Home » Sastra » Puisi » Jazz Untuk Nada

Jazz Untuk Nada

dok.istimewa

Kota gelap mendung seperti gerhana

Dan angin turun dari gunung tengah kota

Berhembus menuju selatan

Penuh bayang menakutkan

Seperti cinta, cinta yang penuh kepura-puraan

Penuh ketidak normalan, kebohongan.

Seperti drama, drama akrobat yang akan diselesaikan

Seseorang dengan pistol dan status sosial di jalanan

Hujun turun dari langit. Ya. Hujan turun dari langit

Mengguyur aspal gerhana, seperti

Gadis pengendara motor dilanda dilema,

Antara menerobos atau berhenti

Terjebak hujan yang mengamuk deras lampu merah

Entah kemana akhirnya ia memilih jalur cepat sampai ke rumah.

Terdengar musik jazz dari kafe mewah tengah kota

Saksofon, luka, bass-gitar, pesakitan, trombone, kesedihan.

Lalu nada jazz terdengar menyakitkan

Seperti bunuh diri, Sebab improvisasi blue notes dan deras hujan

Adalah kesengsaraan

Kepedihan

Dan kegetiran!

Di sana ada pasangan pasangan normal

Yang hirau pada keresahan bersama cintanya.

Pasangan pasangan yang berciuman tak kenal waktu

Karena berhubungan dengan lelaki pangkat dan barbar,

Wanita pada make-up dan gaun impor Amerika

Lebih hedon

Lebih western

Lebih post modernist

Sampai status sosial borjuasi

Dan pelayan datang sok- ramah, terbiasa bertradisi dengan pejabat dan taruna

“Mau pesan apa?”

“Aku pesan alkohol, palu, roti, pembebasan, kopi dan arit, maksudku. Aku pesan cinta.”

“Apa apaan.. di sini tidak jual itu semua, saudara sedang pesiar?”

“Aku bukan taruna!”

“Saudara inlander, ya? Bisa lihat KTP?”

“Aku cuma punya kartu tanda mahasiswa!”

“Asu.. asu.. Mahasiswa kok masuk masuk kemari?”

“Sebab aku merasa tertindas diluar!”

Jancuk… Sana, sana. Keluar! Atau saya panggil polisi!”

Hujan tambah deras. Ya. Hujan tambah deras.

Angin tambah kencang. Ya. Bertiup ke selatan.

Air hujan berputar mengelilingi alun alun kota

Tersangkut dalam water torn, masuk dalam Masjid, Kelenteng

Dan Gereja, lalu keluar dan dapatkan pengampunan

Tapi hujan masih deras, langit mendung gelap sekali,

apalagi yang harus aku perjuangkan?

Nada jazz bersarang dalam kepala

Penghinaan membeku dalam dalam

Saat mencintai, cinta berubah jadi sakit terasa

Dendam, kebencian bersarang menyebar keselurah darah dalam dalam

Maka satu tahun dalam hujan deras adalah seribu tahun

Dan cuaca kota tropis satu musim, penghujan

Dan tak ada pengakuan, tak ada penerimaan,

Lalu angin angin turun dari gunung, membelenggu

Dan hujan pun tak kunjung usai di buatnya.

Magelang. 2015

Krisnaldo Trisguswinri

Check Also

Itulah Alasan Mengapa Kau Harus Hidup

Jerman, 17 Agustus 2017 Kau terjaga, menatap ke luar jendela. Matamu menatap pohon pinus kurus …