Home » Resensi » Film » Pink: Inferioritas dalam Panduan Keselamatan Perempuan

Pink: Inferioritas dalam Panduan Keselamatan Perempuan

dok.istimewa

Panduan keselamatan perempuan:

  1. Seorang perempuan seharusnya tak pernah bersama seorang pria seorang diri. Tidak untuk ke penginapan maupun ke toilet. Jika mereka melakukannya, maka mereka sudah bersedia untuk diperlakukan dengan tidak pantas (1:10:49).

  2. Perempuan tidak boleh mengobrol dengan pria sambil tersenyum ataupun menyentuhnya karena akan dianggap sebagai “kode” (1:16:45).

  3. Jam kerja menentukan karakter seseorang. Saat perempuan berjalan sendiri di malam hari, maka mereka akan begitu diperhatikan (1:18: 40).

  4. Jangan pernah ada perempuan yang “minum” dengan pria. Sebab, jika itu terjadi, maka akan diartikan sebagai: kau mau tidur denganku (1: 44: 25).

Keempat poin “Panduan Keselamatan Perempuan” tersebut diujarkan oleh Deepak Sehgal, kuasa hukum Minal Arora (Taapsee Pannu), atas kasus antara Minal dan Rajveel Singh (Angad Bedi) dalam film berjudul Pink. Bukan tanpa alasan kenapa kemudian tokoh yang diperankan oleh Amitabh Bachchan tersebut menelurkan empat poin di atas. Hal tersebut dikarenakan jaksa penuntut seakan mengintimidasi kliennya—Minal—dan dua saksi lainnya— Falak Ali (Kirti Kulhari), dan Andrea (Andrea Tariang)—dengan hal-hal yang begitu bias jender. Bahkan, saksi yang dihadirkan jaksa penuntut menyebutkan bahwa tiga perempuan tersebut adalah seorang pelacur karena selalu diantar oleh pria setiap malam.

Pink dibuka dengan keadaan chaos antara pihak Minal dkk. dan Rajveer dkk. Minal dan kedua temannya terburu-buru pulang ke rumah dengan kepanikan dan ketakutan yang tergambar jelas pada ketiganya. Sedangkan di lain sisi, Rajveer dilarikan ke rumah sakit oleh dua temannya dalam keadaan pelipis dan mata kanannya terluka parah. Luka tersebutlah yang kemudian membawa Minal ke meja hijau.

Rajveer kemudian memperadilkan Minal dengan tuduhan pada pasal 320, 324, dan 307 atas pemerasan, kasus asusila, dan percobaan pembunuhan. Kemudian, pihak Minal menudingkan pelanggaran pasal 354, 503, 506, dan 340 atas kasus pelecehan terhadap perempuan, intimidasi, dan penyekapan.

dok.istimewa

Pengonsepan yang apik dari si sutradara—menghadirkan adegan sebenarnya dari kasus Minal dan Rajveer di akhir film—membuat penonton juga ikut menerka sebenarnya siapa yang benar dan mana yang berkilah. Meskipun, saya menduga, banyak yang bersumpah bahwa Minal dkk. tentu korban dan Rajveer dkk. merupakan pelaku selama film berdurasi dua jam lebih ini terputar—begitupun dengan saya. Terlebih sikap provokatif dari jaksa penuntut yang selama ia membuka mulut rasanya ingin membekapnya.

Pink benar-benar menyoroti bagaimana ketidaksetaraan posisi perempuan dan pria di India. Adegan awal, ketika polisi menyarankan Minal membungkam kasus intimidasi yang dilakukan Rajveer terhadapnya, mengingatkan saya atas kasus asusila terhadap anak perempuan pada tahun 2013 lalu di India. Ketika itu, si anak perempuan diculik dan diperkosa secara brutal lalu pihak keluarga melapor ke polisi. Polisi menolak memproses kasus tersebut bahkan mereka “menyogok” pihak keluarga korban dengan uang sebesar 2000 Rupee atau sekitar Rp350.000,00 supaya kasus tersebut tidak tercium media. Terlalu murah untuk menghargai keselamatan dan harga diri seorang anak dan keluarga. Begitu pula di film ini. Polisi justru menyarankan Minal supaya mundur dan bersyukur karena ia selamat. Terlebih, menurut si polisi, Minal juga melakukan kesalahan karena mau diajak keluar oleh pria di malam hari.

Rendahnya posisi perempuan di India membuat markas kepolisian di daerah Rajasthan menyekrining film ini. Tujuannya adalah sebagai pelatihan terhadap para polisinya supaya lebih sensitif dan berhati-hati ketika menangani kasus yang berkaitan dengan hak dan martabat kaum perempuan. Hal tersebut masuk akal—dan mungkin bisa benar-benar bisa dijadikan pembelajaran bagi polisi—mengingat di dalam film sosok petugas perempuan yang menjadi saksi pihak Rajveer ternyata berbohong atas laporan informasi yang dicatatnya.

Durasi yang panjang memang selalu diunggulkan oleh film-film asal India. Namun, mereka juga terkenal dengan alur yang menarik sehingga tidak membuat bosan penonton. Sebut saja 3 Idiots (durasi: 2 jam 43 menit), Lagaan (durasi 3 jam 44 menit), dan Dhoom 3: Back In Action (2 jam 52 menit). Film-film tersebut laku keras bukan hanya karena dibintangi oleh Aamir Khan, tetapi juga karena memiliki alur yang menarik dengan gagasan cerita yang apik. Pada Pink sendiri, konsep alur tersaji dalam bentuk progresif. Hanya 5 menit di akhir yang kemudian berubah menjadi regresif karena menyoroti kejadian yang sebenarnya antara Minal dkk. dan Rajveer dkk. Namun, penyajian alur tersebut tidak membuat saya sebagai penonton bosan.

dok.istimewa

Beberapa hal janggal dalam film ini membuat saya lebih dalam mencari informasi akan Pink. Jika kita lebih jeli, kita akan bertanya-tanya mengapa Deepak di awal kemunculannya selalu memakai masker? Deepak memang terkondisikan sebagai penderita manic disorder (walaupun di dalam film penggambaran sosok manic disorder tidak begitu menonjol). Namun, apa kaitan antara kedua hal tersebut? Ternyata, pemakaian masker murni permintaan dari sang pemeran yang menilai udara di India memiliki tingkat polusi yang tinggi. Kejanggalan selanjutnya ada pada menit 1:30:30 ke 1:30:47 di mana kondisi rambut Falak yang tadinya berantakan menjadi rapi bahkan seperti menggunakan catok rambut. Terasa tidak masuk akal mengingat pergantian adegan adalah dari mulanya di dalam ruang persidangan dan berpindah di luar yang paling lama memerlukan waktu—katakanlah—10 menit jika memang kondisi di sana begitu ramai. Namun, dalam kondisi segenting dan sepanik itu—terlebih Minal baru menumpahkan semua emosinya karena begitu diprovokasi oleh kuasa hukum Rajveer—tidak mungkin membuat Falak memperhatikan rambutnya.

Namun, tanpa perlu membesarkan kejanggalan-kejanggalan kecil di atas, film ini sangat perlu untuk diapresiasi. Penilaian 370 pakar jender di seluruh dunia mengenai India adalah negara terburuk dalam memperlakukan perempuan tentu perlu dianggap serius. Kritik akan kondisi tersebut melalui seni, terlebih film, seharusnya membuat masyarakat India terpantik untuk memperbaiki hukum dan budaya mereka menyangkut penyetaraan kedudukan antara perempuan dan pria.

Mengutip perkataan Deepak di akhir pengadilan, “Tidak bukan hanya kata, tetapi merupakan kalimat utuh. Tidak memerlukan penjelasan lebih lanjut. Entah wanita itu kenalan, teman, pacar, pelacur, atau bahkan istri sendiri. Tidak berarti TIDAK. Jika seseorang sudah berkata demikian, maka berhentilah.” Sehingga, saat seseorang masih memiliki nurani, kekerasan terhadap perempuan tak akan pernah lagi ada.

Maka, jika sebagian dari kalian masih menilai penyetaraan kedudukan antara perempuan dan pria tidak begitu berguna, tontonlah Pink. Jika kemudian masih belum tergugah untuk “menyelamatkan” mereka, bayangkan saja kerabat perempuan kalian sedang dalam kondisi terdiskriminasi. Pembayangan tersebut niscaya berhadil, terlebih Rajveer telah membuktikannya.

Nisa MS

Check Also

Catatan Akhir Sebelum Menjadi Guru

Sejumlah pelakon naik panggung dengan suasana yang hening. Terkhusus lakon lelaki tua, dikelilingi oleh gadis-gadis …