Home » Sastra » Cerpen » Balada Kepala Rumah Tangga

Balada Kepala Rumah Tangga

pixabay.com

“Mau kubuatkan kopi?” Deni, sahabatku, bertanya. Akhirnya ada obrolan lagi setelah beberapa menit diisi kekosongan.

“Tidak usah. Aku harus pergi,” jawabku menggeleng.

Deni mendongak ke arah jendela. “Tapi di luar hujan. Entah berhenti saat kapan. Di sini saja dulu,” pintanya.

Akhirnya kuurungkan niat tersebut setelah tadi bersiap-siap akan pulang ke rumah. Dan aku hampir lupa menyampaikan sesuatu padanya.

Deni sahabatku sejak kecil. Ia teman sebangkuku saat SD, bersekolah di sekolah yang sama saat SMP dan SMA walau beda kelas, dan rumah kami dulu berdekatan. Selesai SMA, ia merantau untuk kuliah sedang aku memilih bekerja.

Sekira selepas magrib tadi, aku berkunjung ke rumah kontrakkan tiga petak—yang memanjang ke belakang—Deni yang letaknya tak jauh dari rumahku. Biasanya ia sudah pulang bekerja.

Akhir-akhir ini aku pusing, oleh beban hidup yang makin rungsing. Aku butuh teman mengobrol untuk menceritakan apa-apa yang terjadi di hidupku. Dan Deni juga bisa bercerita apa saja kepadaku. Jadilah aku main ke rumahnya.

Tentunya, tujuanku ke rumahnya tidak sekadar ajang buang-buang waktu. Tapi aku juga butuh pinjaman uangnya.

Kupikir, Deni yang usianya sudah di ujung dua puluh dan belum menikah, pastilah punya simpanan uang walau sedikit, dan bisa meminjamkan uangnya untukku.

“Tunggu sebentar, kubuatkan kopi dulu,” katanya, lalu ia beranjak ke ruang tengah rumahnya.

Aku mengangguk.

Dari ruang tamu, kudengar suara dentingan antara sendok dan gelas kaca. Tak lama, ia kembali lagi membawa dua buah gelas kaca berukuran kecil di tangannya, dan berjalan terburu karena panas. Lalu meletakkan gelas itu di lantai tepat di depanku dan ia duduk bersila.

Di luar, hujan makin deras. Katanya, “Sudah, kaunikmati dulu kopi ini. Kaupulang saat hujan reda saja.”

Aku mengangguk berterima kasih. Gelas yang ada di depan kuambil, mulutku monyong meniup kopi yang masih panas, lantas menyesapnya pelan. Setelah itu kutaruh gelas dengan hati-hati.

Dingin-dingin begini, aku jadi ingat Dahlia, istriku. Yang sedang berada di rumah dengan anak perempuan kami, yang sebulan lagi berusia lima tahun. Bukan karena aku jadi ingin memeluknya, tapi aku khawatir dengannya yang sejak kemarin sakit.

Tak terhitung berapa kali ia bolak-balik kamar mandi, beraknya mencret dan sesekali ia muntah. Aku kasihan melihatnya karena tubuhnya jadi lemas akibat dehidrasi. Dan meski sudah kuberi obat muntaber—yang itu pun hasil ngutang di warung—sakitnya tak kunjung membaik. Pening kepala ini.

“Bagaimana pekerjaanmu, Den?” tanyaku basa-basi. Biasanya kalau sedang mengobrol, aku tak pernah menanyakan soal pekerjaan.

“Alhamdulillah lancar. Kautahulah, pasti ada saja orang-orang yang menyebalkan di tempatmu bekerja.”

Aku coba tertawa tapi tak bisa. Deni nyengir saja.

“Kalau kau bagaimana?”

Sontak aku terkejut, untuk kemudian otakku berusaha memilah-milah jawaban terbaik. Topik obrolan yang salah, pikirku. Kukatakan saja padanya, kalau aku selama dua bulan ini tidak bekerja.

Bukannya tidak mau bekerja, kebetulan pabrik sedang sepi produksi dan kontrak kerjaku habis berbarengan dengan itu semua. Jadilah kontrak kerjaku tidak diperpanjang dan kini sedang menunggu panggilan kalau produksi di pabrik sudah normal lagi.

Deni menasihatiku untuk bersabar, sebab katanya, ini ujian.

Aku mengamini.

Alamak! Kenapa satu per satu jadi terbongkar begini. Ngomong-ngomong soal aku yang kini tidak bekerja, aku jadi dag-dig-dug pada setiap awal bulan yang biasanya untuk membayar cicilan sepeda motorku. Bukannya apa-apa, sudah dua bulan sejak aku menganggur, aku selalu menunggak pembayarannya.

Dan di penagihan yang terakhir, aku minta penangguhan pembayaran untuk dua bulan berikutnya. Pihak dealer memaklumi, tapi hanya untuk satu bulan.

Di situasi yang sedang sulit begini, kalau kupikir-pikir, aku ini beruntung juga. Tiap bulan hanya membayar cicilan sepeda motor. Meski sekarang juga, harus coba bertahan hidup dari hari ke hari.

Setidaknya, aku tidak perlu repot-repot membayar uang kontrakan setiap bulan, karena aku tinggal di rumah sendiri. Rumah yang diberikan untukku sebagai anak satu-satunya, dari ayah dan ibu yang keduanya sudah tiada.

Sebenarnya, aku bisa saja meminta tolong pada sanak saudara. Kalau dari Dahlia, tentu tidak mungkin karena hanya ia sendiri yang ada di kota, semua keluarganya di kampung. Sedangkan dengan paman dan bibiku, aku mencoba untuk tidak langsung meminta tolong di situasi yang menurutku tidak terlalu sulit.

Bukannya belagu, tapi masalah seperti itu yang kalau keluarga tahu, urusannya bisa rumit. Dan aku yakin bisa mengakhiri semua ini. Lagipula, aku tidak terlalu dekat dengan paman dan bibi. Malah aku lebih mengenal Deni dengan baik.

“Aku jadi lapar,” pernyataan Deni membuyarkan lamunanku. “Kau sudah makan?” tanyanya.

“Sudah. Sebelum datang ke sini, tadi aku makan di rumah,” aku berbohong.

“Jangan bohong,” sial, tertebak. “Kita makan dulu. Nanti kubeli nasi goreng. Kau tunggu sebentar di sini, ya.”

“Siap!” balasku mantap.

Kemudian Deni melangkahkan kakinya ke luar rumah, tak lupa membawa payung, dan berjalan sebentar menuju tukang nasi goreng yang biasa mangkal di seberang jalan depan rumahnya. Sambil menyulut sebatang rokok milik Deni yang kuambil dari bungkusnya, yang diletakkan secara sengaja, aku berdiri memperhatikan Deni yang terlihat dari ambang pintu.

Sepuluh menit berlalu, Deni datang membawa kantong plastik hitam berisi dua bungkus nasi goreng. Satu bungkus yang diikat oleh dua karet, ia ambil. Sisanya, yang diikat satu karet, ia berikan untukku. Aku mulai memakannya sedang Deni mengambil air minum di ruang tengah.

“Sebenarnya, yang punyamu kupesankan pedas juga,” kata Deni.

“Ya, cukup pedas, kok,” aku menimpali.

“Tapi yang punyaku lebih pedas darimu. Tadi aku minta ke penjualnya. Makanya karetnya dua.”

“Gila, kalau sepertimu, bisa sakit perutku.”

“Entah kenapa akhir-akhir ini aku suka melahap yang pedas-pedas,” katanya bersemangat, sambil mengelap keringat di kening. “Semacam ada yang membuat adrenalinku terpacu.”

“Kurasa itu wajar, apalagi kau, kan, sebelumnya anti dengan yang pedas-pedas.”

“Ya, aku menyesal karena telat menyukai dunia yang membuat keringat mengucur ini.”

Sesuap demi sesuap nasi goreng coba kuhabiskan. Saat aku menenggak air minum karena rasa pedas, entah kenapa atau mungkin terburu-buru, aku tersedak, hingga akhirnya batuk-batuk. Tapi seketika aku jadi tak bernafsu menghabiskan nasi goreng yang tinggal sedikit itu. Seperti ada yang membuatku ingat kembali akan sesuatu setelah tadi terlupakan.

Aku khilaf, pikirku. Aku merasa menyesal. Sementara di sini perutku kekenyangan, mungkin di rumah, anak dan istriku sedang kelaparan. Aku jadi ingat kalau mereka terakhir kali makan yaitu pagi tadi.

Apalagi Dahlia sedang sakit, dan anakku yang masih kecil, harus rasakan perihnya hidup ini. Aku cuma bilang ke anakku, kalau nanti siang ia merasa lapar, minumlah air putih yang banyak. Untungnya, ia tidak merengek. Kurasa karena memang belum mengerti.

Sedang sisa uangku yang terakhir, sudah habis untuk membeli lauk buat sarapan tadi. Segera kulahap nasi goreng yang tinggal sedikit itu. Minum seteguk untuk menghilangkan sisa-sisa nasi yang terselip di gigi. Lalu mengatakan maksudku kepada Deni.

“Den, boleh kupinjam uangmu? Kalau aku sudah bekerja, akan kuganti,” kataku sedikit memelas.

“Boleh. Kau tidak perlu pikirkan bagaimana cara untuk menggantinya,” balasnya. Untungnya Deni langsung mengiyakan.

“Tapi pasti akan kuganti.”

“Itu terserahmu.”

Aku tidak menyebut nominal pastinya, tapi Deni memberiku uang 200 ribu. Tentu aku berterima kasih. Di pikiranku, saat aku pulang menuju rumahku nanti, uang ini akan kubelikan dua bungkus nasi goreng, untuk makan mereka berdua. Sisanya kuberikan untuk Dahlia.

Tak lama, aku pamit pulang kepada Deni. Meski di luar masih hujan. Kuterobos pelan-pelan.

13-02-17, jkt

Vitra Fhill Ardy

Check Also

Jazz Untuk Nada

Kota gelap mendung seperti gerhana Dan angin turun dari gunung tengah kota Berhembus menuju selatan …