Home » Margin » Tionghoa Miskin Kota

Tionghoa Miskin Kota

Ba Heng Ki tengah menunggu lapaknya. Ia menjual tas yang terbuat dari karung goni. Foto oleh Imam/EKSPRESI.

Stereotip berlimpah harta senantiasa menempel pada orang Tionghoa. Padahal, tidak sedikit dari mereka yang hidup jauh dari berkecukupan di pinggiran kota.

Rumah sederhana bercat hijau dengan lantai tanah berukuran 6×3 meter persegi itu penuh sesak dihuni oleh keluarga Heng Ki (84 tahun). Ia orang keturunan Tionghoa yang bermukim di kampung Pajeksan RT 40 RW 11, Sosromenduran, Yogyakarta. Heng Ki tinggal bersama anak keduanya dan juga cucunya.

Di dalam rumah sederhana itu tak ada pembatas ruangan, selain sehelai kain tipis. Ada dapur dan kamar mandi di belakang. Terdapat dua kasur tipis tempat mereka tidur. Satu di depan televisi dan satunya lagi di ruang tamu. Itulah perabot milik Heng Ki dan anaknya, Septi Andajani (43 tahun).

Pria yang lahir di Yogyakarta, 31 Desember 1932, itu mempunyai marga Tan. Nama lengkapnya Tan Heng Ki dan kerap disapa Ba Heng Ki. Sedangkan nama Indonesianya ialah Suhartono. Septi sendiri memiliki nama Tionghoa Tan Me Wa. Ba Heng Ki mempunyai tiga anak hasil dari perkawinannya dengan seorang wanita asal Sleman. Septi adalah anak kedua dari tiga anak perempuannya. Ba Heng Ki tak ingat perihal jumlah cucu yang telah dimilikinya. “Banyak, lupa saya,” katanya terbata-bata. Pada 2004, istrinya berpulang ke hadapan Tuhan. Ketika itu Septi mengandung anak ketiga.

Ba Heng Ki merupakan salah satu potret dari ratusan warga Tionghoa miskin di kawasan perkampungan padat di balik gemerlapnya Malioboro. Kemiskinan, derita, dan kepapaan tergambar di daerah sekitar Pajeksan, Ketandan, dan Dagen. Bekerja serabutan, mulai dari melakukan pekerjaan kasar hingga menjadi penjual kopi keliling adalah usaha yang harus mereka jalani.

Segendang sepenarian, Joko Lelono (56 tahun), Ketua RW 4 Ketandan, juga menceritakan bagaimana banyak warga keturunan Tionghoa di wilayah Ketandan yang berjualan intip—kerak nasi—ataupun bakwan di pinggir jalan. Karena tidak memiliki dapur, mereka menggoreng intip dan bakwan di pinggir jalan yang juga menjadi tempat berjualan.

Pantang Menyerah

Meski didera kemiskinan, Ba Heng Ki pantang menyerah pada kerasnya kehidupan. Setiap harinya, Ba Heng Ki berangkat berdagang sejak pukul 7.30 pagi dan pulang pukul 5.00 sore. Ba Heng Ki mudah ditemui di pintu selatan pasar Beringharjo. “Alhamdulillah, ada yang mau kasih tempat di sini, walaupun cuma ngemper (teras),” ungkapnya.

Ada dua macam barang yang Ba Heng Ki perjualbelikan, yakni sarung bantal yang berbahan kain dan tas berbahan plastik. Sarung bantal ia jual dengan harga Rp20 ribu per satuannya, sedangkan tas plastik dijual dengan harga Rp5 ribu. “Terkadang, ada yang menawar hingga setengah harga, ya saya lepas, terpenting bisa makan untuk hari ini,” katanya dengan suara parau.

Barang-barang yang dijual Ba Heng Ki pada awalnya merupakan titipan orang yang berangsur diborong oleh Ba Heng Ki dengan sistem mencicil. “Barang dagangan ini titipan orang, saya enggak mengerti asalnya dari mana,” ujar Ba Heng Ki, yang sudah sejak 1970-an berjualan tas karung goni di Pasar Beringharjo.

Senin siang (17/10), terlihat dagangannya masih sepi pembeli. Ba Heng Ki berujar bahwa sudah sejak pagi belum ada satu orang pun yang mampir ke lapaknya. Perihal pendapatan, Ba Heng Ki terkadang hanya mendapat Rp20 ribu sampai Rp50 ribu per minggunya. Suatu kali, pernah ada yang membeli hingga 100 buah. Banyak pengunjung Beringharjo yang membeli barang dagangannya maupun sekadar memberi bantuan berupa bingkisan. “Kalau lagi ramai-ramainya bisa sampai Rp150 ribu per minggunya,” jelas Ba Heng Ki.

Ba Heng Ki harus sangat berhemat. Ia hanya berbekal sebungkus nasi putih dan sebotol air mineral, cukup dua kali makan setiap hari. Dulu, sebelum menderita kanker prostat, setiap harinya Ba Heng Ki membawa 250 buah tas maupun sarung bantal. Barang itu dibawanya menggunakan troli kecil yang ditarik dari rumahnya. Tiap pagi dan sore, suara roda troli kecil selalu terdengar oleh warga kampung Pajeksan. Salah satu warga itu Sri Mulatsih (68 tahun), warga asli Pajeksan. “Dulu itu, kalau ada suara ngrek ngrek melewati rumah saya, pasti itu suara trolinya Ba Heng Ki,” katanya terkekeh.

Mengenai Ba Heng Ki, Septi berujar bahwa babanya memang seorang sosok pekerja keras yang rajin, teliti, dan tak bisa berdiam diri di rumah. Ketika di rumah, kesibukan Ba Heng Ki ialah bertanam di halaman depan rumah hingga menyapu jalan kampung dari ujung utara hingga ujung selatan. “Bah Hengki itu sregep,” kata Septi tegas.

Pascaoperasi kanker prostat, banyak orang yang menyarankannya berhenti bekerja. Namun, Ba Heng Ki menolaknya dengan keras. “Kalau enggak kerja, bisa sakit dan pikiran malah stres. Ya, mau tidak mau harus terus bekerja biar enggak pusing,” kata Ba Heng Ki sambil terkekeh dengan beberapa giginya yang masih tersisa. Kini tiap hari ia diantar dan dijemput oleh Septi.

Septi pun tiap hari bekerja keras membiayai ketiga anaknya. Anaknya paling tua berumur 21 tahun, yang kedua masih SMA berusia 16 tahun, dan paling muda 13 tahun. Septi sudah menjadi tulang punggung keluarga sejak suaminya meninggal. Menjadi tukang masak dan katering makanan adalah pilihan Septi.

Di balik kemiskinan dan kepapaan orang Tionghoa, Sri Mulatsih berujar bahwa etos kerja orang Tionghoa yang perlu diapresiasi dan ditiru. Bekerja keras dan berhemat adalah kunci kesuksesan orang Tionghoa berdagang. “Dulu, pernah saya kenal orang Tionghoa yang sangat berhemat dan hidup sederhana. Sehari ia makan hanya sekali,” ucapnya.

Imlek dan Diskriminasi Terstruktur

Ba Heng Ki tak pernah mengadakan perayaan Imlek di rumahnya. Sering kali, ia menikmati Imlek dengan berkumpul ke salah satu rumah anak atau keluarga besar anak iparnya. Jangankan bicara soal perayaan Imlek, dapat menyambung hidup saja merupakan hal yang mereka syukuri.

Septi mengungkapkan, sudah enam tahun ini tak merayakan Imlek. Terakhir kali ia merayakannya dengan berkumpul bersama keluarga besar suaminya. “Sudah lama, ya, kumpul-kumpul gitu sama keluarga besar, bagi-bagi angpau,” jelasnya ketika ditemui di rumahnya pada Selasa (18/10).

Sejatinya, kata Septi, makna tahun baru Imlek ialah ritual dan reuni keluarga. Silaturahmi, mengucap selamat tahun baru kepada orang tua, leluhur, dan sanak keluarga yang lebih tua kini tinggal kenangan. Kemiskinan membuat Septi tak bisa menikmati tradisi leluhurnya tersebut.

Menurut Sri Mulatsih, jika ingin perayaan Imlek yang sejati, datanglah ke permukiman masyarakat Tionghoa miskin. Di sana perayaan Imlek sangat orisinal serta menyentuh perasaan. Dalam kesederhanaan dan kemiskinan itulah mereka akan “menikmati” malam pergantian tahun dalam sistem penanggalan Tionghoa.

Abdurrahman Wahid, presiden keempat Indonesia, pernah berkata bahwa esensi Imlek adalah kebersamaan sebagai anak bangsa dan pemerataan dalam kesejahteraan. Menurut Septi, di Yogyakarta belum ada kebersamaan pengakuan sebagai anak bangsa. Ia beralasan, masih ada diskriminasi yang dilakukan secara terstruktur dan tersistem bagi orang Tionghoa di Yogyakarta.

“Walaupun di kampung saya ini baik-baik saja, saya mendengar banyak cerita bahwa di Yogyakarta ini orang Tionghoa tidak bisa beli tanah. Jadinya, mereka pun harus pinjam nama saudaranya yang pribumi (Jawa, Red.),” jelasnya. Ini lantaran Yogyakarta menerapkan pembatasan pemilikan tanah bagi warga yang dianggap nonpribumi melalui Instruksi Kepala Daerah tahun 1975.

Sebagai masyarakat biasa, Sri Mulatsih sebenarnya merasa bahwa instruksi tersebut awalnya memang bertujuan baik, untuk menyelamatkan perekonomian warga asli Yogyakarta. “Dulu itu maksudnya baik, tapi seiring waktu, ya, sudah ambyar. Tak memandang ras, hari ini siapa yang perekonomiannya kuat malah semakin kuat, yang perekonomiannya lemah semakin lemah. Kesejahteraan yang merata yang harus digalakkan oleh pemerintah Yogyakarta,” ucap Sri Mulatsih.[]

Arfrian Rahmanta

Laporan oleh Ana dan Rimba

Tulisan ini kali pertama tayang di majalah EKSPRESI Diskriminasi Rasial Pertanahan Yogya.

Check Also

Dilema Kuliah Sabtu PTSP

Terdampak proyek Islamic Development Bank (IDB), Pendidikan Teknik Sipil dan Perencanaan (PTSP) kuliah Senin sampai …