Home » Resensi » Buku » Si Pembunuh Penyuka Bollywood

Si Pembunuh Penyuka Bollywood

Judul: Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu

Tahun terbit: Juni 2017

Penulis: Mahfud Ikhwan

Penerbit: Marjin Kiri

Desa Rumbuk Randu, desa yang konon dulunya banyak ditumbuhi pohon Randu itu memiliki sebuah kisah yang sampai saat ini masih dibungkam. Sebuah kisah tentang seorang pembunuh yang memiliki perawakan buruk rupa. Pembunuh itu bernama Mat Dawuk, dengan penampilan bibir cuil, hidung melesak, kulit hitam, rambut keriting kusut tidak terurus serta pakaian yang kumal, memang itu adanya. Membuat Mat, sapaan yang begitu pas berpenampilan sebagai pembunuh. Di tanah perantauannya yaitu Malaysia, Mat Dawuk biasa bekerja sebagai seorang pesuruh untuk sekadar memukuli maupun membunuh orang yang diincar.

Hidup di perantauan membuat Mat Dawuk lebih senang dibandingkan hidup di desanya sendiri. Di Rumbuk Randu ia selalu diasingkan oleh warga karena memiliki wajah yang buruk rupa serta kumuh dan tak terawat seolah-olah menjadi aib bagi warga Desa Rumbuk Randu. Bukan hanya itu, ayahnya sendiri mengutuk Mat Dawuk sebagai biang keladi kematian sang ibu saat kelahirannya. Dari kecil Mat Dawuk hidup terasingkan, hingga dewasa dia memilih untuk pergi ke Malaysia. Hal itulah yang membuat Mat Dawuk secara tidak langsung ditempa menjadi seorang pembunuh oleh lingkungannya sendiri.

Di perantauan Mat tinggal di sebuah bangunan berlantai dua yang berdekatan dengan perkebunan kelapa sawit. Dengan kondisi kamar yang seadanya, Mat Dawuk menyimpan segala sesuatunya di dalam kamar tersebut. Salah satunya Mat mengoleksi segala sesuatu tentang Bollywood. Mulai dari beberapa kaset lagu film India hingga dua poster yaitu aktor Sunny Deol yang sedang bergaya ala Rambo dan kemesraan Sunny Deol bersama aktris Poonam Dhilon yang ikut terpajang di kamarnya. Suasana seperti film Bollywood juga ikut dipraktikkan saat Mat Dawuk sudah memperistri Inayatun. Hampir setiap hari di rumah kandang bekas kandang sapi yang dekat dengan hutan, Mat dan Ina begitu romatis saat kejar-kajaran seperti di film ala India itu. Terkadang mereka sambil bernyayi lagu India yang dilakukan oleh Lata Mangeshkar dan Shabbir Kumar di film Betaab.

Akan tetapi, seperti dalam film Bollywood, ada juga bagian yang menampilkan tentang kesedihan yaitu saat Mat Dawuk sudah diikat di dalam rumah kandangnya. Lampu teplok yang biasa jadi penerang malah membakarnya hidup-hidup. Sambil menahan panas kobaran api yang mulai membakar rumah serta tubuhnya, Mat Dawuk mencoba mendendangkan lagu yang biasa dia nyanyikan bersama istrinya ketika masih hidup. Walaupun mulutnya disumpal, ia tetap mendendangkan itu, seperti berusaha mengingat kenangan terindahnya dengan musik India untuk terakhir kalinya.

Itulah sebagian cerita yang menggambarkan sosok Mat Dawuk dalam novel yang dituliskan oleh Mahfud Ikhwan. Penulis yang pernah menerbitkan beberapa buku salah satunya novel “Kambing dan Hujan” yang naskahnya menjadi pemenang di Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 2014. Mahfud mampu menghasilkan karya yang tidak berbeda jauh dari novel sebelumnya. Dalam novel ini penulis mencoba menampilkan sebagian unsur Bollywood dalam novelnya. Beberapa contoh di atas seperti menggambarkan Mahfud sangat menyukai apa saja yang berkaitan dengan Bollywood. Itu juga yang ditulis dalam buku yang berjudul “Aku dan Film India Melawan Dunia” yang berasal dari tulisan blognya.

Dalam novel ini Mahfud mencoba memberikan tulisan segar kepada pembaca. Selain memasukkan unsur tentang Bollywood yang memang jarang ditulis orang lain, tulisan ini menggabungkan antara realitas yang terjadi di masyarakat dengan bumbu-bumbu fiksi, hal yang menambah sisi menarik untuk dibaca. Penuturan dalam novel ini sangat jelas sehingga pembaca bisa merasakan langsung apa yang terjadi di dalam novel.

Namun, ada beberapa kekurangan dalam novel ini. Sudut pandang yang dipakai dalam novel ini selalu berganti. Mulai dari sudut pandang orang pertama sebagai pelaku sampingan, sudut pandang orang ketiga serba tahu, hingga sudut pandang orang pertama sebagai pelaku utama. Jalan cerita yang maju mundur membutuhkan tenaga ekstra untuk memahami alurnya ketika membaca Dawuk. Sehingga pembaca harus membaca ulang atau mengingat bab-bab sebelumnya untuk menjaga jalan cerita.

Bagas Nugroho

Check Also

1984: Dunia Buruk yang Mungkin Saja

George Orwell menerbitkan 1984, novel distopia yang cukup mengerikan pada 1949. Tiga puluh lima tahun …