Home » Berita » Masyarakat Rawan Pembalikan Isu Preman-Pahlawan

Masyarakat Rawan Pembalikan Isu Preman-Pahlawan

dok.Istimewa

Otoritas dan masyarakat kian mudah melakukan pembalikan label “pahlawan” dan “preman” di Yogyakarta. Ini terbukti dengan data yang dipaparkan Albertus Harimurti, alumni Ilmu Religi dan Budaya, Universitas Sanata Dharma, selaku pembicara dalam diskusi “Premanisme dan Fantasi Kepahlawanan dalam Masyarakat” di gedung Pascasarjana Universitas Sanata Dharma, Jumat (28/4).

Albertus memaparkan penelitiannya dengan mencontohkan kasus pembantaian terhadap Didi dkk., empat tahanan Lapas Cebongan, oleh anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus) pada 23 Maret 2013. Setelah kasus tersebut, menurut hemat Albertus, terjadi pengubahan makna istilah “preman” untuk menyebut para tahanan yang mati dibantai oleh Kopassus.

Albertus juga menjelaskan, para pembantai kemudian malah dielu-elukan sebagai penyelamat masyarakat Yogyakarta dari aksi premanisme. Hal tersebut diikuti dengan spanduk-spanduk yang mulai bertebaran dengan jargon seperti “Rakyat-TNI Bersatu Berantas Preman dan Preman Berkedok Agama”, “Terimakasih Kopassus, Preman Meninggal Yogya Aman”, dan “Preman itu Pengecut yang Tak Berperasaan”.

Selain itu, Albertus menuturkan, atribut keistimewaan, toleransi, dan kebudayaan yang disandang Yogyakarta, memungkinkan kekejian dibaca sebagai dasar bahwa menjadi istimewa berarti tanpa preman. “Masalahnya,” ujar Albertus, “Penyebutan preman mengalami penyederhanaan kepada orang yang mengacau di Yogyakata.”

Ini juga kemudian, lanjut Albertus, terkait dengan isu pendatang dan etnisitas. Itu terlihat dalam sambutan selamat datang dari pemerintah kepada pendatang, yang juga imbauan untuk tidak mengacau. “Itu kan artinya bahwa yang dinamakan preman itu seperti datang dari luar Yogya,” kata Albertus.

Dalam hal ini, kata Albertus, proses pembalikan label “preman” diterapkan khususnya kepada pendatang dari Nusa Tenggara Timur, yang dilekatkan dengan latar belakang Didi dkk. “Di mana isu kekerasan oleh orang NTT juga sudah menjadi perbincangan masyarakat Yogya,” kata Albertus.

Putra Ramadhan

Check Also

Aliansi Mahasiswa Proklamasi Yogyakarta Menuntut Pencabutan Surat Drop Out

Massa Aliansi Mahasiswa Proklamasi (AMP) Yogyakarta di gedung DPRD DIY. | Sunardi/EKSPRESI Massa yang tergabung …