Home » Resensi » Catatan Akhir Sebelum Menjadi Guru

Catatan Akhir Sebelum Menjadi Guru

Sejumlah pelakon naik panggung dengan suasana yang hening. Terkhusus lakon lelaki tua, dikelilingi oleh gadis-gadis berkebaya nan anggun. Ia kemudian membuka bukunya. Maka, berceritalah ia kepada murid-murid itu tentang “Distilasi Dirga”—judul naskah pementasan teater yang sedang mereka mainkan.

Suasana berubah menjadi ruang kelas yang ramai. Lima remaja SMA masuk dan membicarakan hal-hal yang tidak terlalu penting; mode, barang baru, menggosip tentang teman sendiri hingga tentang gurunya. Kemudian masuklah guru Dirga ke dalam kelas itu dan menenangkan mereka.

Guru Dirga adalah seorang yang teladan. Ia banyak disukai oleh murid-muridnya karena kebaikan hatinya. Guru Dirga tergolong guru yang pintar. Ia mempunyai banyak ide untuk memajukan pendidikan sekolah. Suatu hari, guru Dirga dan guru yang lain dipanggil oleh kelapa sekolah.

Di ruangan kepala sekolah, guru Dirga ditawari untuk ikut dalam suatu proyek. Pada awalnya guru Dirga menolak karena proyek yang ditawarkan merupakan proyek yang tidak jelas asal-usulnya. Namun, karena sifat guru Dirga yang ambisius dan dijanjikan akan mendapatkan dana untuk merealisasikan ide-ide guna memajukan pendidikan sekolahnya itu, pada akhirnya guru Dirga menandatangani perjanjian tersebut.

Singkat cerita, sebulan berlalu. Dana yang dijanjikan kepada guru Dirga tidak kunjung diterimanya. Guru Dirga marah. Apalagi setelahnya ia mendapat kabar bahwa proyek yang dulu ditanda tanganinya adalah proyek kotor. Guru Dirga merasa ditipu. Guru Dirga merasa tidak dihargai sebagai seorang guru.

Sangat disayangkan, kemarahan itu ia lampiaskan kepada murid-muridnya. Jojo, murid yang sangat mengagumi guru Dirga akhirnya kecewa atas sikap guru Dirga ini. Ia memutuskan bunuh diri di depan guru Dirga dan teman-teman kelasnya. Pada akhirnya, karena stress, guru Dirga menjadi orang gila.

Cerita di atas merupakan satu dari empat naskah yang ditampilkan dalam pementasan teater dengan tema “Guru Masa Depan #2” di Laboratorium Karawitan FBS, Selasa (23/05). Selama 1 jam lebih para pelakon yang tergabung dalam Njonja Djantik Production ini menguasai panggung. Dengan berdialog naskah “Distilasi Dirga”, mereka saling berbagi pengalaman yang sama, menjadi pelakon dalam pertunjukan drama.

Distalasi Dirga. Foto oleh Kuki/EKSPRESI

Pementasan ini merupakan penutup dari kegiatan perkuliahan Etika dan Profesi Keguruan yang dilakukan oleh Program Studi Pendidikan Sosiologi FIS UNY. Tujuannya, diharapkan mahasiswa nantinya dapat menjadi sosok guru yang tidak hanya unggul dalam pengetahuan dan teori, tetapi juga memiliki kepribadian jiwa sosial dan mampu menjadi teladan bagi peserta didiknya kelak jika menjadi guru.

“Kami ingin mereka tidak hanya tahu sekadar dengan konsep yang mereka hafal, tapi kami juga ingin tahu bagaimana mereka intesa terhadap apa yang telah kami berikan,” ucap Grendi Hendrastomo selaku dosen pengampu mata kuliah Etika dan Profesi Keguruan.

Naskah-naskah yang dipentaskan merupakan cerminan pemikiran-pemikiran mahasiswa Pendidikan Sosiologi tentang konflik yang sering terjadi pada guru. Hampir sama dengan “Distilasi Dirga”, Socrates Production juga menampilkan kinerja seorang pendidik yang justru tidak semestinya.

Konflik yang ditampilkan adalah sosok kepala sekolah dan ketua yayasan yang terus saja menaikkan biaya pendidikan, sedangkan kualitas pendidikan siswa tidak juga ada peningkatan. Justru, ketika seorang guru sudah mengajarkan mata pelajaran sesuai kompetensi, maka sudah dianggap cukup. Alhasil, pada saat kelulusan, semua siswa di sekolah tersebut tidak ada yang lulus. “Lalu, Salah siapa?”—judul naskah yang dipentaskan Socrates Production.

Berbeda dengan konflik yang dihadirkan oleh Njonja Djantik Production dan Socrates Production, lewat pementasan teater yang berjudul “Mau Jadi Guru?”, Pierewan Production justru menampilkan stigma masyarakat tentang menjadi guru.

Naskah dimulai dari seorang pelakon ingin menjadi guru, akan tetapi ia dilarang oleh orang tuanya. Pekerjaan menjadi guru dianggap tidak menguntungkan. Seorang guru tidak akan sukses dibandingkan dengan kerja-kerja lain. Di akhir cerita, ketika si pelakon belum bisa meyakinkan orang tuanya dengan pilihannya, ia memutuskan kabur dari tempat tinggalnya.

“Di banyak hal apa yang disajikan itu, iya (benar). Artinya, kita belajar dari mengobservasi temen-temen. Masih banyak orang tua yang ketika anaknya ingin menjadi guru itu masih menganggap bahwa karir menjadi guru itu yang nomor sekian. Padahal kita tahu bahwa pendidikan itu yang utama ya gurunya,” komentar Grendi..

Pementasan terakhir berjudul “Tenang” dari Molasbe Production. Mereka menampilkan sebuah sekolah yang beberapa siswanya memiliki keterbatasan, akan tetapi mereka semua berprestasi. Ketika seorang guru yang baik mengetahui kemampuan-kemampuan mereka dan ingin mengikutsertakan mereka dalam kejuaraan lomba nyanyi, kepala sekolah melarangnya karena dianggap hanya akan memalukan sekolahan.

Cerita berlanjut sampai guru tersebut bisa membuktikan kepada semua orang bahwa keterbatasan anak-anak didiknya bukan berarti menjadi halangan untuk siswa berprestasi. Cerita ini memberi gambaran bahwa semestinya seorang guru harus memiliki perhatian penuh dengan siswanya.

Guru tidak hanya menjadi sosok yang digugu lan ditiru akan tetapi guru harus mampu memahami, membimbing, mengajar, melatih dan mendidik peserta didik untuk memiliki pengetahuan, kepribadian dan jiwa sosial. Guru harus mampu mewujudkan pribadi yang cerdas, berpikir positif, santun dan menjadi teladan bagi orang lain.

“Kami sangat kagum dan bangga. Kami tidak akan menyangka bahwa mereka akan kemudian mengeluarkan gagasan sekeren ini. Dan ekspektasi kamipun tidak seperti ini tapi ternyata mereka mau berkerja keras,” tutur Grendi dengan tersenyum.

Grendi melanjutkan, bahwa pementasan ini diselenggarakan sebagai salah satu wujud pengembangan mahasiswa sebagai inti dari proses belajar. Mahasiswa, melalui pementasan teater secara aktif terlibat dalam upaya untuk mengkonstruksi sosok guru yang akan mereka jalani masa depan. “Harapannya adalah bagaimana mereka kemudian benar-benar tidak hanya berteater tapi bagaimana semua ide mereka kemudian terserap di dalam pementasan mereka itu emang benar-benar kemudian akan menjadikan mereka percaya, bangga dan yakin untuk menjadi guru,” tutup Grendi.

Jika dilihat dari aspek isi, teater–teater yang ditampilkan sangat sesuai dengan realitas kehidupan masyarakat. Mereka mampu mengakat salah satu bentuk kehidupan yang nyata terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Pemain mampu memerankan sesuai dengan perannya secara ekspresif. Di samping itu, melalui ide-ide yang ditampilkan, mereka mampu menyisipkan pesan moral yang ingin disampaikan kepada penonton.

Hanya saja kekurangan dari pementasan ini adalah tema dan jalan cerita yang ditampilkan cenderung yang sudah terlalu biasa. Penonton mudah sekali menebak penyelesaian dari isi cerita. Selain itu, latar tempat juga terlihat kurang dipersiapkan, sehingga pementasan ini terkesan sederhana.

Khusnul Khitam

Check Also

Kartini, Pelopor Kemajuan Peradaban Rakyatnya

Lantunan tembang Jawa pada malam yang senyap dan kelam menjadi pembuka sebuah latar abad-19. Keributan malam …