Home » Opini » Tren Kepedulian pada Hari Peduli Autisme Sedunia

Tren Kepedulian pada Hari Peduli Autisme Sedunia

dok.Istimewa

Normal people have an incridible lack of empathy. They have good emotional empathy, but they don’t have much empathy for the autistic kid who is screaming at the baseball game because he can’t stand the sensory overload. Or the autistic kid having a meltdown in the school cafetaria because there’s too much stimulation.”

Temple Grandin—

Autisme pada Mulanya

Merupakan pengetahuan baru bagi saya ketika mengetahui bahwa istilah autisme pertama kali digunakan oleh psikiater asal Swiss dan tercipta setelah pengamatan intensif akan penderita skizofrenia. Kisaran tahun 1908 hingga 1911 itulah istilah yang berasal dari bahasa Yunani yang berarti ‘sendiri’ terpatri hingga sekarang. Bahkan, istilah tersebut kerap menjadi bahan rundungan bagi mereka yang asyik sendiri tanpa memedulikan sekitar selama gawai ada di tangannya.

Penganggapan penyandang autisme sebagai bagian dari penyandang skizofrenia pada tahun 1940-an membuat mereka ditangani oleh dokter kejiwaan. Bahkan, terapi kejut listrik pun ikut campur tangan. Lalu pada tahun 1944, Asperger mengidentifikasikan kondisi autisme yang lebih ringan dan kemudian disebut sebagai sindrom asperger (salah satu jenis dari autisme). Pada tahun yang sama, teori refrigerator mother diajukan oleh Bruno Bettleheim. Bagi Bettleheim, anak-anak dengan autisme ada karena mereka tidak diberikan stimulus yang baik oleh ibunya. Tahun-tahun berikutnya, penelitian mengenai penyebab, prognosis, dan terapi autisme digencarkan.

Sosok Autis dan Stigma yang Melekat

Autis memang sedari awal terstigma sebagai sosok antisosial. Alasannya adalah karena manusia menganggap dirinya sebagai makhluk sosial dan selalu merasa aneh jika kemudian ada sosok yang berbelok dari “kodrat”. Sosok autis yang lebih menyukai kesendirian dianggap memiliki keterbelakangan dan harus dijauhi. Sebutlah Andri, anak laki-laki yang dibuang di sekitar Universitas Pakuan, Bogor, pada 2011 silam. Lalu di laman web kompasiana.com, seorang bernama Gradieni Siti Husnul menuliskan pengalamannya mengunjungi panti asuhan. Ia bertemu anak berusia 8 tahun bernama Kliwon yang “dititipkan” orang tuanya di panti asuhan tersebut.

Ya, Kliwon penderita autisme. Menurut Gradieni, Kliwon bisa saja sembuh jika diobati dengan benar. Masalahnya, Kliwon sudah terlebih dahulu terstigma, yaitu memberikan aib keluarga karena “berbeda” lalu mereka memutuskan untuk tak menjemput Kliwon dari Panti Asuhan. Anak-anak yang seharusnya diberi perhatian khusus tersebut justru terabaikan. Mereka kehilangan kesempatan untuk sembuh karena stigma tentang sosok autis masih melekat kuat di sebagian besar masyarakat.

Autisme Bisa Disembuhkan

Penelitian mengenai autisme selalu dilakukan dan berkembang hingga sekarang. Kini, penanganan akan sosok autis bukan lagi oleh dokter jiwa, melainkan oleh dokter spesialis anak. Telah banyak terapi yang bisa diterapkan untuk menyembuhkan autisme, mulai dari terapi wicara hingga penggunaan hewan peliharaan. Bahkan, seorang profesor asal Boston, Temple Grandin, yang sejak usia 3 tahun didiagnosis sebagai sosok autis pun mulai sembuh ketika ia tak sengaja menemukan alat yang membuat tenang para sapi ketika hendak divaksin. Anehnya, Grandin ikut merasa tenang saat mendengar bunyi alat tersebut.

Grandin sendiri seorang autis savant, ia mampu menceritakan dengan detail segala hal yang pernah dilihatnya, tak peduli kapan ia melihat. Sekarang, ia merupakan pengajar bidang ilmu hewan di Universitas Colorado. Bagi Grandin, hewan dan sosok autis memiliki kesamaan, yaitu mengandalkan penglihatan untuk berhubungan dengan dunianya.

Pendapat Grandin tersebut terbukti dengan suksesnya terapi menggunakan hewan peliharaan pada gadis kecil bernama Iris Grace, seorang anak pengidap autisme asal Leichestershire, Inggris. Arabella Carter-Johnson, ibu Iris, awalnya melihat tayangan televisi yang menyatakan bahwa hewan peliharaan dapat membuat pengidap autisme memiliki keterampilan sosial yang lebih besar. Benar saja, Iris menjadi lebih aktif dan berperilaku manis setelah Thula, kucing peliharaannya, hadir di hidupnya.

Grandin dan kecintaannya pada hewan serta Iris dan kesembuhannya setelah bertemu Thula merupakan bukti bahwa sosok autis adalah sosok yang sama seperti kita: menginginkan sosok yang mengerti akan hidup mereka.

Tren Kepedulian pada Hari Peduli Autisme Sedunia

Dalih sejarah atas munculnya peringatan Hari Peduli Autisme Sedunia pada 2 April adalah untuk menyematkan eksistensi pada sosok autis. Para aktivis yang membela persamaan hak menganggap penyandang autisme adalah sama dengan sosok “normal”. Namun, kepedulian itu hanyalah isapan jempol belaka, bahkan tak berarti apa pun, jika kemudian 364 hari sisanya kita masih menyepelekan mereka. Pengucilan sosok-sosok penyandang autisme karena kemampuan bersosial mereka yang rendah tak akan membuat mereka terpedulikan. Justru sebaliknya, mereka akan terus antisosial karena kita justru yang tanpa sadar membuatnya demikian.

Badan Penelitian Statistik mencatat dari tahun 2010-2016 sekiranya ada 140.000 anak di bawah usia 17 tahun menyandang autisme. Begitu tinggi dan menjadi begitu miris jika mengingat bahwa pengidap autisme dari kalangan ekonomi menengah ke bawah akan terabaikan dan tidak memiliki kesempatan untuk sembuh karena stereotip memiliki anak dengan kebutuhan khusus adalah aib. Hal tersebutlah yang kemudian menjadi alasan setiap tanggal 2 April laman-laman web akan ramai dengan artikel yang berisi seruan untuk tak merundung sosok autis. Bahkan, selama April 2017, Monumen Nasional akan dinyalakan dengan lampu berwarna biru. Warna biru terpilih karena penyandang autisme kebanyakan adalah anak laki-laki dan biru adalah warna mereka.

Maka, kepedulian terhadap penyandang autisme janganlah hanya sebuah tren belaka yang tersemat setiap tanggal 2 April. Jangan hanya sebuah perayaan dengan kewajiban mengenakan hal-hal berwarna biru dan meneriakkan bahwa kita peduli pada sosok autis. Semua hal tersebut tidak mereka butuhkan, melainkan kepedulian yang nyata. Bisa dimulai dari hal yang begitu sederhana: tidak menyerukan istilah autis sebagai bahan rundungan atau bahkan sekadar candaan.

Nisa MS

Check Also

Komune Sebagai Budaya-Tanding: Memungkinkan Ketidakmungkinan

Oleh Laksmi A. Savitri (Dosen antropologi UGM) La comuna o nada (the commune or nothing) …