Home » Resensi » Film » Kartini, Pelopor Kemajuan Peradaban Rakyatnya

Kartini, Pelopor Kemajuan Peradaban Rakyatnya

Lantunan tembang Jawa pada malam yang senyap dan kelam menjadi pembuka sebuah latar abad-19. Keributan malam terjadi. Terdengar suara tangisan bayi. Ialah Kartini, seorang anak dari Bupati Jepara yang dilahirkan pada 21 April 1879.

Kisah beranjak pada Kartini kecil. Ia menangis karena tidak diizinkan lagi tidur bersama Ngasirah muda (Nova Eliza), Ibu kandungnya. R.M.A. Sosroningrat, ayah Kartini (Deddy Sutomo), mengatakan kepada Ngasirah, “Katakan kepada Ni, ini yang terakhir.” Ni adalah panggilan Kartini kecil.

Wajar bila Kartini kecil, yang dipisahkan dari Ibu kandungnya, menangis. Pun ketika Kartini dilarang memanggil Ngasirah dengan sebutan Ibu dan diganti dengan Yu—sebutan untuk bibi menurut film.

Melalui film, dikisahkan bahwa penderitaan Kartini sudah dimulai sejak masa kecil. Beranjak remaja, keterpurukan Kartini bertambah. Ia dikurung di kamar sebagai gadis pingitan. Sebab, pingit diberlakukan bagi seorang gadis yang telah mengalami menstruasi pertama.

Bersama Sulastri (Adinia Wirasti), di dalam pingitan, Kartini diajar mempersiapkan diri menjadi Raden Ayu. Ia diharuskan menunggu dipersunting laki-laki bangsawan. Ya, pingit itu akan berlangsung hingga ada laki-laki yang menikahi Kartini.

Ketika Kartini dalam pingitan dan hanya diliputi hari-hari yang sunyi, R.M. Sosrokartono (Reza Rahadian), kakak Kartini, datang sebagai pencerah. Sebelum pergi ke Belanda, Sosrokartono memberikan buku-bukunya kepada Kartini. Sebuah awal untuk membuka mata Kartini bahwa, walaupun tubuhnya hanya berada di kamar pingitan, dunia bisa digenggamnya melalui buku.

Dengan membaca buku-buku, Kartini seakan berada di dunia lain. Dunia dalam buku yang dibacanya. Ia bertemu tokoh, berbincang dengan penulis, bahkan Kartini turut berada dalam latarnya. Hanung Bramantyo, sutradara Kartini, berusaha memvisualisasi bacaan dan pikiran Kartini. Hanung ingin membuktikan pepatah “buku jendela dunia.”

Buku-buku menginspirasi Kartini untuk memulai menulis. Karya-karyanya bahkan diterbitkan secara rutin di Belanda.

Dikisahkan pula Kartini meminta seorang Kiai menuliskan terjemahan Al-Quran. Ia ingin mempelajari Islam lebih dalam. Tampak bahwa kehidupan religi Kartini juga menjadi perhatian Hanung.

Semangat belajar Kartini ditularkan kepada orang-orang disekitarnya. Pertama kepada Kardinah (Ayushita) dan Rukmini (Acha Septriasa), yang juga telah memasuki masa pingitan bersama Kartini. Kartini, Kardinah, dan Rukmini berperan dalam memajukan pendidikan masyarakat miskin di sekitarnya. Mereka memberikan pendidikan gratis.

Tidak hanya bidang pendidikan, ketiganya berperan dalam memajukan perekonomian sekaligus kesenian masyarakat Jepara. Kesenian ukiran kayu menjadi perhatian utama Kartini. Mengutip Panggil Aku Kartini Saja karya Pram, bahwa, menurut Kartini, pendidikan tanpa kesenian berarti juga pendidikan tanpa pembentukan watak.

Kepahitan dirasakan terlebih dahulu oleh Kardinah. Ia dinikahkan dengan laki-laki beristri. Sudah menjadi takdir seorang Raden Ayu, mereka pada akhirnya hanya dijadikan pelayan bagi suami. Kekhawatiran yang sama juga terbayang di benak Kartini dan Rukmini. Namun, giliran Kartini yang terpaksa mengikhlaskan proposal pendidikannya ke Belanda. Ia dinikahkan dengan Raden Adipati Joyodiningrat.

Akhir film mengisahkan kedekatan Ngasirah tua (Christine Hakim) dengan Kartini. Tiba saatnya hari pernikahan Kartini dengan Raden Adipati Joyodiningrat. Di perjalanan menuju pelaminan, Kartini sungkem kepada Ngasirah. Di situlah puncak keharuan yang tidak dapat dihindarkan lagi. Nahasnya, setelah tiga hari menikah, proposal pendidikan Kartini di Belanda dikabulkan.

Film berdurasi 119 menit mengemas kehidupan Kartini, tidak hanya soal emansipasi wanita serta kebaya. Lebih dari itu, film mengemas kehidupan Kartini yang ingin terus belajar. Demikian pula sisi kreatif Kartini sebagai perempuan yang geraknya dibatasi oleh adat saat itu. Film juga berpesan bahwa kehidupan, perjuangan, dan kisah Kartini selayaknya dapat diilhami secara mendalam.

Sejarah Kartini yang sering disempitkan dengan semboyan pahlawan emansipasi wanita, tidak cukup menggambarkan sosok Kartini. Kartini merupakan inspirator pada masanya. Titik balik perjuangan Kartini tidak hanya untuk emansipasi wanita, tetapi juga untuk semua Rakyatnya.

Kartini yang diperankan Dian Sastrowardoyo membuat tokoh ini jauh dari kesan serius, apalagi membosankan. Dian mengingatkan kepada Cinta di Ada Apa Dengan Cinta arahan Riri Riza. Karakter pecicilan dan berani memunculkan perbandingan tokoh Kartini dengan sosok Cinta. Untuk film seserius ini, mungkin, Hanung ingin menghadirkan nuansa humor dengan beberapa tingkah laku Kartini yang pecicilan itu.

Hanum Tirtaningrum

Check Also

Membaca Paradigma Anarkisme

Judul buku: ABC Anarkisme Penulis: Alexander Berkman Penerbit: Daun Malam Tebal: 254 Halaman Tahun terbit: …