Home » Sastra » Cerpen » Sehari Menjelang Kirab

Sehari Menjelang Kirab

Suasana menjelang diadakannya Kirab Apem Sewu sudah mulai terasa. Aroma apem yang dibuat oleh ibu-ibu mulai tercium di beberapa titik kampung. Pemuda-pemudi terlihat semakin aktif berlalu-lalang, sedang membuat rancangan gunungan, kata mereka. Ada juga yang latihan marching band. Bapak-bapak pengurus desa sibuk berkumpul dan berbincang demi memantapkan konsep kirab tahun ini.

Kirab Apem Sewu adalah tradisi dengan upacara membagi-bagikan kue apem sejumlah seribu yang dilakukan oleh masyarakat kampung saya, namanya Kampung Sewu. Kampung saya adalah salah satu dari sekian banyak kampung yang terletak di Kota Surakarta. Kirab ini hanya dilakukan ketika bulan Zulhijah. Apem akan diarak dari Situs Pohon Pamrih menuju Prasasti Apem Sewu.

Saya pernah mendengar dari sesepuh kampung kami, katanya kirab ini adalah wujud rasa syukur kami. Kami yang tinggal di bantaran Sungai Bengawan Solo tak pernah terkena bencana banjir lagi, jadi harus bersyukur. Rasa syukur kami ungkapkan melalui berbagi apem. Kata sesepuh itu juga, kirab ini dulunya adalah perintah dari Ki Ageng Gribig, seorang pemuka Islam yang menyebarkan Islam di daerah kami. Kirab tetap kami lakukan setiap tahunnya dengan disesuaikan perkembangan zaman.

Semua orang kampung gembira. Laki-laki dan perempuan, sesepuh, orang tua, anak muda, juga anak-anak kecil. Tak terkecuali saya, Ibu, dan kakak saya. Selama makan, kami sering memperbincangakan kirab yang dilakukan dua hari ke depan. Kakak saya, Agus yang sedang menempuh studi di tempat Pak Habibie sekolah dulu, bahkan rela pulang. Mumpung bisa membaur dengan warga, katanya. Saya yang sedang berburu ilmu di Kota Pelajar juga tak mau melewatkan kirab.

Tapi ada satu orang yang terlihat biasa-biasa saja dengan adanya kirab. Bapak saya tak pernah menampilkan wajah gembira dengan adanya kirab ini. Beliau yang sibuk bolak-balik ke negeri tetangga dan negeri antah berantah tak pernah terlibat dalam kirab ini. Menonton pun tidak, apalagi membantu persiapan kirab.

Dari dulu, Bapak selalu punya jadwal pergi ketika kirab sedang dilakukan. Saya sering ditanya tetangga mengapa Bapak tak pernah terlihat batang hidungnya ketika kirab.

Murti, kemana Bapakmu itu to? Ndak pernah kelihatan kalo ada kirab. Sibuk sekali ya?” tanya Bu Sastro, tetangga kami.

Iya, Bu. Bapak sekarang ada di Jepang. Sedang penelitian katanya,” jawab saya dengan lirih.

Begitu to. Mbok kapan-kapan kamu ajak ke kirab,” desak Bu Sastro.

Selain ibu-ibu, bapak-bapak juga sering menanyakan ke mana Bapak pergi. Saya hanya menjawab apa yang saya tahu. Padahal yang saya tahu hanya bahwa Bapak akan pergi ke negeri seberang untuk memberitahu dunia kehebatan temuannya.

***

Kirab tahun ini sepertinya sedikit berbeda. Ibu memberitahu saya bahwa Bapak tidak akan pergi ke luar negeri bulan ini, juga bulan depan. Berarti kemungkinan Bapak bisa menonton kirab yang akan dilakukan 2 hari lagi. Ingin rasanya saya pergi ke kirab menggandeng tangan Bapak, dengan begitu saya tidak akan disuguhi beribu pertanyaan oleh orang-orang kampung.

Tak disangka, hari ini Bapak menyempatkan keluar dari ruang kerjanya. Padahal biasanya ia tak pernah keluar, walau hanya untuk menyapa tetangga. Beliau selalu sibuk berhubungan dengan kolega-koleganya di luar negeri melalui e-mail. Tapi hari ini pagi-pagi benar beliau benar-benar keluar dari ruang kerjanya dan duduk santai di kursi di teras rumah.

Bapak membaca koran dan sesekali menyeruput kopi yang dibuatkan Ibu. Mata Bapak mengamati isi koran dengan seksama dan sesekali manggut-manggut. Bapak hanya menoleh sebentar ketika ada tetangga yang lewat dan menyapanya. Selebihnya ia terpaku dengan koran itu.

Ketika waktu makan siang, Bapak masuk ke rumah dan langsung menuju ruang makan. Ibu saya tak pernah telat dalam menyiapkan menu makan siang kami. Mengekor kakak saya, saya juga masuk ke ruang makan. Ketika di ruang makan, saya terdorong untuk bertanya ke Bapak.

Pak, Bapak sedang libur?” tanya saya.

Iya. Istirahat sebentar. Sambil mencari inovasi,” jawab Bapak dengan nada datar. “Bagaimana kuliahmu, Nduk?” tanya Bapak tiba-tiba.

Anu…. Semuanya berjalan dengan baik, Pak. Berkat doa Ibu-Bapak juga.”

Agus?”

Saya juga berjalan dengan baik, Pak.”

Pak…. Bolehkah saya bertanya sesuatu?” tanya saya dengan nada hati-hati.

Tanya saja.”

Dua hari lagi kan ada Kirab Apem Sewu. Bapak mau datang tidak?”

Bapak memandangku lamat-lamat. Ibu dan kakak saya menghentikan makan mereka dan ikut memandangi saya. Bapak lantas menjawab pertanyaan saya.

Buat apa datang? Apa yang Bapak dapat dari kirab?”

Mas Agus dan Ibu hanya diam. Tapi saya mencoba memberi jawaban yang baik terhadap Bapak.

Ini sebagai perwujudan syukur, Bapak.”

Bukankah bisa dengan cara lain? Perjalanan Bapak ke negeri seberang juga dalam rangka bersyukur,” elak Bapak.

Bapak kan bisa beramah-tamah dengan tetangga. Hubungan Bapak dengan tetangga dapat menjadi lebih dekat dan erat.”

Bapak terdiam mendengar kalimat terakhir saya. Sepertinya saya telah menyinggungnya, karena pada kenyataanya hubungannya dengan tetangga kurang berjalan dengan baik. Setelah terdiam sebentar, Bapak lalu masuk ruang kerjanya. Ia menutup pintu dengan keras, dan tak pernah keluar dari ruang kerjanya semenjak siang itu. Bapak juga tidak mengimami kami salat magrib seperti biasa.

***

Tengah malam, saya terbangun karena suara teriakan. Sepertinya dari ruang kerja Bapak. Saya bergegas keluar kamar. Begitu juga dengan Ibu. Mas Agus juga terbangun dan keluar dari kamar tidurnya. Ia lantas menghampiri saya dan Ibu lalu bertanya gerangan apa yang terjadi.

Kami mendengar teriakan yang lebih keras lagi dari kamar Bapak. Sontak kami berlari ke ruang kerja bapak. Ibu membuka ruang kerja Bapak dan mendekatinya, diikuti saya dan Mas Agus. Tapi setelah masuk, kami hanya melihat Bapak yang tertidur di kursi roda di ruang kerjanya. Lama mengamati Bapak, kami tak mendengar teriakan lagi. Ibu akhirnya menyuruh kami kembali ke kamar kami masing-masing, begitu juga Ibu.

***

Subuh datang, Bapak tak jua keluar ruang kerjanya, begitu juga hingga siang. Bapak tak juga keluar bahkan untuk makan. Ibu berpikiran mungkin Bapak lelah. Malahan Ibu tak berniat sedikit pun untuk masuk ruang kerja Bapak.

Sementara itu, suasana di luar rumah kami semakin ramai, karena besok Kirab Apem Sewu dimulai. Saya tak menyiapkan persiapan yang terlalu berarti. Saya hanya menyiapkan kamera terbaik saya. Saya dan Mas Agus rencananya akan mendokumentasikan kirab besok pagi.

Sehabis magrib, tiba-tiba Bapak keluar dari kamar. Ibu menanyainya, tapi Bapak hanya berkata akan pergi ke tetangga yang sedang membuat gunungan untuk kirab besok pagi. Ia berkata ia akan membantu membuat gunungan RW kami agar terlihat paling bagus. Hingga hari beranjak malam, Bapak tak juga pulang. Saya dan Ibu sedikit khawatir sebenarnya.

Habis subuh, Bapak pulang dan langsung mandi. Sehabis mandi, ia masuk ke kamarnya lalu keluar dengan setelan baju yang cocok. Lantas mendekati saya yang masih di meja makan.

Nduk, ikut Bapak ke kirab ya. Agus dan Ibu juga diajak ya.”

Saya seperti tersambar petir mendengar ucapan Bapak. Baru beberapa waktu yang lalu ia berkata tidak akan pergi ke kirab, tapi hari ini mengatakan kebalikannya. Saya lantas hanya mengangguk dan mengiyakan Bapak.

Saya berangkat menonton kirab bersama Bapak, Mas Agus dan Ibu. Terlihat Bapak sangat menikmati pertunjukkan kirab. Saat apem di gunungan diperebutkan, Bapak juga tak kalah semangat mengambil apem-apem tersebut.

Ketika pulang, saya beranikan diri bertanya kepada Bapak.

Mengapa Bapak tiba-tiba pergi ke kirab?”

Bapak diam. Lalu menerawang jauh. Ia menjawab pertanyaan saya.

Kemarin malam, Bapak bermimpi dikejar air bah dari Sungai Bengawan Solo ketika duduk di teras rumah, sedang warga lain sedang menonton kirab. Bapak takut dan menjerit. Setelah itu Bapak bermimpi warga sekampung mengejar Bapak dengan membawa obor. ”

Saya terpaku. Kini saya tahu mengapa ada teriakan dari kamar Bapak pada malam sehari menjelang kirab. Tapi dalam hati saya bersyukur. Jati diri Bapak telah kembali.

Siti Mutmainah

(Mahasiswa Pendidikan Biologi UNY)

Check Also

Jazz Untuk Nada

Kota gelap mendung seperti gerhana Dan angin turun dari gunung tengah kota Berhembus menuju selatan …