Home » Opini » Mereka yang Menolak Mati

Mereka yang Menolak Mati

Ilustrasi oleh Andhika/EKSPRESI.

Oleh Aunurrahman Wibisono

(Jurnalis Tirto.id)

“When you start thinking about what your life was like 10 years ago –and not in general terms, but in highly specific details– it’s disturbing to realize how certain elements of your being are completely dead. They die long before you do.”

(Chuck Klosterman dalam Killing Yourself to Live: 85% of a True Story)

Beberapa waktu lalu istri saya memberi kado yang menyenangkan. Beberapa buku Chuck Klosterman, salah satu penulis favorit saya. Saya jatuh cinta dengan Chuck berkat esai-esainya (atau bisa dibilang racauan) tentang hair metal. Saya merasa satu frekuensi dengannya: menyukai musik fosil (kau bisa menyebut ciri-cirinya, antara lain, mengandalkan solo gitar panjang dan suara vokalis yang melengking tinggi) di era yang sok serba aneh. Semakin musikmu tak bisa dipahami orang kebanyakan, maka itu berarti keren.

Salah satu buku yang dibawa istri saya adalah buku dengan judul yang saya kutip di awal tulisan. Kisahnya ya … khas Chuck. Banyak meracau. Banyak nostalgia. Namun tetap mengundang tawa, sekaligus bikin garuk kepala. Tak perlu kau percaya sepenuhnya. Sebab, kadar kebenaran dalam buku itu hanya 85 persen.

Membaca kalimat yang saya nukil di atas, ingatan saya mau tak mau lari ke kaset. Bahkan hingga lima tahun lalu saya masih suka berburu kaset bekas. Apalagi ingatan yang lebih lampau. Saat itu 2006. Saya baru setahun lulus SMA. Masih bermimpi jadi anak band. Masih berkeinginan jadi penulis untuk Rolling Stone. Saya mendengarkan musik seperti tak ada hari esok. Gairah mengoleksi kaset masih menggebu. Setiap datang ke suatu kota, yang saya tanyakan adalah: di mana saya bisa mencari kaset bekas?

Siapa yang menyangka bahwa bertahun kemudian, kaset seperti sudah menjadi diksi sekaligus benda yang hampir asing bagi saya. Seperti kata Chuck, “…tidak pernah terjadi lagi dan tidak pernah melintas di pikiranmu.” Dalam konteks saya, sudah tak ada lagi perburuan kaset, tak ada lagi memutar pita dengan bolpoin, membaca liner notes, atau menetesi bantalan pita dengan alkohol. Kaset kemudian menjadi catatan kaki: ada, tapi kerap diabaikan.

Saya meringis. Betapa sesuatu bisa dirayakan besar-besaran hari ini, lalu dilupakan lima, enam, sepuluh tahun kemudian.

Saya tak sendiri. Mereka yang seumuran dengan saya pun mungkin sebagian besar sudah mulai meninggalkan koleksi rekaman fisik, baik kaset atau CD. Gantinya mereka beralih ke format digital. Bisa menyimpan dalam format MP3 atau FLAC di ponsel. Bisa pula streaming pada aplikasi musik seperti Spotify, misalnya.

Bagi generasi milenial, kaset dan CD adalah bentuk ketidakefektifan umat manusia. Ia memakan banyak tempat. Juga menuntut banyak waktu untuk perawatan. Bagi mereka, musik digital menyediakan jalan efektif. Mereka bisa mendengarkan jutaan lagu, benar-benar jutaan lagu, yang sama sekali tak memakan ruang penyimpanan. Spotify punya sekitar 30 juta lagu. Dan, bertambah 20.000 lagu setiap harinya.

Anggap saja satu lagu mempunyai durasi 3 menit. Ini artinya durasi total lagu yang dipunyai Spotify mencapai 90 juta menit. Jika satu tahun terdiri dari 525.600 menit, butuh 171 tahun untuk selesai mendengarkan seluruh lagu Spotify. Intinya, koleksi lagu Spotify jauh lebih panjang ketimbang umurmu. Dan, mereka tak perlu rak besar.

Penjualan musik digital sekarang melampaui penjualan rilisan fisik. Dari data terbaru International Federation of the Phonographic Industry (IFPI), sebuah lembaga yang bergerak di bidang industri rekaman dunia, penjualan musik digital mencapai 45 persen dari seluruh pendapatan industri musik. Mengalahkan penjualan fisik yang hanya 39 persen.

Rasa-rasanya sudah hukum alam ketika ada sesuatu yang baru dan inovatif, maka kemapanan lama akan tersingkir. Pelan tapi pasti. Punk rock menggusur heavy metal dan rock n roll. Hair metal mendepak punk dan musik dansa. Grunge menghajar hair metal. Dan seterusnya. Telepon rumah digusur wartel. Ponsel menggusur wartel. Ponsel pintar menggusur ponsel biasa. Demikianlah seterusnya.

Piringan hitam digusur kaset. Kaset digusur CD. Musik digital menendang semua rilisan fisik. Namun, apa iya manusia semudah itu melupakan rilisan fisik? Ternyata tidak.

Manusia adalah mahluk nostalgis. Apa yang mengiringinya tumbuh dewasa akan selalu tetap diingat. Akan selalu menjadi bagian penting. Ada jutaan manusia, termasuk saya dan mungkin juga kalian, yang tumbuh besar dengan mendengarkan musik dari rilisan fisik. Entah itu kaset, entah itu CD, atau malah piringan hitam. Kegiatan mendengarkan musik dari rilisan fisik akan tetap terus kita kenang, malah dilestarikan.

Setelah musik digital ada, apa kemudian rilisan fisik mati? Tidak, kan?

Rilisan fisik masih dirayakan di mana-mana, walau mungkin dalam skala yang lebih kecil. Di Amerika Serikat, sejak 2009, ada peningkatan 260 persen penjualan piringan hitam. Pada 2014, ada 9,2 juta piringan hitam yang terjual di negara Paman Sam itu.

Setiap tahun ada gelaran Record Store Day yang diadakan di puluhan negara, termasuk di Indonesia. Di satu hari istimewa itu (selalu pada bulan April), para pencinta rilisan fisik tumpek blek. Mereka merayakan keasyikan berburu rilisan fisik. Tak hanya jual atau beli, kadang juga ada barter.

Selain itu, masih amat banyak grup musik yang merilis album fisik. Menariknya lagi, banyak grup musik bawah tanah Indonesia merilis album mereka dengan kemasan yang tidak biasa. Sangkakala, grup musik asal Yogyakarta, merilis album penuh pertama mereka dengan kemasan jaket jeans berwarna merah, lengkap dengan berbagai emblem yang terpasang. Zoo, juga asal Yogyakarta, malah merilis album Prasasti dengan kemasan batu granit seberat 1,7 kilogram. Selain itu, Mocca, Suri, hingga Tika and the Dissidents, juga pernah merilis album dengan kemasan unik. Membuat rilisan fisik dengan kemasan unik adalah salah satu jurus agar rilisan fisik tetap dicari pendengar.

Rilisan fisik menolak untuk mati. Ini kembali mengingatkan saya saat hair metal mulai ditinggalkan di awal era 90-an. Saat itu grup-grup musik seperti Motley Crue, Quiet Riot, Skid Row, Ratt, Tora-Tora, Bang Tango, juga WASP, hanya laku di acara-acara musik kecil. Bahkan beberapa personel grup musik terkenal itu mau bermain di acara Fair, sekelas pasar malam kalau di Indonesia, supaya bisa bertahan hidup. Namun, toh, kita masih mendengar mereka sekarang. Guns N Roses reuni. Motley Crue mengadakan tur keliling dunia—walau sekarang sudah memutuskan untuk bubar. Tesla masih rutin keliling Amerika Serikat. Ratt bikin album baru, minus Robbin Crosby, tentu.

Saya pribadi menjadikan musik digital menjadi referensi untuk membeli rilisan fisik. Jika saya merasa cocok dengan album tertentu, saya akan membeli album fisiknya. Sebaliknya, jika sebuah grup musik mendapat puja puji tapi ternyata karyanya medioker belaka, saya lebih memilih untuk menyimpan uang saya untuk membeli rilisan lain yang lebih bagus.

Rilisan fisik sama seperti hair metal. Keras kepala dan punya banyak nyawa, juga banyak penggemar yang enggan untuk beranjak. Dengan karakteristik seperti ini, mungkin sepuluh tahun lagi, atau bahkan lima puluh tahun lagi, rilisan fisik masih ada. Dan, mengutip Motley Crue, still kick some ass.

Tulisan ini kali pertama tayang di majalah EKSPRESI Diskriminasi Rasial Pertanahan Yogya.

Check Also

Komune Sebagai Budaya-Tanding: Memungkinkan Ketidakmungkinan

Oleh Laksmi A. Savitri (Dosen antropologi UGM) La comuna o nada (the commune or nothing) …