Home » Resensi » Buku » Rumah ala Carlos Maria Dominguez

Rumah ala Carlos Maria Dominguez

 

Judul                : Rumah Kertas

Pengarang      : Carlos María Domínguez

Penerbit          : Marjin Kiri

Penerjemah   : Ronny Agustinus

Tahun terbit  : September 2016

Tebal                : vi + 76 hlm.

 

 

Seorang profesor sepuh pengajar bahasa-bahasa kuno, Leonard Wood, lumpuh setelah lima jilid Encyclopedia Britannica jatuh menimpa kepalanya dari rak perpustakaannya. Temanku Richard patah kaki waktu mencoba menjangkau Absalom, Absalom! Karya William Faunlkner yang ditaruh begitu menyempil di rak sampai ia terpelanting dari tangga.”

Kejadian-kejadian sial yang menimpa orang-orang tersebut menjadi awal dari buku Rumah Kertas. Penulis menyampaikan berbagai tragedi mengenai buku hingga membuat sebuah kepercayaan bahwa buku adalah hal yang berbahaya. Bahkan, seekor anjing bisa juga mati karena menggigit halaman-halaman novel. Kepercayaan tersebut semakin menjadi dengan munculnya sosok bernama Bluma Lennon, dosen di Universitas Cambridge yang tiba-tiba meninggal saat sedang membaca buku puisi yang berjudul Poems karya Emily Dickinson. Kisah tersebut seakan menjadi penghubung antara kepercayaan buku yang berbahaya dengan kejadian yang menimpa Bluma Lennon. Membuat pembaca penasaran mengenai apa yang sebenarnya terjadi hingga setelahnya buku dianggap sebagai sesuatu yang berbaya, sesuatu yang menyebabkan celaka hingga kematian. Kematian Bluma juga menjadi perdebatan apakah kejadian itu benar karena Bluma sedang membawa buku dan sedang membacanya atau karena kecelakaan mobil biasa saja. Kecintaan orang terhadap buku, dalam kisah ini diceritakan dengan begitu detil dan menarik. Pembaca seakan mendapatkan perspektif baru mengenai buku setelah selesai membaca buku ini.

Kisah ini dilanjutkan dengan tokoh Aku yang menggantikan tugas Bluma di Universitas. Suatu pagi, Aku mendapat kiriman buku misterius dari seorang yang tidak diketahui dan ditujukan untuk Bluma. Awalnya, Aku tidak ingin mencampuri kehidupan pribadi Bluma mengenai buku tersebut, namun lama-kelamaan Aku akhirya penasaran dan melakukan penyelidikan terhadap buku misterius yang berjudul La Linea de Sombra karya Joseph Conrad. Aku kemudian mengetahui bahwa buku tersebut dikirim oleh Carlos Brauer. Akan tetapi, karena keberadaannya yang tidak diketahui, Aku akhirnya bertemu dengan Delgado, teman dekat Brauer. Dari situlah pembaca mulai memasuki dunia buku lebih dalam lagi.

Carlos Maria Dominguez sebagai penulis mampu menarik pembaca ke dalam dunia fiksinya mengenai dunia pecinta buku, bahwa buku bukanlah sesuatu yang hanya untuk dibaca, namun juga bernilai keberadaannya. Melalui penyelidikan yang dilakukan oleh Aku saat mengungkap asal buku misterius tersebut, pembaca juga masuk ke dalam dunia sastra. Buku dalam kisah ini digambarkan menjadi benda yang memiliki nilai tersendiri. Orang-orang tidak hanya membaca satu atau dua buku saja, mereka menyukai buku bahkan hingga rumah yang ditinggali penuh dengan buku-buku. Lorong-lorong rumah, kamar tidur, hingga kamar mandi mereka penuh dengan buku. Bahkan Brauer rela menjual mobilnya agar garasi miliknya dapat digunakan untuk menyimpan buku. Buku sudah menjalar ke bagian ruang-ruang mereka seperti memiliki nyawa tersendiri. Tahap kecintaan Braurer terhadap buku memang dapat dikatakan sudah mencapai tingkatan yang tinggi, melebihi apapun.

Sebagai pecinta buku, mereka tidak hanya membaca buku saja, mereka mempunyai rak-rak buku seperti di perpustakaan dan membuat indeks buku mereka sendiri agar mereka tidak kesusahan sewaktu ingin mencari buku. Bagi mereka yang mempunyai cukup uang, buku-buku mereka akan dirawat dan dijaga melebihi apapun. Mereka rela mengeluarkan banyak uang untuk membeli kayu-kayu tebal anti serangga sehingga buku mereka tidak rusak dimakan ngengat atau binatang kecil. Mereka juga rajin menyemprot buku mereka agar tidak berdebu. Dari kisah inilah, pembaca seakan menemukan hal baru dari sebuah buku yang biasa dianggap sebagai hal yang biasa, ternyata bagi pecinta buku, benda tersebut dapat memiiliki nilai yang berharga.

Dari judulnya, La Casa De Papel yang berarti Rumah Kertas mengandung makna tersendiri. Tokoh Brauer dalam buku tersebut diceritakan sebagai orang yang gila terhadap buku hingga buku-buku memenuhi ruang di rumahnya. Sampai pada suatu hari, Braurer mengalami kesialan. Rumahnya terbakar dan indeks buku miliknya lenyap. Brauer memutuskan untuk membuat pondok di pesisir pantai. Pondoknya tidak ia bangun menggunakan batu bata, namun menggunakan buku-buku yang ia punyai. Brauer menganggap buku dapat menjadi tembok yang dapat menghalau angin dan hujan. Jilidan pada buku-buku tersebut dianggap lebih kuat dibanding dengan batu bata. Hal tersebut tentu sangat menarik untuk dibaca lebih lanjut.

Untuk tampilannya, buku ini termasuk buku yang kecil dan tipis karena hanya berjumlah 76 halaman dengan ukuran 12x19cm, namun sampul buku ini cukup menarik, berupa kumpulan buku-buku yang disusun seperti muka seseorang. Meskipun hanya terdiri dari 76 halaman, setelah membaca buku ini pembaca pasti mempunyai kesan tersendiri terhadap buku dan juga merasa ingin membaca buku lebih banyak lagi. Tentunya, lebih mencintai buku juga.

Ervina Nur Fauzia

Check Also

Catatan Akhir Sebelum Menjadi Guru

Sejumlah pelakon naik panggung dengan suasana yang hening. Terkhusus lakon lelaki tua, dikelilingi oleh gadis-gadis …