Home » Sastra » Cerpen » Bacalah, Hingga Kita Kembali

Bacalah, Hingga Kita Kembali

dok.istimewa

Lelaki tua itu berjalan perlahan. Gerobak yang ia bawa penuh dengan barang bekas dan juga beberapa plastik yang bisa dijual kembali kepada pengepul. Satu bungkus nasi, kretek, dan segelas kopi cukup untuk ia beli dengan barang-barang bekas itu. Terkadang, jika ia memilki lebih, ia akan tabungkan di celengan ayam bobroknya. Tempat tinggalnya tepat di samping kali, berderetan dengan ratusan orang yang bernasib sama dengannya. Sangat kumuh, kotor, bau, dan itu sudah menjadi bagian dari hidupnya sehari-hari.

Setelah selesai makan, ia khidmatkan dirinya untuk menikmati batang-batang kretek yang masih di dalam bungkusnya. Ditariknya secara perlahan, hingga bara api di ujung kretek merah menyala, lalu dihembuskan secara mantap asap kreteknya. Fuuhh.. terdengar suara asap yang ia nikmati untuk menyantaikan paru-parunya itu. Baginya, kretek sudah menjadi kebutuhan pokok disamping pangan.

Setelah selesai menunaikan ngopi, dan menghabiskan kretek yang menjadi aktivitas wajibnya itu, ia pergi ke sumur umum. Sumur umum yang dipakai tetangga-tetangga sekitarnya. Ia ambil wudu, dengan secara telaten untuk membersihkan badan dari kotoran-kotoran. Ini sudah menjadi kebiasaan lamanya dari dahulu. Setelah selesai mengambil wudu, ia langkahkan kaki rentanya itu ke arah masjid. Setelah salat isya, ia mengambil Quran tua yang ia bawa dari gubugnya dari atas meja tua. Ia ingin membacakan Quran dengan kesendiriannya itu. Baginya, masjid menjadi tempat yang tepat untuk membaca kalam Tuhannya.

Ia mendekap Quran itu hingga subuh menjelang.

Orang-orang kampung Pemulung sering mendengar alunan ayat-ayat suci bergema tiap malam. Bagi mereka, itu adalah suatu hal yang aneh. Bagaimana tidak? Masjid sudah lama ditinggalkan, dan pengeras suara sudah lama sekali rusak dan tak dibetulkan. Yang salat di sana hanya terhitung jari juga. Yang aneh, bagi mereka (para penduduk) adalah suara lantunan ayat Quran yang menggema kencang ke setiap telinga mereka. Suara itu tak terlalu kencang, tapi seperti angin tipis yang masuk ke telinga mereka.

Hingga suatu hari, mereka sadar bahwa itu adalah perbuatan lelaki tua yang tinggal di pinggir kali.

Para penduduk kampung mulai mengeluarkan pendapat masing-masing saat fenomena itu kian marak. Ada yang berkata bahwa itu adalah hal-hal yang wajar saja, tapi ada juga yang berkata bahwa lelaki tua itu adalah seorang soleh yang di utus Gusti Allah untuk memberi peringatan kepada penduduk yang jarang salat. Ada juga yang berpendapat negatif, bahwa lelaki tua itu adalah seorang anggota organisasi radikal. Entah, mana yang benar dari pendapat para penduduk.

Tetapi mereka tak tahu, bahwa lantunan ayat suci itu terdapat kisah yang mengiris hati.

Pemuda itu masih saja sibuk menenggak bir oplosan di tangannya. Mulutnya belepotan, dan bau alkohol yang teramat menusuk. Bagi pemuda seumurannya, ia terlihat lebih tua dan lusuh. Bisa jadi orang-orang akan menganggapnya lelaki separuh baya. Padahal, umurnya masih kepala tiga. Ia sudah tak punya siap-siap lagi di dunia ini, bahkan di kampung pemulung ia tak punya sanak saudara, atau sekedar kawan setia. Ia benar-benar penyendiri. Dulu sempat ada yang mau menemaninya, seorang perempuan muda yang biasa saja, yang tak ada keistimewaan bagi orang lain.

Tapi, bagi pemuda itu perempuan itu sangat istimewa. Ia teramat istimewa karena mau menjadi pelipur lara sang pemuda. Hingga suatu hari, perempuan itu dipaksa menikah dengan seorang duda kaya. Pupus sudah harapan, asa, juga tujuan hidupnya. Semenjak saat itu, ia hidup dengan kenestapaan dan kesengsaraan batin. Rutinitasnya kini hanya mabuk saja.

Ia tinggal sendiri di gubuk pinggir kali. Dekat dengan sumur umum milik warga. Dia tinggal tepat di sebelah gubug milik sang lelaki tua. Setiap malam, ia melihat lelaki tua itu melakukan hal yang sama berulang-ulang, tanpa pernah bosan dijalankan. Makan, kretek, wudu, lalu pergi ke masjid tua. Ia tak masalah dengan hal itu, yang penting bisa mabuk sepuasnya sudah cukup untuk melewati malam. Ia tak pernah peduli dengan kehidupan orang lain.

Tetapi satu hal yang kini menganggunya. Ia merasakan hal yang sama dengan warga kampung lainnya. Ia mendengar lantunan ayat Quran setiap malamnya. Awalya ia acuhkan, pura-pura tak peduli sama sekali, lalu mencoba tidur setelah mabuknya selesai. Tetapi lama-lama ia merasa percuma dengan itu semua. Suara lantunan ayat suci itu membuat mabuknya tak khidmat lagi. Ia merasa tak nikmat, dan lepas dari rasa khusyuk saat mabuk. Ia semakin kesal setiap harinya. Setan alas, suara ini berisik sekali ucapnya berulang kali dalam hati, saat mendengar lantunan Quran menggema setiap malam.

Pada malam yang kesekian, saat dirinya sudah tak bisa menahan sabar, sang pemuda menghampiri lelaki tua untuk memberinya pelajaran.

Lelaki tua tetap khidmat membaca Quran tua di masjid. Baginya, melantunkan firman Tuhan itu sudah harga mati yang tak bisa ditawar kembali. Ia memiliki janji kepada seseorang untuk terus membacakan kitab suci, bagaimanapun konsekuensinya, atau pun resiko yang akan ia terima. Hingga akhirnya ia sadar, bahwa ada satu orang yang tergerak hatinya untuk datang kepadanya. Seorang pemuda yang tinggal di samping gubugnya. Tapi lelaki tua sadar, bahwa pemuda itu tak datang dengan niat baik, atau ingin sekedar menyampaikan salam. Lelaki tua tahu dirinya dalam bahaya.

Lelaki tua tetap melanjutkan bacaannya. Hingga saat hampir pada ayat terakhir yang ia baca, tiba-tiba punggungnya merasa melayang keras. Ia ditendang dengan kaki seseorang. Saat ia balik menoleh, lelaki tua mendapati pemuda itu menangis keras.

Pemuda itu, kini dilihatnya, sedang memeluk Quran tua itu dengan sangat erat.

Perempuan muda itu sedang duduk termenung di depan rumahnya. Ia memandang ke langit malam yang kosong, tak ada bintang, dan tanpa awan sedikit pun. Ia sedang merindukan seseorang. Kekasih lamanya. Sembari melihat langit, tangannya sedang mengusap-usap perutnya dengan perlahan. Ia sedang hamil tua. Sebetulnya, janin dalam kandungannya milik suaminya kini. Seorang duda kaya yang terpaksa ia nikahi. Tetapi sudah kepalang tua, ia sudah menjadi ibu, maka tak ada jalan lain selain mencintai sang janin. Walau perempuan itu tak mencintai suaminya.

Ia lalu pergi ke dalam rumah, mengambil wudu, lalu menunaikan ibadah salat. Setelah itu, ia pergi mengambil Quran tua di atas meja. Ia coba untuk membacanya. Awalnya ia bisa dengan mudah membacanya, tapi kelamaan tak kuat rasanya untuk menahan emosi yang terkoyak-koyak. Ia menjadi semakin rindu kekasihnya. Quran itu adalah pemberian kekasihnya, untuk dirinya saat dahulu mereka masih bersama.

Quran itu adalah hadiah dari kekasihnya. Ia diberikan Quran itu agar selalu ingat membacanya, dan melantunkan ayat terus menerus. Kekasihnya, adalah guru mengajinya.

Mereka saling jatuh cinta saat pertama kali ayah sang perempuan memanggil kekasihnya untuk mengajari baca Quran. Rasa itu tumbuh dari satu ayat, ke ayat lainnya. Kekasihnya selalu menutup ngaji dengan membacakan surat Yusuf. Ia tahu, surat itu adalah kisah cinta Yusuf kepada Zulaikha. Ia makin merona saat tahu maksud kekasihnya tersebut.

Sayang beribu sayang, ayahnya sang perempuan melihat gelagat yang aneh dari mereka. Sampai akhirnya mereka ketahuan saling menyimpan rasa satu sama lain. Ayahnya buru-buru menikahkan dirinya dengan duda kaya kenalannya. Akad, dan resepsi langsung dilaksanakan berbarengan. Pupus harapan perempuan, dan pemuda untuk hidup bersama.

Tetapi, sang pria nekat datang saat pernikahan mereka. Walau dihalangi, ia memohon dengan berlutut kepada ayah sang perempuan. Ia hanya ingin mengucapkan kata-kata perpisahan. Bacalah Quranmu hingga kita, mungkin, akan kembali, katanya. Lalu sang pemuda pergi tanpa meninggalkan kata-kata lagi.

Sang perempuan hanya bisa menahan tangis saat melihat punggung kekasihnya.

Pemuda itu hanya menatap tajam kepada lelaki tua. Emosinya semakin teraduk setelah melihat Quran tua yang ada di atas meja. Apalagi, ia mendengar kisah lama itu kembali. Kisah yang pernah ia jalani. Ia semakin kalut, dan ingin menendang lelaki tua tadi. Hingga akhirnya, kata-kata keluar dari mulutnya itu.

“Bagaimana keadaannya sekarang?” Kalimat itu yang akhirnya keluar, dengan sesenggukan ia berbicara.

“Maafkan aku …” Lelaki tua hanya menjawab dengan sepotong kalimat singkat, tapi dilihat dari raut wajahnya sang pemuda mulai paham. Itu bukan kalimat yang bagus.

“Jelaskanlah, kumohon …” Sang pemuda berharap lelaki tua menceritakan kisah selanjutnya. Kisah bagaimana nasib kekasihnya itu.

Lelaki tua melanjutkan kisah itu kembali. Ia mencerocoskan kembali apa yang sudah terjadi di masa lampau, dan bagaimana nasib kekasih pemuda pasca ia menikah dengan duda kaya. Sang perempuan telah mati. Begitulah kisahnya, karena suaminya ternyata kaya dari hasil korupsi kas desa, lalu rumahnya dibakar. Kekasih pemuda, istri dari duda itu tak berhasil meloloskan diri. Perut besarnya menghalangi, karena ia sedang hamil tua. Sang perempuan hanya menitipkan Quran dan pesan kepada suaminya itu.

Dengan berat hari ia pergi, dan melihat istri dan anaknya mati dimakan si jago merah. Ia hanya pergi dengan Quran, dan surat di tangannya. Ia harus menyampaikan surat itu. Itulah penebusan dosanya terhadap istrinya.

Pemuda itu makin tak kuat menahan emosinya. Apalagi, ia kini tahu lelaki tua yang di hadapannya adalah duda kaya yang merebut kekasihnya. Ia ingin sekali menghajarnya. Tapi apa daya, kekasihnya telah mati. Semua akan percuma saja, walau lelaki tua siap dihajar, atau dibunuh jua. Itu tak akan mengembalikan keadaan.

Pemuda itu lalu pergi mengambil wudu, lalu dengan muka yang sudah bersih ia ambil kembali Quran tua itu. Ia membuka surat yang ada di dalamnya, lalu membaca Quran dengan khidmat. Ini sekian kalinya ia membaca kitab suci setelah ditinggal kekasihnya.

Lelaki tua hanya bertanya kepada pemuda itu.

“Apa isi surat itu?” Tanya sang lelaki tua dengan hati-hati.

Pemuda itu hanya menengok, lalu ia tersenyum, dengan tangisan yang perlahan di pipinya ia berkata ;

“Bacalah Quranmu hingga kita, mungkin, akan kembali” Sang pemuda melanjutkan bacaan Qurannya, lalu ia lantunkan Surat Yusuf dengan khidmat.

Malam itu, langit sudah tak kosong lagi. Kini ia penuh bintang, dan awan yang menggantung. Berisikan lantunan ayat Quran dari sang pemuda yang ditinggal mati kekasihnya.

Nasrullah Alif

(Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Check Also

Jazz Untuk Nada

Kota gelap mendung seperti gerhana Dan angin turun dari gunung tengah kota Berhembus menuju selatan …