Home » Margin » Penyelamat Arsip Musik Indonesia

Penyelamat Arsip Musik Indonesia

Foto oleh Ghoza/EKSPRESI.

David Tarigan adalah pendiri Aksara Records, juga salah satu inisiator pengarsipan digital rilisan fisik piringan hitam Irama Nusantara. Bersama kelima kawannya, Norman Illyas, Christophorus Priyonugroho, Dian Onno, Alvin Yunata, dan Toma Avianda, kemudian mereka mendirikan Iramanusantara.org yang oleh khalayak dikenal perpustakaan musik daring. Berawal dari kecintaannya terhadap musik, sekaligus hobi mengoleksi piringan hitam dari era Orde Lama, menjadikan setiap proses dalam Irama Nusantara terasa menyenangkan bagi David.

Wartawan EKSPRESI, Winna Wijayanti, menemuinya di Hotel Andhitama, kawasan Prawirotaman II, Yogyakarta. Berikut petikannya.

Bagaimana ceritanya Anda bersama kawan-kawan menciptakan Irama Nusantara?

Irama Nusantara merupakan yayasan yang berdiri tahun 2013. Tetapi kalau membuat situs webnya sejak tahun 2011. Embrionya sudah dari 1998-1999 sewaktu zaman kuliah. Kami kebetulan sama-sama teman SMA terus kuliah di Bandung, nah pas itu kita sempat membuatnya. Malahan bisa disebut prototipenya tahun 1998-1999 itu, karena kami juga bikin situs web namanya Indonesia Jumawa.

Bagaimana pembagian kerja sewaktu mengolah?

Bagi enam inisiator ya apa saja yang bisa dikerjakan. Saya kepala pengarsipannya sama riset, ada yang urus public relation, cuma enggak saklek. Ada lagi kita volunter tiga orang. Satu berurusan sama audio, dan transfer. Satunya lagi mengurus visual, kover yang terlalu rusak dibenahi. Lalu yang satu lagi general affair. Mereka itu volunter utama kita. Sementara inisiator juga punya kesibukan lain, karena juga pada kerja.

Apa ada fokus tersendiri buat memilih batasan waktu dalam pengarsipan?

Iya fokus kami tahun 1960 hingga 1970-an karena lebih mudah dicari dan ketersediaannya juga banyak tahun itu. Dibanding 1980 hingga 1990-an kan mending itu dulu. Urgensinya, orang banyak yang enggak tahu soal itu, makanya kami mulai dari situ. Kami juga punya gerakan 78, maksudnya 78 rpm (rotation per minute). Dan untuk pendataan musik tahun 1920 hingga 1950-an juga ada nantinya. Meskipun susah, kami mengerjakannya didukung sama Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) supaya mudah dapat sumbernya.

Selain piringan hitam, apa ada lagi yang diarsipkan terkait dengan musik?

Literatur seperti majalah dan koran juga kami arsipkan, cuma belum dibagikan sih. Itu nanti ada waktunya. Soalnya sekarang sedang membenahi situs web mau dikembangkan dengan artikel-artikel juga. Kan di situ ada nama-nama artisnya, nanti kalau diklik langsung ngelink gitu. Makanya kami enggak mencantumkan tahun kalau memang dari awal enggak ada tahunnya.

Kalau proses reproduksi dari rilisan fisik sampai digital bagaimana ceritanya?

Ada bidang-bidang khusus yang bisa saya teliti. Pertama adalah mengumpulkan data mentah sebanyak-banyaknya. Paling gampang dan menarik ya mengumpulkan data dari rilisan fisik. Unsur rilisan fisik itu kan ada visual, audio, dan teks. Itu semua data mentah yang dikumpulkan di Irama Nusantara. Melalui situs web, kami bagi ke banyak orang. Ini untuk akses pendidikan, bukan komersial.

Apa yang sedang menjadi kesibukan Irama Nusantara dalam waktu dekat ini?

Sekarang sedikit demi sedikit saya mengumpulkan wawancara. Nanti dari situ juga membantu orang-orang yang ingin terhibur dan nostalgia. Juga anak muda yang ingin sesuatu yang baru, meski sudah lama. Atau para peneliti, kita berusaha mengakomodir itu. Sementara di wilayah pendidikan, kita sama-sama tahu banyak yang suka musik Indonesia. Sehingga kami memfasilitasi melalui data.

Menarik bahwa dalam pengarsipan ini tujuan utamanya adalah untuk pendidikan.

Di Indonesia pengarsipan nomor sekian. Kita enggak punya tradisi itu sama sekali. Arsip sejarah general negeri ini kacau balau. Coba datang saja ke Arsip Nasional atau ke Perpustakaan Negara kita sendiri, miris. Dan yang gilanya, orang Indonesia yang tahu lagu-lagu masa lalu cuma 10% dari yang ada. Ini kalau kita lihat, orang gembar-gembor kalau musik Indonesia adalah tuan rumah di negerinya, tetapi enggak ada yang tahu apa yang terjadi dengan kondisi musiknya, lucu kan? Berarti harus ada sesuatu yang dibenahi, membantu untuk menggulirkan bola atau apapun istilahnya.[]

Tulisan ini kali pertama tayang di majalah EKSPRESI Diskriminasi Rasial Pertanahan Yogya.

Check Also

Dilema Kuliah Sabtu PTSP

Terdampak proyek Islamic Development Bank (IDB), Pendidikan Teknik Sipil dan Perencanaan (PTSP) kuliah Senin sampai …