidup.

 

Degradasi Lirik

Tak hanya aliran musik yang mengalami perubahan, ternyata lirik dalam lagu dangdut juga turut berubah dari waktu ke waktu. Pemilihan diksi pada lagu dangdut zaman dahulu sangat diperhatikan. Umumnya lirik lagu dangdut zaman dahulu menyampaikan pesan-pesan moral sedangkan lagu dangdut zaman sekarang lebih mengutamakan musik daripada lirik. Padahal keduanya sama-sama penting. Mari kita ambil contoh lirik lagu “Cinta Satu Malam” yang pernah dipopulerkan oleh Melinda.

 

Walau cinta kita sementara

Aku merasa bahagia

Kalau kau kecup mesra di keningku

Ku rasa bagai disurga

 

Sampai disini masih terdengar “Ah biasa saja”, tetapi ketika masuk ke refrain dari lagu tersebut, maka penelaahan kita akan berubah.

 

Cinta satu malam oh indahnya

Cinta satu malam buatku melayang

Walau satu malam akan selalu ku kenang dalam hidupku

 

Pada bagian refrain tersebut, Melinda seakan mengabarkan kepada pendengar, bahwa cinta satu malam atau kerap dikenal dengan istilah one night stand adalah sesuatu yang menyenangkan. Padahal bila ditinjau dari berbagai sudut pandang ilmu, cinta satu malam adalah sesuatu yang sangat merugikan. Banyak orang yang melakukan cinta satu malam dan, pada akhirnya mengalami kehamilan. Belum lagi jika orang yang melakukan cinta satu malam, masing-masing sudah mempunyai pasangan, mereka pasti bakal sengsara dunia akhirat.

Lanjut ke lirik setelah refrain:

 

Sentuhanmu membuatku terlena

Aku telah terbuai mesra

Yang kurasa hangat indahnya cinta

Hasratku kian membara

 

Pada lirik tersebut, saya kira Melinda mulai menceritakan hasratnya yang sangat besar ketika melakukan cinta satu malam. Dia berhasil memperdayai atau malah diperdayai lelaki sialan. Kita bisa menyimpulkan: lagu ini mengajarkan kepada kita bahwa tidak ada pelajaran yang bisa diambil dari lirik lagu ini.

Dari beberapa hal yang telah dibahas di atas, tidak adil rasanya jika kita menghakimi lirik lagu dangdut kekinian tanpa membahas lirik lagu dangdut zaman dahulu. Maka mari kita bandingkan dengan salah satu lagu Begadang yang mulai dipopulerkan oleh Raja Dangdut pada 1973.

 

Begadang jangan begadang, kalau tiada artinya

Begadang boleh saja, kalau ada perlunya.

Kalau terlalu banyak begadang, muka pucat karena darah berkurang

Kalau sering kena angina malam, segala penyakit akan mudah datang

Darilah itu sayangi badan, jangan begadang setiap malam.

 

Pemilihan diksi pada lagu tersebut sederhana, tetapi lugas dan penuh makna. Si Raja Dangdut memberikan pesan pada kita agar tidak banyak begadang. Hal ini selaras dengan yang diajarkan dalam ilmu kesehatan bahwa terlalu banyak begadang menimbulkan berbagai macam permasalahan bagi tubuh kita. Kesimpulannya: jangan banyak begadang!

Andrew Weintraub dari Universitas Pittsburg, Amerika Serikat, dalam bukunya Dangdut: Musik, Identitas, dan Budaya Indonesia menuliskan bahwa Rhoma Irama menjadikan dangdut sebagai wahana gagasan tentang moral dan politik rakyat. Artinya, dangdut merupakan media menyampaikan pesan kepada rakyat. Tentunya pesan positif yang harus disampaikan.

Pada akhirnya dangdut adalah sebuah budaya yang harus dilestarikan. Oleh sebab itu marilah kita kritis terhadap lirik-lirik yang disajikan. Pemerhatian lirik tersebut juga supaya budaya yang kita lestarikan mempunyai nilai-nilai yang positif sehingga turut menyumbang dalam terbentuknya generasi Indonesia yang cerdas.

Rofi Ali Majid

Check Also

Komune Sebagai Budaya-Tanding: Memungkinkan Ketidakmungkinan

Oleh Laksmi A. Savitri (Dosen antropologi UGM) La comuna o nada (the commune or nothing) …