Home » Berita » Penggerak Literasi dari Polewali Mandar

Penggerak Literasi dari Polewali Mandar

Perahu Pustaka Di pulau Battoa Polman. | Foto: dok. Pribadi Ridwan Alimuddin.

Berawal dari diskusi di Twitter tercetus sebuah ide membuat perpustakaan terapung. Pernyataan tersebut diungkap oleh Muhammad Ridwan Alimuddin atau akrab disapa Iwan. Pria lulusan Universitas Gadjah Mada ini menceritakan awal mula dibentuknya perpustakaan terapung atau sekarang familiar dengan sebutan Perahu Pustaka. “Ide awal dari Nirwan Arsuka dan beberapa pegiat literasi di Makassar,” katanya saat dihubungi pada Kamis (1/6). Berbekal pengetahuan mumpuni mengenai kapal, ia ditunjukan untuk memimpin proyek perpustakaan terapung tersebut.

Angan-angannya sekitar dua puluh tahun lalu akhirnya terwujud. Berbekal kecintaanya terhadap perahu, kebudayaan bahari, dan buku mengawali kiprah Iwan di dunia literasi di daerahnya. “Sewaktu memulai riset kemaritiman di Kepulauan Taka Bonerate, tahun 1999, saya dan teman saya memang mengimajinasikan untuk membuat perpustakaan terapung,’’ ungkap Iwan.

Hingga saat ini perahu pustaka sudah berjumlah tiga unit. “Baru-baru ini, 19 Mei 2017 kita meresmikan lagi perahu pustaka III yang baru selesai dibuat sepekan sebelumnya,” ungkap Iwan.

Seiring berjalannya waktu, muncul pula beberapa kendaraan darat untuk menjawab pertanyaan dibenak Iwan tentang literasi di kampungnya sendiri. Berkat perahu pustakanya Iwan berhasil menjangkau pulau-pulau terpencil di Sulawesi Barat. Namun, ia juga tak melupakan kebutuhan akan bacaan di kampungnya sendiri. “Dalam tempo yang tidak terlalu jauh dibuatlah Bendi Pustaka dan Motor Pustaka untuk menjangkau pembaca di dalam dan luar kampung,” katanya. Agustus 2016 bertambah satu lagi moda pustaka beregerak. Namanya ATV Pustaka. ATV Pustaka tersebut, kata Iwan, dioperasikan untuk melewati rute pegunungan.

Banyaknya buku yang ia bawa sejak meninggalkan Yogyakarta pada tahun 2006, dan buku-buku donasi dari para relawan membuat rumah mertuanya dipenuhi tumpukan buku. “Ruang tamunya penuh dengan buku,” bebernya. Untungnya lahan kosong 9 x 23 meter, tak jauh dari rumahnya memberi ide baru. Itu kebun pisang, saya minta untuk dibangun perpustakaan yang akan berfungsi sebagai base camp kami, Komunitas Armada Pustaka Mandar,” ungkapnya. Pembangunanya, lanjut Iwan, dimulai pada Desember 2015. Kemudian diresmikian pada 13 Maret 2016 dengan nama Perpustakaan – Museum Nusa Pustaka.

Menjawab pertanyaan tentang kesulitan yang ia hadapi selama ini, Iwan menganggapnya wajar-wajar saja. Menurutnya, kendala utama sehingga tidak bisa mendatangi pulau kecil adalah dana.

Hitungannya, setiap ingin melakukan pelayaran ke pulau kecil, minimal membawa tiga nelayan sebagai pelayar. “Kami gaji mereka 100 ribu/orang, jadi kalau pelayaran sepekan itu sudah menghabiskan dana 2,1 juta,” ungkap Iwan.

Dana tersebut, tambah Iwan, belum termasuk dana tambahan. Misal logistik (makanan, air, lauk pauk, dan rokok) yang rata-rata habis 500 ribu. “Sedang bensin bisa sampai 1 juta untuk jarak 200 kilometer,” ungkapnya.

Menurut Iwan lagi, dana tersebut masih belum termasuk perbaikan perahu jika ada yang rusak. “Meskipun tidak ada dana besar, kegiatan literasi tetap berjalan. Baik konvensional (Nusa Pustaka) maupun bergerak (ATV Pustaka), ungkapnya.

Menanggapi keluarganya, Iwan bersyukur mendapat dukungan baik. Ayah dari tiga orang anak ini mengatakan dari semua pihak keluarganya mendukung kegiatan Iwan selama ini. “Semua mendukung. Itu dibuktikan dengan pinjaman tanah serta dukungan lainnya,” katanya.

Mengenai pekerjaan, Iwan pun tak ambil pusing. Seperti yang sudah diketahui, Iwan merupakan wartawan di Radar Sulawesi Barat. Namun ia memutuskan keluar dan fokus pada perahu pustakanya. Menurut Iwan dukungan sang isteri sangat penting. “Isteri saya sudah tahu bahwa saya sering pergi berlayar, riset, traveling dan aktif di kegiatan literasi,” tambahnya. Bersama isterinya, Iwan memilih berwiraswata untuk menunjang kebutuhan sehari-hari. Walaupun sudah tidak aktif sebagai wartawan, namun Iwan masih berkecimpung di dunia jurnalistik. Selain sebagai penulis, Ia sekarang menjadi Ketua Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Mandar Sulawesi Barat.

Sejak berdirinya Perpustakaan – Museum Nusa Pustaka tanggapan masyarakat sangat responsif. Iwan pribadi merasa senang melihat antusiasme anak-anak di kampungnya. Mengingat buku-buku di sana terbilang sedikit. “Paling penting juga adalah mahasiswa yang tinggal di kawasan ini merasa terbantu dengan adanya Nusa Pustaka,” ungkap Iwan.

Selain aktif sebagai pegiat literasi, Iwan dan kawan-kawan juga sering mengkritisi kebijakan pemerintah lokal maupun daerah. Misalnya pembangunan tanggul atau reklamasi yang dianggap serampangan. Hal tersebut menurut Iwan akan berdampak pada percepatan kepunahan perahu Sadeq, menghilangkan sarang penyu di Pantai Pambusuang, dan juga membuat nelayan tak bisa mendaratkan perahunya untuk perbaikan atau perawatan. “Saya pernah mengubur piagam yang diberikan Bupati Polewali Mandar dan Gubernur Sulawesi Barat karena memaksakan kehendaknya tersebut,” tutup Iwan.

M.S Fitriansyah

Check Also

AMP UP 45 Kembali Gelar Aksi Solidaritas

Suasana ketika diadakan dialog antara AMP UP 45 dengan pihak Dewan Pendidikan Yogyakarta. Foto oleh …