Home » Opini » Musik Melayu: Tak Sekadar Mendayu

Musik Melayu: Tak Sekadar Mendayu

dok.Istimewa

Berbicara tentang musik artinya membicarakan selera. Setiap orang pasti memiliki gaya musiknya sendiri. Di dunia ini terdapat bermacam-macam jenis musik. Sebut saja musik Rok, Pop, R&B, Hip-Hop, Jaz—yang notabene masuk dalam gugus musik populer. Musik-musik populer tersebut begitu digandrungi remaja Indonesia.

Akan tetapi, di sini saya tidak ingin membahas jenis-jenis musik di atas. Barangkali jenis musik tersebut sudah terlalu populer untuk dibahas kembali. Akan lebih fundamental jikalau kita mengulik sedikit tentang musik Melayu—musik yang lahir dari akulturasi budaya. Ya, musik yang saya rasa sangat sensitif di telinga sebagian anak muda.

Membincangkan musik Melayu tidak elok rasanya jika tidak menyentuh sejarahnya. Martavia Rastuti, dalam skripsinya yang berjudul Yusuf Wibisono: Perannya Dalam Kebudayaan Musik Melayu di Sumatera Utara menuliskan bahwa sebagai daerah yang strategis untuk jalur perdagangan dan lalu lintas pelayaran, daerah pesisir Indonesia banyak mendapatkan pengaruh-pengaruh dari luar. Termasuk pengaruh budaya dari bangsa India, Arab, China, dan Eropa. Suku Melayu merupakan suku pesisir yang pertama kali melakukan kontak langsung dengan pendatang tersebut.

Berawal dari kedatangan bangsa Arab, Gujarat, dan Persia pada tahun 635-1600 menjadi muasal terciptanya musik melayu—pada awalnya hanya pembacaan syair saja. Kemudian berkembang menjadi musik yang memiliki ciri khas tersendiri.

Identitas Musik Melayu

Sebagaimana jenis musik lainnya, musik Melayu juga menunjukkan ciri khas. Kekhasan tersebut menjadi pembeda sekaligus identitas musik Melayu. Jika musik dangdut identik dengan gendang sebagai salah satu instrumen utama, musik Melayu pun demikian. Gendang, gambus, gong, serunai, hingga biola adalah alat musik khas pada musik Melayu.

Daya tarik lainnya, orang yang membawakan musik Melayu selalu memakai pakaian adat Melayu. Untuk kaum pria biasanya memakai baju yang disesuaikan dengan warna celana lalu mendapatkan tambahan sarung dengan corak tertentu—dipasang sampai lutut. Tak lupa songkok hitam sebagai penutup kepala. Namun, biasanya juga memakai penutup kepala tanjak.

Tak jauh berbeda, perempuan dalam membawakan musik Melayu memakai kebaya sebagai busana mereka. Dengan motif yang indah dan warna yang mencolok memperlihatkan bahwa perempuan Melayu begitu anggun saat di panggung.

Pembawaan musik Melayu juga melibatkan banyak penari. Penari-penari tersebut mengiringi sang penyanyi dengan gerakan yang lembut khas Melayu. Hal tersebut yang menjadi pembeda antara musik Melayu dan musik yang lainnya. Cobalah tengok lagu Selayang Pandang. Di sana penyanyi—selain diiringi penabuh gendang—juga dibersamai penari-penari cantik yang berlenggak-lenggok.

Siti Nurhaliza, Duta Perdamaian

Musik melayu tak hanya menyebar di pesisir timur Indonesia (Sumatera dan Kalimantan), tetapi sampai ke negeri jiran Malaysia. Adalah Siti Nurhaliza binti Tarudin yang sangat akrab di telinga pecinta musik Melayu di Tanah Air pada akhir tahun 1990-an hingga sekarang. Berbekal suara emasnya, Siti Nurhaliza berhasil menjadi penyanyi top tak hanya di Malaysia, tetapi juga dipelbagai belahan dunia, khususnya Indonesia.

Siti Nurhaliza sering diundang untuk tampil di Indonesia. Karena kedekatannya dengan Indonesia itulah Siti Nurhaliza bak hujan yang turun di gurun pasir. Kehadirannya setidaknya mengubah paradigma banyak orang tentang Indonesia-Malaysia. Hubungan bilateral yang acap kali mengundang prihatin. Mengingat Indonesia dan Malaysia memiliki kesamaan dalam hal budaya.

Lewat pesonanya dan musik Melayu yang ia bawakan, Siti Nurhaliza seakan menjelma menjadi seorang duta perdamaian. Pasalnya, sebagaimana yang sudah kita ketahui, hubungan antara Indonesia dan Malaysia sering memanas. Hubungan yang renggang karena permasalahan politik, budaya, dan kemanusian sering menerpa kedua negara tersebut. Namun, Siti Nurhaliza secara tidak langsung berhasil menyatukan sendi-sendi kedua belah negara serumpun tersebut.

Lahirnya Penyanyi Tanah Melayu

Iyeth Bustami, seorang perempuan kelahiran Bengkalis, Riau, berhasil memasuki deretan penyanyi terkenal Indonesia lewat cengkok khas Melayu. Pelantun tembang Laksamana Raja di Laut ini dikenal sangat konsisten dengan musik Melayu yang dibawakannya. Hingga saat ini, Iyeth Bustami masih aktif berkarier sebagai penyanyi.

Lagu Wulan Merindu tentu tak asing di telinga kita. Lagu yang dibawakan oleh Cici Paramida ini merupakan lagu bernuansa musik Melayu. Selain itu konsep video klip yang digunakan sangat khas dengan budaya Melayu. Mulai dari busana yang dipakai hingga instrumen musiknya. Namun, Cici Paramida lebih dikenal sebagai penyanyi dangdut saat ini. Terlepas dari lagu-lagunya sekarang, Cici Paramida tetap membawakan cengkok khas Melayu sebagai identitasnya.

Semua itu tak lepas dari musik Melayu sebagai cikal bakal musik dangdut, sehingga kedua genre musik tersebut memiliki kesamaan dalam segi irama dan nada. Hanya saja semuanya dirombak sesuai kebutuhan zaman.

Jadi, jika ingin menikmati musik-musik Melayu cobalah dengarkan lagu-lagu mereka. Sensasinya akan jauh berbeda dengan perkembangan musik sekarang. Tak hanya itu, penampilan panggung mereka juga bercorak kemelayuan yang sekarang semakin hilang ditelan zaman.

M. S. Fitriansyah

Check Also

Catatan untuk Gagasan Berdaya Saing Global

Oleh Hysa Ardiyanto (Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Keolahragaan UNY 2017) Istilah daya saing, dan persaingan tentunya, …