Home » Margin » Dilema Kuliah Sabtu PTSP

Dilema Kuliah Sabtu PTSP

Senin (10/7) sebuah papan terpancang di atas lahan yang akan dibangun salah satu gedung dari dana IDB. Foto oleh Yasin/EXPEDISI.

Terdampak proyek Islamic Development Bank (IDB), Pendidikan Teknik Sipil dan Perencanaan (PTSP) kuliah Senin sampai Sabtu.

Selatan Masjid KPLT, Fakultas Teknik (FT), di sisi barat koridor, ada sebuah lahan terbuka yang dikelilingi tali warna kuning pada Minggu (30/7). Pada sebelah ujung barat, terpancang sebuah papan yang menunjukkan jika di atas lahan itu akan didirikan Civil and Structural Engineering Laboratory (CSEL) seluas 2.424 m2. CSE adalah laboratorium yang akan digunakan oleh mahasiswa PTSP. Tampak seorang pria mengenakan rompi oranye dan helm proyek tengah mengamati lahan tersebut.

Sejak dilakukan peletakan batu pertama untuk proyek 13 gedung hibah dana dari IDB oleh Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Muhammad Nasir, pada 22 Juli 2017 lalu, pekerja proyek tampak berkeliaran di 13 titik lokasi tersebut. Salah satunya di lahan bekas gedung kuliah mahasiswa teknik sipil itu.

Sebelumnya di lahan tersebut berdiri sebuah gedung yang biasa digunakan oleh mahasiswa Pendidikan Teknik Sipil dan Perencanan (PTSP). Kini gedung tersebut telah rata dengan tanah sejak Februari 2017. Sejak saat itu Suhada Martakim dan kawan-kawan di jurusan PTSP harus masuk kuliah hingga Sabtu ketika semester genap kemarin.

Martakim, yang kini akan menempuh semester tujuh, menceritakan pengalamannya ketika masuk kuliah hingga Sabtu. “Setiap Sabtu, saya ada mata kuliah Struktur Kayu pukul 07.30 sampai 09.00, setelah itu langsung dilanjutkan dengan mata kuliah Konstruksi Jalan hingga pukul 11.00,” tutur pria berbadan tegap dan berkacamata tersebut, ketika ditemui di depan gedung PKM FT, Jumat (23/6).

Martakim menginginkan kejelasan mengenai nasib jurusannya yang mengharuskan masuk kuliah hingga Sabtu. Padahal, jurusan lainnya hanya kuliah sampai Jumat. Ia juga butuh kepastian kapan gedung itu akan jadi karena banyak kawannya yang merasa terbebani.

Salah satunya adalah Ridwan Wicaksana. Ridwan baru terdaftar sebagai mahasiswa PTSP S1 pada 2016. Ketika ditemui di salah satu kedai makanan di Yogyakarta, ia menceritakan kisahnya selama kuliah semester dua. “Kerepotannya, saya harus bolak-balik Jogja-Kalasan untuk mengikuti satu mata kuliah setiap Sabtu. Kadang malah ada dosen yang mendadak pamit rapat,” tutur pria berambut gondrong tersebut pada Selasa (11/7).

Ridwan juga menyarankan agar pihak kampus melakukan sosialisasi dengan mahasiswa agar tidak ada keresahan. “Sebentar lagi mahasiswa baru akan masuk, jadi harus ada komunikasi dengan mahasiswa baru juga,” pungkasnya.

Penuturan lain datang dari Linda Marsela, mahasiswa PTSP 2016, saat ditemui di Student Center pada Selasa (11/7). Semester dua lalu, Linda mengambil 14 mata kuliah dengan bobot 24 SKS. Di Sabtu itu, mata kuliah yang diajarkan adalah Mekanika Tanah. Hal tersebut membuat Linda dan kawan-kawan kelasnya memiliki jadwal kuliah yang padat. Dengan adanya pembangunan gedung baru, otomatis kelasnya juga harus masuk kuliah sampai Sabtu.

Sembari duduk, Linda berkisah mengenai dampak pembangunan gedung baru tersebut. “Sejak gedung dirobohkan, ada beberapa dampak yang ditimbulkan. Alat-alat berat ditaruh di jalan, lalu ada ruang kelas yang difungsikan sebagai laboratorium, pun ada ruangan yang dibagi dua karena kita kekurangan ruang sejak gedung itu dibongkar,” tuturnya. Linda menambahkan, ia bersama teman-temannya justru lebih setuju jika jadwalnya dipadatkan sampai malam hari, yang penting tidak kuliah sampai Sabtu.

Nuryadin Eko Raharjo, Sekretaris Jurusan PTSP, mengatakan jika setiap angkatan memang kebagian 4 kelas. Semula di gedung itu terdapat Laboratorium Bahan Bangunan, Laboratorium Mekanika Tanah, Ruang Sidang, dan kamar mandi. Namun, akibat pembongkaran gedung tersebut, Laboratorium Mekanika Tanah dipindah ke ruang kelas sehingga masih tersisa 3 ruang kelas.

“Karena kekurangan ruang, jadi ya mundur sampai Sabtu,” kata Nuryadin, Jumat (21/7).

Selain PTSP, ada sebagian ruang di gedung tersebut untuk jurusan Otomotif dan Elektro. Sebagian mahasiswa dari kedua jurusan tersebut sementara menempati ruangan yang berada di KPLT lantai tiga.

“Kalau kita tidak kebagian dari fakultas, jadi kekurangan ruang. Senin sampai Jumat sudah full. Akhirnya, dipilih Sabtu. Kalau sampai malam, nanti nggak bisa praktik karena takut tangannya terpotong, kakinya terpotong. Pilih mana? Mending kuliah sampai Sabtu,” tegas Nuryadin.

Dian Eksana Wibowo, salah satu dosen PTSP, memberikan komentar berbeda saat ditemui di Laboratorium Hidrologi. Menurutnya, saat ini UNY sedang mempersiapkan untuk membuka Program Pendidikan Guru Sipil, serta beberapa program studi baru, seperti Teknik Sipil murni, dan Arsitek. Jika tidak ditunjang dengan sarana dan prasarana memadai, maka FT tidak akan berkembang.

“UNY memiliki keterbatasan dana, tapi dengan keterbatasan dana tersebut, bagaimana caranya agar terus berkembang,” kata Dian sembari sesekali mengetik di depan laptop.

Sebagai dosen, Dian mengajar mata kuliah Geo Teknik, Manajemen Konstruksi, Kesehatan Keselamatan Kerja, Praktik Kerja Batu, Gambar Bangunan, Autocad, serta Perencanaan Bangunan. Namun, dengan adanya pembangunan gedung baru, ia juga terkena dampak. Ia harus mengajar dari Senin sampai Sabtu dengan 16 SKS.

“Sejak gedung dirobohkan, ada beberapa dampak yang ditimbulkan. Alat-alat berat ditaruh di jalan, lalu ada ruang kelas yang difungsikan sebagai laboratorium, pun ada ruangan yang dibagi dua karena kita kekurangan ruang sejak gedung itu dibongkar,”- Linda Marsela

Hari Sabtu, ia mengajar dari pukul 07.00 wib sampai pukul 15.00 wib. Kendati demikian, Dian mengaku tetap semangat empat lima untuk mengajar. “Mau tidak mau, suka tidak suka, daripada kita kayak mesin sekolahnya sampai malam, le garap tugas kapan?,” lanjutnya. Dian menambahkan, “Yang jelas begini, kita di sini itu mencari sesuatu hal yang baik untuk kebaikan bersama. Memang tidak bisa dipungkiri, UNY juga butuh gedung.”

Kekurangan kelas tampaknya tidak hanya terjadi oleh PTSP. Dalam buletin EXPEDISI edisi September 2016 juga pernah diulas mengenai kekurangan ruang kuliah di UNY. Beberapa program studi yang kekurangan ruang kuliah tahun lalu adalah Pendidikan Administrasi Perkantoran, Bimbingan dan Konseling, serta Ilmu Komunikasi.

Dalam buletin tersebut, Edi Purwanta, Wakil Rektor II, meminta agar civitas akademik memaklumi masalah ruang kelas. Menurut pria berkumis yang selalu tampil rapi tersebut, kekurangan ruang kuliah hanya akan terjadi di periode ini karena sedang dipersiapkan untuk pembangunan.

Dilansir dari www.uny.ac.id per tanggal 24 Juli 2017, UNY termasuk tujuh perguruan tinggi negeri asal Indonesia yang memperoleh hibah dana dari IDB. Enam kampus lainnya adalah Universitas Negeri Surabaya, Universitas Negeri Gorontalo, Universitas Sam Ratulangi, Universitas Tanjungpura, Universitas Lambung Mangkurat, serta Universitas Syiah Kuala. Sutrisna Wibawa, Rektor UNY, mengatakan, masa pengerjaannya sendiri adalah 420 hari kerja.

UNY mendapatkan hibah dana sebesar 279 milyar rupiah yang akan direalisasikan menjadi 13 gedung. Salah satu dari 13 gedung tersebut adalah gedung CSEL setinggi tiga lantai yang dibangun untuk menggantikan gedung milik PTSP yang sebelumnya cuma satu lantai.

Majalah EKSPRESI edisi ke-29 menulis jika pembangunan gedung dari dana hibah IDB direncanakan mulai November 2016 dan harus selesai pada tahun 2017. Mengenai keterlambatan pembangunan tersebut, Slamet Widodo, Direktur Eksekutif Project Implementation Unit IDB UNY memberikan penjelasan ketika dihubungi lewat pesan singkat pada Selasa (4/7). Slamet menerangkan, proses standar apabila IDB menepati Standar Operasional Prosedur, maka lelang butuh 9 bulan dengan 5 tahap yang masing-masing butuh persetujuan IDB.

“Butuh 5 surat persetujuan IDB dalam 9 bulan. Hitungan awal selesai November 2016, tapi karena IDB punya proyek di semua negara Islam, terutama di Asia dan Afrika, maka harus mengantre,” kata Slamet. Sehingga 19 Juni kemarin baru bisa beres, lanjut Slamet.

Slamet menambahkan, saat ini proses di IDB sudah selesai, dan masuk kewenangan pemerintah Republik Indonesia. Persetujuan Mentri Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi keluar 5 Juli 2017, sementara tanda tangan kontrak dan groundbreaking dijadwalkan masing-masing tanggal 14 dan 22 Juli 2017.

Redaktur: Rofi Ali Majid

Reporter: Khansa, Muarifah, Yongki

*Tulisan ini dimuat juga di rubrik Tepi Buletin EXPEDISI Edisi III Agustus 2017 – Tak Diperhatikan,Pencemaran Limbah Mengancam

Check Also

Penyelamat Arsip Musik Indonesia

David Tarigan adalah pendiri Aksara Records, juga salah satu inisiator pengarsipan digital rilisan fisik piringan …