Home » Resensi » Film » Lavender: Halusinasi yang Membongkar Rahasia

Lavender: Halusinasi yang Membongkar Rahasia

dok.istimewa

Apakah ada orang di dunia ini yang ingin kehilangan ingatannya atau lebih sering disebut amnesia? Saya rasa tidak ada. Penyakit seperti itu sangat dihindari oleh banyak orang, begitu pula dengan Jane (Abbie Cornish) dalam film Lavender.

Tahun 1985 silam, keluarga Jane ditemukan tewas di dalam rumahnya. Traumatik dan tujuh retakan di otak membuat ingatan Jane tentang kejadian tersebut buyar. Setelah 20 tahun pasca kejadian, Jane tidak terlalu ingat satu pun tentang keluarganya. Ia hanya mengetahui keluarganya tewas bersimbah darah.

Jane adalah seorang ibu rumah tangga yang berprofesi sebagai fotografer. Belakangan ini, Ia begitu tertarik memotret rumah kosong. “Aku menjadi tertarik dengan benda-benda kosong ini, yang pernah ada dalam kehidupan. Rumah seperti tulisan di batu nisan yang memberikan pandangan sekilas pada kehidupan yang pernah mereka jalani.”

Jane selalu tampak murung. Kemurungannya tersebut berdampak pada kecelakaan mobil yang Ia alami. Akibat kecelakaan tersebut Jane hilang ingatan. Ia bahkan tidak mengenal Alan—suaminya—serta Alice, putri semata wayangnya. Tetapi terdapat sisi baiknya. Jane, menurut dokter, bisa memulihkan kembali ingatannya di masa lampau. Itu semacam langkah awal Jane untuk menggali informasi mengenai kematian keluarganya.

Film yang rilis pada tahun 2016 ini dimulai dengan adegan beku pemeriksaan pihak kepolisian mengenai tragedi pembunuhan di sebuah rumah. Tidak ada yang selamat kecuali seorang gadis kecil pemegang pisau yang terlihat ketakutan di pojok ruangan. Seakan ingin menunjukan sisi misteri, pengaturan latar pada awal film sangat ciamik. Penonton dibuat bertanya-tanya siapa pelaku dari pembunuhan tersebut. Sang sutradara mencoba menampilkan sisi kelam dalam sebuah pembunuhan satu keluarga. Layaknya sebuah pembunuhan yang sudah direncanakan.

Saat dalam masa pemulihan, Jane dibantu oleh seorang Psikiater bernama Liam. Liam dengan telaten membantu mengembalikan ingatan Jane. Hingga pada akhirnya Liam memberikan saran agar Jane berkunjung ke rumah pamannya, Patrick. Jane mengikuti saran Liam. Ia dan keluarga pergi menemui Patrick. Oleh Patrick, Jane diberi sebuah kunci rumah milik orangtuanya. Mereka pun memutuskan untuk tinggal di sana.

Alur cerita yang lambat membuat penonton semakin penasaran—meski sedikit membosankan. Adegan ketika Jane memandangi foto sebuah rumah saja menghabiskan waktu 10 detik padahal hanya untuk menatap foto rumah di sebuah tembok. Sedangkan music scoring yang konsisten dan datar sejak awal hingga akhir menjadikan film in penuh misteri. Saranku, kalian harus sabar ketika menonton film ini dan jangan melewatkan satu detik pun ceritanya.

Semakin malam Jane semakin tidak tenang. Ia dikejar-kejar bocah perempuan yang saban hari muncul secara tiba-tiba dalam kehidupannya. Hampir sama dengan kado misterius, sosok bocah perempuan tersebut seakan mengajak penonton ikut memecahkan misteri dalam film Lavender. Kemunculan bocah perempuan ini semakin menimbulkan tanda tanya, apa yang ingin ia tunjukkan kepada Jane? Apa kaitannya kado misterius yang diterima Jane selama ini?

Jane semakin tertekan. Ia memutuskan untuk kembali pulang. Namun, sepertinya roh-roh di rumah tersebut tidak menginginkan Jane pergi begitu saja. Mereka (baca: Jane dan keluarganya) terkurung di rumah tua tersebut. Jane kemudian sadar bahwa ada sebuah misi yang harus dituntaskan.

Dalang pembunuhan tersebut terkuak setelah Jane bertemu dengan Liam, ayahnya. Ternyata keluarga Jane secara tidak sengaja dibunuh oleh Patrick. Ibunya tewas terkena pukulan martil. Sedangkan saudari Jane, bocah perempuan yang selalu menguntit Jane terkena serangan asma dan tewas di tempat.

Lalu bagaimana dengan Liam? Liam tewas karena jatuh dari tangga rumah mereka. Jane yang kala itu mencoba lari dari kejaran Patrick secara tidak sengaja bertubrukan dengan Liam. Mereka terjatuh dan hanya Jane yang selamat. Akibat itu pula Jane kehilangan ingatannya.

Jangan berlebihan menganggap Lavender ini adalah film horror. Film yang disutradarai oleh Ed Gass-Donnelly ini bahkan tak mencekam sedikit pun. Tidak ada hantu yang menyeramkan. Tidak ada pula suara-suara tangisan layaknya film horror kebanyakan. Film ini tak lebih dari cerita yang dibangun oleh halusinasi Jane. Ceritanya hanya berkutat pada kehidupan Jane masa sekarang dan kejadian kelam di masa lalu.

Pertama menonton film Lavender ini akan terasa sulit membedakan antara kenyataan dan halusinasi. Beberapa kejadian di film ini ternyata hasil dari halusinasi Jane. Jika tidak menonton sampai selesai, bisa salah kaprah mengartikan film ini. Misalnya, pada tokoh Liam yang ternyata hanyalah halusinasi dari pikiran Jane. Tidak ada psikiater bernama Liam di dunia nyata. Kemudian di toko pernak-pernik yang ia kunjungi, sosok penjaga toko dalam halusinasi Jane adalah wujud dari ibunya sendiri. Koran yang ia baca bukanlah koran tentang pembunuhan keluarganya. Begitu pula dengan sosok bocah perempuan berambut pirang yang tak lain adalah saudari Jane.

Halusinasi Jane telah mengantarkannya memecahkan teka-teki pembunuhan keluarganya. Hal tersebut juga tak lepas dari buah pikirnya. Sosok Jane yang diperankan Abbie begitu menyatu dengan film bergenre thriller ini.

Layaknya orang yang mati penasaran, keluarga Jane yang mati dibunuh sepertinya ingin menunjukkan kebenaran atas rahasia kematian mereka selama ini. Cara yang dipakai pun cukup unik. Ed Gass-Donnelly dkk mencoba menyampaikan ceritanya semenarik mungkin, membuat penonton menerka-nerka melalui beberapa kado yang layaknya menjadi sebuah petunjuk untuk Jane pecahkan. Teka-teki kematian keluarga Jane pun terkuak.

Lalu, yang masih menyisakan pertanyaan di benak saya hingga kini adalah judul film ini, Lavender. Awalnya, saya hanya mengira bahwa lavender merupakan tumbuhan berbunga ungu yang akan dimunculkan dalam cerita film. Awal hingga akhir cerita tak ada satupun hal yang menyangkut tanaman lavender. Jika yang dimaksud lavender adalah tumbuh di sekitar rumah Jane—seperti dalam film rasanya jauh dari wujud nyatanya. Tumbuhan dalam film tersebut lebih mirip tanaman jangung. Sungguh.

M.S Fitriansyah

Check Also

Memotret Sisi Lain Dunia Fotografi Indonesia

Judul buku: Photagogos: Terang-Gelap Fotografi Indonesia Penulis: Tubagus P. Svarjati Tebal: xxix + 201 halaman …