Home » Opini » Stigma Punk dan Perlawanan untuk Rakyat

Stigma Punk dan Perlawanan untuk Rakyat

dok.istimewa

Saat kau sibuk mengklaim budaya dan tradisi,

dipatenkan sebagai hak milik,

aku tak sepakat denganmu.

Budaya dan tradisi tak pernah bertuan.

Ganyang saja nasionalisme.

Isu ganyang mengganyang adalah ilusi yang membuatmu lupa akan betapa miskinnya mayoritas dari kita semua secara ekonomi

Ganyang Nasionalisme – Milisi Kecoa

Berbicara mengenai punk memang tak bisa berhenti pada penampilan individunya. Lebih jauh lagi, punk lekat kaitannya dengan gerakan perlawanan. Dalam sejarah, punk lahir pada era 1970-an di London, Inggris.

Mulanya, punk adalah gerakan anak muda yang diawali oleh anak-anak ekonomi kelas pekerja. Mereka mengalami masalah keuangan yang dipicu oleh merosotnya moral para elite politik kala itu. Ujung dari kemerosotan moral tersebut adalah tingkat pengangguran dan kriminalitas yang tinggi. Pada awal kemunculannya, punk tidak bisa berjalan beriringan dengan kelompok skinhead. Baru kemudian pada tahun 1980-an, kedua kelompok ini bisa menyatu karena memiliki semangat yang bisa dikatakan sama. Berpangkal dari segala kekecewaan atas pemerintahan tersebutlah punk akhirnya hadir untuk mengakomodir rasa kecewa kalangan bawah, utamanya pada generasi muda. Punk memiliki cara protes tersendiri, yakni melalui penampilan serta lagu-lagu dengan musik yang umumnya berisi sindiran.

Bentuk Protes Berbalut Stigma

Sulit memisahkan punk dengan stigma yang melekat. Punk identik dengan kehidupan kelas bawah yang rentan bersinggungan dengan kriminalitas. Hal tersebutlah yang berperan besar dalam pemberian nilai negatif pada orang-orang yang terlibat dalam aliran punk. Penilaian yang tak lepas dari penampilan: potongan rambut mohawk dan dicat warna terang, celana jeans sobek, kaos lusuh dengan balutan jaket kulit, ditambah dengan rantai yang menjuntai di pinggang. Tak lazimnya gaya berbusana orang-orang aliran punk ini menambah kesan urakan dan tak tahu aturan. Belum lagi perkara oknum aliran punk yang melakukan tindakan kriminal, entah ngelem atau tindakan melawan norma lainnya.

Pemikiran masyarakat yang menganggap negatif pada apa yang tak lazim dan cenderung melawan, membuat punk yang mulanya dimaksudkan sebagai bentuk protes tak dapat mencapai tujuannya dengan lancar. Seringkali masyarakat menyingkirkan mereka yang beraliran punk dari pergaulan, teranggap rendah dan tak bermoral. Sekadar contoh, jika orang tua melihat anak muda dengan dandanan punk, mereka pasti mencibir dan mengimbau anak mereka untuk tidak meniru hal tersebut. Stigma yang terbangun dalam masyarakat memang tak bisa dengan sepihak dihakimi, sebab tujuan di balik penampilan urakan tersebut kini telah mengabur. Tujuan yang semula sebagai bentuk protes atau biasa dikatakan anti kemapanan, kerap ditiru dan disalahartikan sebagai gaya-gayaan semata.

Berdendang dengan Lirik Perlawanan

Eksistensi punk tak sebatas mengusung trend fashion yang beda dari lainnya. Upaya perlawanan yang dirintis adalah melalui seni. Lagu dipilih sebagai mediator paling ideal untuk mewujudkan bentuk protes tersebut. Lirik lagu yang menyindir pihak penguasa dan musik dengan irama cepat dan menghentak mencerminkan sebuah protes keras. Protes yang mereka sampaikan melalui jalur-jalur yang tak bisa dianggap enteng oleh penguasa. Lirik-lirik mereka selalu berusaha memprovokasi pendengarnya untuk berani menyuarakan keadilan. Untuk menegur dengan keras para elite politik yang tak bermoral, korupsi yang membudaya, dan kesewenang-wenangan yang mulai dianggap biasa oleh “para lemah” yang berada di bawah garis kekuasaan.

Silakan dilihat lagi penggalan lagu Ganyang Nasionalisme dari Milisi Kecoa di awal tulisan ini. Makna perlawanan begitu melekat pada lagu tersebut. Penguasa yang dianggap lupa akan kemiskinan yang ditanggung rakyat dan tak mampu melindungi rakyat dari kerasnya roda perekonomian yang mereka kendalikan terusung dalam lirik lagu milik band asal Bandung itu.

Pada mulanya, Milisi Kecoa lahir dengan alasan sebagai bentuk ancaman psikologis yang nyata bagi banyak orang. Menggunakan nama kecoa, merupakan hewan yang tidak mudah dijinakkan seperti anjing ataupun kucing, adalah gambaran bahwa mereka tak ingin mempertuankan siapa pun.

Antiotoritarianisme adalah jalan yang diambil oleh kaum-kaum minoritas. Jalan untuk melawan dan memprotes kekuasaan yang menjerat. Kekuasaan yang tidak menimbulkan keadilan. Sayangnya, suara yang diserukan melalui nada-nada keras tak dapat berjalan sejajar dengan genre lainnya. Alih-alih ketenaran, kesempatan untuk menyuarakan kritik di depan publik justru terhitung langka. Coba tunjuk, adakah band punk yang tayang di stasiun televisi? Berteriak menyuarakan apa yang sebenarnya ingin kita sampaikan pada kekuasaan yang tak terjangkau oleh tangan-tangan rakyat kecil? Sangat sedikit. Lebih tepatnya, musik dengan aliran punk ini dianggap sebagai upaya pemberontakan yang harus dihentikan.

Punk dan Protes Garis Keras

Anarkisme, ideologi yang menghendaki terbentuknya masyarakat tanpa negara dengan asumsi bahwa negara adalah bentuk dari kediktatoran legal dan harus diakhiri. Jika diartikan lebih dalam, kaum anarkisme meyakini bahwa negara dengan dominasi yang tinggi kepada rakyat tak boleh bertahan. Ditarik pada kasus perlawanan yang dilakukan oleh aliran punk pada awal kemunculannya, anarkisme diartikan sebagai hidup yang utuh, bebas tanpa aturan. Aturan dan cara hidup berasal dari dirinya sendiri. Begitu pula yang dialami oleh bandband yang memilih jalur punk sebagai jalan mereka. Upaya untuk rilis lagu secara mandiri tak surut. Hingga kemudian band macam Milisi Kecoa berhasil untuk mempublikasikan lagunya meskipun tak secara optimal.

Jika aktivis berjuang dengan turun ke jalan, maka aliran punk berjuang melalui protes keras yang disampaikan pada setiap lirik yang diucapkan dan setiap nada yang diteriakkan. Tujuannya tak berbeda, menuntut keadilan. Jika mahasiswa terlena pada dinginnya AC di ruang-ruang kelas, maka punk bersama dengan kepul asap jalanan akan tetap berteriak tentang kesejahteraan yang utuh.

Bayu Hendrawati

Check Also

Musik Melayu: Tak Sekadar Mendayu

Berbicara tentang musik artinya membicarakan selera. Setiap orang pasti memiliki gaya musiknya sendiri. Di dunia …