Home » Sastra » Cerpen » Panut

Panut

exploregram.com

Waktu itu matahari tampak telah condong ke arah barat. Seperti biasanya saat jam pulang sekolah, gerbang depan SMA Nusantara tampak ramai. Tak jauh dari situ tiba-tiba terdengar suara yang memecah suasana.

“Brrrrng, brrrrrng.”

Suara tersebut berasal dari sebuah sepeda motor yang dikendarai oleh dua siswa SLTA lain. Mereka berkendara melewati jalan di depan SMA Nusantara.

“Woih, woih, gegembel woih!” teriak seorang siswa yang duduk bergerombol di depan SMA Nusantara.

“Woih, mau lari kemana lu!” teriak siswa lain dari satu gerombolan yang sama.

Seketika beberapa siswa dari gerombolan tersebut bubar menghampiri sepeda motor masing-masing yang diparkir tidak jauh dari situ. Mereka langsung tancap gas mengejar sepeda motor yang lewat depan sekolah mereka tadi. Tapi sayangnya, motor yang mereka kejar rupanya dikendarai dengan sangat gesit. Akhirnya target mereka pun lolos.

Hampir setiap hari di depan SMA Nusantara memang terdapat sekumpulan siswa laki-laki yang nongkrong. Di situ mereka bercengkrama, bersenda gurau, bermain musik, dan juga merokok. Mereka adalah sekumpulan siswa SMA Nusantara yang tergabung ke dalam sebuah geng pelajar bernama “Gendrowolo”. Gendrowolo merupakan geng pelajar yang cukup disegani oleh geng pelajar lain di kota Nusakarta. Namun musuh bebuyutan mereka adalah geng “Gegembel”. Gegembel merupakan geng pelajar dari SMA Semesta.

Gendrowolo mempunyai pemimpin yang biasa disebut “bos” bernama Dendi. Dendi merupakan siswa kelas XII SMA Nusantara. Ia anak seorang kepala daerah di mana SMA tersebut berada. Ia disegani kawan-kawannya karena kaya dan sangat hedon. Tapi dari sekian anggota geng Gendrowolo, terdapat seorang yang sering disebut kawan-kawannya dengan sebutan “Cemong”. Dia adalah Panut. Panut adalah teman seangkatan Dendi. Dia disegani kawan-kawannya bahkan musuh-musuhnya karena ia jago berkelahi. Panut adalah anak dari keluarga yang sederhana. Setiap hari ibunya berjualan nasi pecel dari pagi sampai sore di dekat rumah mereka. Sedangkan ayahnya telah tiada.

***

“Tok tok tok,” terdengar suara ketukan pintu dari luar rumah.

Seorang wanita berumur 50-an tahun pun segera bangkit dari kasurnya. Wanita tersebut adalah Bu Rosmah, ibunya Panut. Dia pun segera menuju pintu depan dan membukanya.

“Ya Allah, Le, jam 3 begini kok baru pulang, kamu dari mana saja?” ucap Bu Rosmah sesaat setelah membukakan pintu untuk anaknya. Panut pun langsung masuk ke rumah tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

“Kamu emangnya enggak kasihan sama ibuk? Ibuk nggak bisa tidur karena khawatir Le.” Lanjut Bu Rosmah. Dengan wajah cuek. Panut pun masih tidak berkata-kata dan langsung bergegas menuju kamarnya. Setelah masuk kamar ia pun langsung menutup dan mengunci pintu. Bu Rosmah pun berdiri di depan kamar Panut.

“Dengerin, Le, kita itu cuma orang enggak punya, jadi kamu enggak usah aneh-aneh ikut geng-gengan dan tawuran segala, kalau ada kenapa-kenapa Ibuk enggak bisa berbuat apa-apa, Le.” Ucap Bu Rosmah di depan kamar Panut yang pintunya telah terkunci. Dari dalam kamar tidak terdengar apa-apa.

“Dengerin nasehat Ibuk, ya, Le. Ya sudah sekarang tidur dulu,” ucap Bu Rosmah sembari beranjak dari depan kamar Panut.

***

Siang itu tampak seperti biasanya. Sekumpulan siswa SMA Nusantara duduk-duduk di depan sekolah mereka. Rupanya mereka sedang membicarakan strategi untuk menjebak anak Gegembel.

“Elu semua dengerin gua. Gua dapet informasi dari mata-mata kalo gegembel siang ini mau ngeprovokasi kita lagi. Ntar kalo ada anak gegembel lewat pokoknya langsung kita sikat sampe habis. Belagu banget mereka sama kita,” Kata Dendi di depan kawan-kawannya.

“Ntar lu, Jurig, jaga di ujung jalan sana. Kalo Gegembel udah masuk jalan sini lu langsung SMS gua,” ucap Dendi kepada temannya, Aka, yang mendapat julukan “Jurig”.

“Siap bos!” jawab Aka.

“Terus, lu semua tetep nongkrong jaga disini biar keliatan kayak biasanya. Ntar gua sama Cemong sembunyi di dalem gang sana. Jadi kalo gegembel masuk, ntar gua sama Cemong yang beresin.” Ucap Dendi lagi di depan kawan-kawannya.

“Emangnya lu berdua kagak takut penjara?” tanya Nungki.

“Ah, itu mah urusan gampang, lu kayak kagak kenal aja sama bos kita,” Panut menjawab.

Panut memang sangat percaya dengan Dendi. Karena sejak awal ia bergabung ke dalam geng, Dendi selalu menghormatinya. Panut selalu merasa Dendi adalah kawan yang setia dan selalu akrab dengannya. Tetapi sayangnya Panut tidak tahu kalau Dendi hanya memanfaatkannya. Panut tidak tahu bahwa Dendi hanya menganggap dirinya sebagai aset berharga bagi geng karena kemampuannya dalam berkelahi.

“Bener, pokoknya lu semua lakuin aja apa yang gua bilang tadi, oke?” tutup Dendi.

“Joss!” teman-temannya menjawab serentak.

Strategi mereka pun mulai dijalankan. Mereka bersiap-siap di posisi yang telah mereka rencanakan. Benar saja yang dikatakan Dendi. Dari ujung jalan Aka melihat dua anak Gegembel yang berboncengan motor berbelok memasuki jalan dimana SMA Nusantara berada. Aka pun segera mengirim pesan kepada Dendi yang bersembunyi dengan Panut di sebuah gang di dekat ujung jalan yang berlawanan. Seperti biasanya, anak Gegembel pun melewati tempat nongkrong geng Gendrowolo dan memprovokasi dengan cara membunyi-bumyikan knalpot motor.

“Brrrrrnng, brrrrrngg ….”

“Woih, sialan lu!” sekumpulan anak Gendrowolo yang berjaga di tempat nongkrong bereaksi seperti biasanya.

Setelah itu, kedua anak Gegembel tersebut langsung tancap gas melarikan diri. Tiba-tiba di dekat ujung jalan, keluarlah sebuah sepeda motor dari sebuah gang yang terletak di dekat ujung jalan. Sepeda motor yang dikendarai oleh Dendi dan Panut itu langsung menabrak motor anak Gegembel. Kedua anak Gegembel itu pun langsung terjatuh dari motornya. Akhirnya mereka pun terlibat perkelahian. Tetapi karena kemampuan berkelahi Panut, akhirnya kedua anak gegembel itu pun terpojok.

Untungnya di dekat situ ada dua orang satpam penjaga toko di sekitar situ yang melerai perkelahian mereka. Akhirnya para satpam tersebut mengamankan Dendi dan Panut. Sementara para warga yang berada di sekitar situ melarikan kedua anak Gegembel tersebut ke rumah sakit karena menderita luka-luka.

***

Beberapa hari setelah kejadian tersebut, keluarga dari anak Gegembel yang menjadi korban pun melaporkan kasus tersebut ke pihak kepolisian sebagai kasus penganiayaan. Udin salah satu korban ternyata adalah anak seorang politikus yang memiliki jabatan cukup tinggi di partainya. Ayahnya tersebut sangat tidak terima dengan hal tersebut dan melaporkan Dendi dan Panut ke pihak yang berwajib agar perbuatannya diusut secara tuntas.

Setelah itu, proses persidangan pun berjalan selama berbulan-bulan. Hingga akhirnya hakim memutuskan untuk mendakwa Panut dengan hukuman tiga bulan penjara karena terbukti melakukan tindakan penganiayaan. Tapi yang mengejutkan, Dendi dinyatakan bebas karena keluarga Udin membatalkan aduan untuk Dendi. Rupanya ayah Dendi meminta keluarga Udin untuk membatalkan aduan untuk Dendi. Ayah Dendi sendiri merupakan senior dari ayah Udin di partai politiknya. Setelah terbebas, Dendi pun dipindahkan keluarganya ke Australia untuk menghindari hal tersebut terulang kembali.

Sementara itu, Panut harus meringkuk di tahanan seorang diri. Kawan yang selama ini ia percayai ternyata tidak melakukan apa-apa untuk dirinya. Kawan yang selama ini ia percayai mungkin sekarang sedang tertawa lega karena telah terbebas dari ancaman hukum.

***

Pada suatu hari Ibu Rosmah menjenguk putranya di dalam tahanan. Melihat wajah Panut, seketika ia langsung menghampiri putranya sekaligus menangis tak henti-henti.

“Hiks, sudah Ibuk bilang, kan, Le. Tapi kamu enggak pernah mau nurut sama Ibuk,” ucap Bu Rosmah.

Mendengar ucapan ibunya, Panut hanya terdiam seperti biasanya.

Rizka Pranandari

Check Also

Kerinduan Anakmu, Sayang

  Wajahmu memang tak asing, sayang. Ketika paku menjatuhkan runcingnya untukmu, sebuah pilihan. Yang terjadi …