Home » Sastra » Cerpen » Wanita dan Kafe Seberang Taman Kota

Wanita dan Kafe Seberang Taman Kota

Petang ini langit mendung. Padahal baru kemarin selesai musim kemarau. Berita dari televisi mengatakan bahwa hari ini kemungkinan akan turun hujan. Hari ini bisa jadi hari pertama turun hujan setelah sekian lama kemarau menjangkiti kota metropolitan ini.

Wanita itu seperti biasa datang ke kafe seberang taman kota hanya di hari Sabtu petang, setelah mega matahari tak terlihat lagi. Ia tinggi dan cantik. Meski dalam remang, kulitnya yang kuning langsat dengan bibir merah merekah tetap terlihat. Dagunya yang runcing dilengkapi dengan alis matanya yang tebal dan sorot matanya yang tajam. Usianya mungkin sekitar dua puluh lima. Ia menggerai bebas rambut hitam ikalnya seperti biasanya.

Seperti biasa, sebelum masuk ke kafe itu ia selalu bercermin lewat kaca mobilnya. Mobilnya terparkir tidak di depan kafe itu, tapi di parkiran taman kota. Ia seperti wanita karir dari penampilannya. Pakaiannya selalu terlihat modis dan mewah setiap kali datang. Tak cukup bercermin ke kaca mobilnya, ia akan bercermin lewat kaca sisi depan kafe. Ia akan menata rambutnya lagi dan merapikan penampilannya.

Setelah masuk, ia akan langsung menuju meja paling pojok dekat jendela di paling ujung kafe. Tanpa melihat menu, ia akan langsung memesan. Kopi Americano adalah pesanannya yang tak pernah tergantikan.

Kafe yang ia datangi tidak begitu ramai, meskipun notabenenya dekat taman kota. Kafe itu menggunakan kaca tembus pandang sebagai sisi depannya. Dengan begitu siapa saja yang masuk ke kafe itu akan bisa langsung memandangi taman kota. Tak terkecuali dengan wanita itu. Beberapa menit di awal, ia akan fokus memandangi taman kota lewat jendela kafe.

Sang pemilik kafe, Rafi, selalu memperhatikan wanita itu. Ia pandangi wanita itu lewat punggungnya. Rafi sesekali melihat wajahnya, tapi hanya dari sisi kanannya ketika wanita itu memandang keluar. Wajah wanita itu selalu tergurat senang ketika ia memandang lewat jendela.

***

Aku memandangi jalanan yang ramai oleh lalu lalang kendaraan kota. Kotaku akan semakin menggeliat ketika malam tiba. Apalagi ini malam Minggu. Pasangan muda mudi akan terlihat memenuhi jalanan, tak peduli macet. Hari ini aku melihat seorang wanita cantik di seberang jalan seperti menunggu seseorang, kekasihnya mungkin. Aku sama dengan wanita di seberang jalan itu. Petang ini, aku menunggu kekasihku yang bernama Rangga. Kekasihku selalu menemuiku di kafe seberang taman kota ini setiap Sabtu petang.

Aku selalu datang lebih awal dan langsung menuju meja paling ujung kafe ini. Aku akan menunggu Rangga yang datang sekitar sepuluh menit kemudian. Menunggu Rangga tidak pernah membosankan bagiku. Dengan melihat wajahnya, aku seperti mendapat nikmat yang tak terhitung. Apalagi berbicara dengannya. Setiap Sabtu petang, di kafe ini, kami selalu bercerita tentang kehidupan kami masing-masing. Umurnya yang berusia dua puluh tujuh tahun, terpaut dua tahun di atasku membuatnya lebih dewasa dalam menyikapi berbagai hal.

Rangga selalu memarkir mobilnya di taman kota di seberang sama seperti diriku. Lalu ia akan menyusuri jalan taman kota dan menyeberang ke kafe dengan bantuan lampu lalu lintas. Kafe dan taman kota di seberang dekat dengan salah perempatan besar di kota ini. Melalui kaca tembus pandang di kafe ini, aku bisa memandangi Rangga yang berjalan tergesa-gesa sambil membawa bunga di tangan kirinya. Aku akan tersenyum-senyum sendiri memandanginya dan mataku sudah tentu berbinar. Setelah menyeberang, Rangga akan masuk ke kafe ini, memesan kopi mericano dan datang menemuiku yang telah menunggunya di ujung kafe.

“Silvi! Apa kau sudah lama menunggu di sini?”

“Rangga! Ah, tidak. Baru beberapa menit,”

“Kau bisa tebak apa yang kubawa?”

“Tentu. Kau selalu membawa sekuntum mawar merah, bunga kesukaanku.”

“Apa kau ingin aku mengganti bunga ini?”

“Tidak, Rangga. Aku selalu suka dengan bunga mawar ini”

“Tentu saja itu dirimu, Silvi. Bagaimana dengan kehidupanmu hari ini? Kau baik-baik saja bukan?”

“Hari ini indah. Tapi tidak dengan kemarin. Berat rasanya. Tapi kau tahu, aku akan selalu menenangkan diriku, karena aku selalu meyakinkan diriku aku akan menemuiku setiap Sabtu petang.”

“Benarkah? Kau selalu pintar menggodaku, Silvi. Apa kau akan bercerita lebih lanjut kepadaku?”

“Kau siap mendengarkan?”

“Siap, tuan putri!”

Rangga selalu medengarkan ceritaku, bahkan aku tak segan menangis sesenggukan di depannya. Tapi Rangga selalu bersikap dewasa. Ia akan selalu menenangkan diriku dan membuatku tertawa kembali, ia juga tak jarang menceritakan kisahnya kepadaku. Tapi ia selalu menceritakan hal yang menyenangkan, tak sedikitpun kisah sedih.

Kami akan bersama hingga waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Aku tak pernah menghabiskan kopiku. Kami juga tidak pernah makan di kafe itu. Apabila sudah pukul sembilan, kami akan menyudahi pembicaraan.

“Jaga dirimu baik-baik, Silvi! Aku mencintaimu. Sangat.”

“Tentu, Rangga. Kau juga, Rangga, jaga dirimu dengan baik!”

“Tetaplah tegar meski tanpa diriku, cantik!”

“Sudah pasti, aku masih bisa bertemu denganmu. Aku berpikir itu akan selalu membuatku lebih baik”

Rangga sudah tentu akan mengantarku menuju mobilku. Namun tak dinyana, hari ini ternyata turun hujan. Sayangnya, aku dan Rangga tak ada yang membawa payung. Kami harus berjalan di bawah hujan yang mulai deras mengguyur bumi.

Seperti biasa, kami harus menyeberangi perempatan besar nan ramai itu. Kami akan menunggu hingga lampu pejalan kaki berubah hijau. Entah darimana, tiba-tiba sorot lampu kendaraan tajam mengenai mataku. Aku silau sebentar. Tapi dalam waktu sekejap itu, aku merasakan tubuhku didorong ke belakang. Aku tak bisa melihat apa-apa karena rambutku bergerak menutupi mataku. Kepalaku membentur tiang lampu, dan aku tak sadarkan diri.

***

Sejak kejadian ketika hujan pertama setelah kemarau itu, ia tetap rutin mengunjungi kafe Rafi. Tapi kini penampilannya sedikit berubah. Memang ia tetap cantik, kali ini rambutnya tidak dibuat tergerai lagi, tetapi dikuncir kuda. Ia juga membawa payung. Musim hujan mungkin, pikir Rafi.

Seperti biasa, Rafi tak pernah bosan memandangi wanita itu. Setelah sepuluh menitan menunggu, wanita itu tak pernah memandang lewat kaca lagi. Ia akan duduk sambil menggerak-gerakkan kakinya. Kadang menangis sesenggukan. Sesekali ia mengubah posisi duduknya. Sama seperti ketika ia dulu datang dengan lelaki itu.

***

Aku mulai menyukai rambutku yang dikuncir kuda. Namun, aku tak tahu kenapa aku mulai menyukainya. Hari ini seperti biasa, aku selalu datang ke kafe ini di Sabtu petang, usai mega merah tak terlihat lagi.

Aku selalu datang lebih awal dan menunggu Rangga seperti biasa. Entah mengapa, empat pekan terakhir, lewat kaca kafe ini, aku tak pernah melihatnya datang. Aku juga tak mendengarnya memanggil namaku sebelum dia duduk. Yang aku tahu, setelah sepuluh menit menunggu, dia sudah ada di depanku, duduk di kursi.

Rangga juga jarang bicara akhir-akhir ini. Dia hanya menatapku dengan matanya yang tak lagi bersinar terang. Tapi, aku tetap suka dirinya. Toh, aku tetap saja menceritakan kisahku dan menangis sesenggukan di depannya. Dia hanya tersenyum lagi dan lagi entah hingga berapa puluh kali.

Menjelang pukul sembilan malam, aku menghentikan cerita. Aku mengajak Rangga pulang, karena dia sekarang tak pernah mengajakku pulang lebih dulu. Dia akan bangkit dari duduknya ketika aku sudah beranjak dan melangkah beberapa langkah., lalu mengekorku. Aku menyapa pemilik kafe ini. Ah! Aku baru ingat ini pertama kalinya aku menyapa pemilik kafe ini setelah sekian kalinya aku pergi ke kesini. Dia sedang duduk di dekat meja kasir dan tersenyum ke arah kami, tapi hanya menatap ke arahku. Aku membukakan pintu, menunggu Rangga keluar, lalu menutup pintu kafe itu. Sang pemilik kafe masih terlihat mengamati kami dengan seksama. Aku acuh saja.

Ternyata di luar hujan, tapi hanya aku yang membawa payung. Kali ini aku yang memayunginya, padahal biasanya dia yang memayungiku. Lalu, ia akan menuntunku menyeberang jalan.

Aku menunggu lampu hijau sambil memayungimu sampai orang-orang di jalan itu memandangiku dengan tatapan aneh. Apa yang mereka pikirkan tentangku? Kupikir tak ada yang aneh denganku. Wajar bukan, aku memayungi kekasihku yang tidak membawa payung? Karena terlalu memikirkan mereka, aku hampir tertinggal barisan penyeberang jalan itu.

Aku baru akan menginjakkan kakiku untuk menyeberang ketika tiba-tiba sorot lampu kendaraan mengenai mataku. Aku silau lagi. Aku hampir terbentur tiang lampu seperti empat pekan lalu, tapi aku merasa ada yang menghalangiku untuk mengenainya. Payungku terbang ke langit.

Aku merasakan Rangga membisikkan sesuatu ke telingaku. “Kau akan selamat, Silvi. Tenang saja. Kau tidak akan lagi pingsan seperti empat pekan lalu”, bisik Rangga. Tapi aku tak merasakan jiwanya saat itu. Yang kutahu, setelah aku mampu berdiri tegak lagi, aku melihatnya terbang ke langit, naik lagi dengan perlahan, dan terus naik hingga aku tak melihatnya lagi.

Rangga tersenyum dan melambaikan tangan ke arahku. Aku membalas lambaian tangannya. Tapi orang-orang di depan kafe yang berlari karena mendengar suara kendaraan mengerem keras, berbisikan aku mungkin frustasi karena aku melambai balik ke Rangga. Tapi, hari itu Rangga memberitahuku sesuatu.

***

Sabtu petang tepatnya pukul sembilan, empat pekan setelah kejadian kecelakan di depan kafenya, Rafi melihat wanita itu beranjak keluar. Rafi yang sedang duduk di dekat kasir kaget ketika wanita itu menyapanya. Itu pertama kalinya! Rafi memandangi wanita itu ketika membuka pintu. Lama ia menahan pintu itu lalu menutupnya.

Wanita itu memakai payung di luar sana. Rafi hampir berteriak ketika melihat melalui kaca kafenya ketika wanita itu hampir ditabrak sepeda motor. Ia seperti akan membentur tiang lampu di pinggir jalan. Kaget dan menghindar mungkin, pikir Rafi. Rafi sontak berlari ke luar kafe untuk memastikan keadaan wanita itu.

Rafi melihat wanita itu berdiri degan tegak. Baik-baik saja. Orang-orang mengerubutinya. Tapi wanita itu tak peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Ia hanya melambaikan tangannya ke langit yang bermandikan air hujan. Padahal Rafi jelas-jelas saat itu, tak melihat siapa-siapa di sana. Hari itu Rafi tahu mengapa wanita itu datang lagi ke kafenya meski hanya datang sendiri.

Hari berikutnya, sekitar pukul delapan malam, Rafi yang tengah berjaga di kafenya kaget dengan kedatangan wanita itu. Wanita itu mendekatinya dan memesan kopi Americano lalu membayar. Tapi kopi itu diserahkan kepada Rafi.

“Ini untukmu, pemilik kafe. Terima kasih untuk semuanya selama ini. Hari ini aku telah menemukan kuburan kekasihku. Dia tersenyum kepadaku di samping kuburan itu.”

Rafi tercekat. Wanita itu hanya tersenyum manis dan melangkah keluar kafe lalu menyeberang jalan menuju parkiran dekat taman kota. Di luar, air hujan mulai berjatuhan lagi ke bumi. Langit menangis rupanya.

Siti Mutmainah 

(Mahasiswa Pendidikan Biologi UNY 2015)

Check Also

Masak dalam Mimpi

Oleh Muhammad Lutfi (Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Sebelas Maret)   Masak dalam Mimpi Seorang …