Home » Resensi » Film » Rosetta: Menguntit Hidup Si Gadis Malang

Rosetta: Menguntit Hidup Si Gadis Malang

ARP Sélection

Pernah dengar istilah “Undang-Undang Rosetta”? Ini undang-undang yang melarang para bos menggaji karyawan remaja di bawah upah minimum di Belgia. Orang bilang, undang-undang ini adalah efek dari film Rosetta. Dua bersaudara Luc & Jean-Pierre Dardenne, sebagai sutradara, menepis klaim itu dalam wawancara dengan The Guardian pada 2006.

Tidak mengherankan jika klaim efek Rosetta tersebut begitu populer. Film ini memang menyajikan kisah suram persaingan kerja. Tentang Rosetta (Émilie Dequenne), gadis malang yang terlunta-lunta mencari pekerjaan, demi angan-angan “hidup normal”.

Dardenne bersaudara membuat film yang penuh aroma putus asa dan kecewa. Teknik sinematografis dan ketiadaan musik latar mengekalkan realisme yang muram. Tak diragukan, para realis skeptis bakal bertepuk tangan untuk ini.

Rosetta dicitrakan sebagai pemarah, keras kepala, dan punya sakit perut kambuhan. Ia kecewa akan hidupnya sendiri. Ia hidup dalam taman trailer yang belum lunas sewanya. Untuk makan, ia menjual pakaian bekas dan mencuri ikan. Ia pergi ke kota naik bus, mencari pekerjaan dan tak kunjung mendapatkannya. Ibunya yang tak kunjung sembuh dari kecanduan alkohol semakin memperparah kekecewaan.

Film berawal ketika Rosetta diberhentikan dari pekerjaan karena—kata bosnya—sudah habis waktu magang. Ia marah dan memberontak sampai polisi datang kemudian. Sehabis itu ia mencuri ikan di empang, lalu pulang dan marah-marah (lagi) memergoki ibunya (Anne Yernaux) berbau alkohol.

Awal film ini seolah menjanjikan romantika simpatik orang miskin. Berlatar kehidupan perkotaan, tentang gadis muda pengangguran, dan sepanjang film tak ada tetangga yang datang bergaul. Kehidupan kota dengan masyarakat individualistik, di mana ibu-anak yang sama-sama kacau hidup di dalamnya. Sempurna untuk mengais simpati pemirsa.

Pertemuan Rosetta dengan Riquet (Fabrizio Rongione) seolah menjadi titik awal jalan keluar. Berkat Riquet, Rosetta memperoleh pekerjaan pada seorang pengusaha wafel—bos Riquet sendiri. Mereka berteman, akrab. Karena Riquet pula gadis itu sesaat tampak bahagia seperti orang normal. Dalam sebuah adegan di pondokan Riquet, untuk pertama kali sepanjang film kita melihat Rosetta tertawa. Sampai-sampai ia mau menenggak bir—barang yang amat dihindarinya berkaca dari pengalaman sang ibu.

Dardenne bersaudara seolah memunculkan Riquet sebagai pahlawan. Berkat pria ini hidup Rosetta tidak kacau-kacau amat. Ia mulai bergaul dan punya hubungan sosial yang selayaknya, meski mungkin hanya Riquet satu-satunya teman yang ia miliki. Riquet, secara tidak langsung, menarik gadis itu dari hidup suram yang serba putus asa.

Namun, Dardenne bersaudara tak memakai formula klise membikin drama. Tidak menampilkan seseorang yang “bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian”. Alih-alih menampilkan hangat kehidupan sosial dan berkhotbah tentang moralitas. Sebagai realis garis keras, Dardenne bersaudara menampilkan tokoh yang “bersakit-sakit dahulu tetap sakit kemudian”.

Rosetta bekerja tidak terlalu lama. Si bos memecatnya guna memberi kerja bagi sang anak. Plot seakan dibalik lagi. Rosetta kembali kacau seperti semula, membuat perkembangan psikologisnya sepanjang film tampak sia-sia.

Riquet, sang pahlawan, kembali lagi menyelamatkan. Ia mendatangi Rosetta dan menawarinya bekerja sama. Selama ini Riquet mencurangi bosnya dengan menjual wafel bikinan sendiri, meraih uang lebih dengan menipu bosnya. Namun, Rosetta menolak, ia ingin pekerjaan, bukan kerja sama kecurangan. Kemudian, karena alasan praktis ekonomis, Rosetta menjebak Riquet untuk mendapatkan pekerjaan.

Sampai puncak konflik ini, simpati pemirsa bakal dibikin bergejolak. Siapa patut disalahkan? Ruang tafsir yang disediakan Rosetta sangatlah terbuka dan sulit diputuskan, kalau memang perlu. Sampai akhir kita dibikin bertanya-tanya dan menafsir.

Kita memang dibuat tak bisa memahami Rosetta sepenuhnya. Tak ada narator dalam film yang beralur maju dengan lempeng. Tak ada kilas balik, bahkan sisipan plot yang deskriptif pun tak ada. Latar belakang si tokoh utama sepertinya tak dianggap penting oleh Dardenne bersaudara. Kita hanya tahu kekacauan hidupnya dan itu saja. Tak ada sedikit pun penjelasan ke mana ayahnya atau mengapa ibu-anak itu memiliki hidup yang suram.

Keseluruhan film ini diambil dengan kamera tangan, dengan gambar bergerak-gerak tak stabil mengikuti si tokoh utama. Menjadikan film serasa minimalis dan menimbulkan efek visual yang unik—seakan kita ada dalam film. Ketika menontonnya, kita serasa menjadi sosok gaib, dengan pandangan terkunci untuk menguntit hidup si gadis malang.

Dardenne bersaudara sepertinya memang niat mengajak berpikir dan merenung. Ruang untuk menafsir Rosetta sangatlah terbuka. Pemirsa memang dipaksa berpikir untuk menyalami kejiwaan gadis itu. Sekaligus merenungi kondisi lagi tindak-tanduknya. Karena sutradara tak akan menyuapi kita dengan deskripsi-deskripsi dan narasi sang tokoh. Dalam film ini pun Rosetta tak pernah bermonolog, kecuali satu yang fenomenal, ketika ia hendak tidur: “Namamu Rosetta. Namaku Rosetta. Kau dapat pekerjaan. Aku dapat pekerjaan. Kau temukan teman. Aku temukan teman. Kau hidup normal. Aku hidup normal. Kau tak akan jatuh pada kebosanan. Aku tak akan jatuh pada kebosanan. Selamat malam. Selamat malam.”

Ikhsan Abdul Hakim

Check Also

Memotret Sisi Lain Dunia Fotografi Indonesia

Judul buku: Photagogos: Terang-Gelap Fotografi Indonesia Penulis: Tubagus P. Svarjati Tebal: xxix + 201 halaman …