Home » Resensi » Buku » Dongeng Kontemporer dari Jawa

Dongeng Kontemporer dari Jawa

Judul Buku: Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi

Penulis: Yusi Avianto Pareanom

Penerbit: Banana

Tebal: 470 Halaman

Tahun Terbit: Maret 2016

Raden Mandasia, pangeran kedua belas Kerajaan Gilingwesi, adalah seorang pencuri dalam pengertian ia mengambil milik orang lain tanpa permisi. Tapi, ia bukan sembarang pencuri jika memang ada pengertian yang demikian. (Halaman 18).

Diceritakan ada seorang pemuda bernama Sungu Lembu, yang dalam novel ini berperan sebagai tokoh utama. Sungu Lembu adalah pemuda yang ingin balas dendam kepada Raja Gilingwesi. Balas dendam tersebut dipicu karena Kerajaan Banjaran Waru (kerajaannya Sungu Lembu) dijajah oleh Kerajaan Gilingwesi.

Dalam petualangan balas dendamnya itu, ia tidak menyangka akan mempunyai kawan seorang pangeran, anak dari Watugunung, raja Kerajaan Gilingwesi, yang ia incar kepalanya demi menuntaskan misi balas dendamnya itu. Pangeran tersebut bernama Raden Mandasia, seorang pangeran yang mempunyai kegemaran ganjil, mencuri daging sapi.

Sungu Lembu yang awalnya ingin balas dendam kepada ayah Raden Mandasia itu, akhirnya gagal membalaskannya. Dari awal, Raden Mandasia sudah mengetahui maksud dan tujuan Sungu Lembu, tetapi ia memilih diam dan tak mempermasalahkan itu.

Raden Mandasia senang menjadikan Sungu Lembu sebagai rekan dan teman dalam petualangannya, tempatnya berbagi cerita, sekaligus kawan perjuangan ihwal pencurian daging sapi, tanpa memedulikan maksud dan tujuan dari Sungu Lembu.

Raden Mandasia adalah jalan Sungu Lembu untuk bisa bertemu dengan Watugunung. Dengan memanfaatkan Raden Mandasia sekiranya bisa mendapat kesempatan untuk bertemu langsung dengan Watugunung menjadi lebih mudah. Namun, setelah Sungu Lembu berhasil bertemu dengan Watugunung, ia sudah mendapat kesempatan emas untuk memenggal kepalanya, hati Sungu Lembu malah luruh dengan pelbagai peristiwa yang telah dialami bersama Raden Mandasia sebelumnya.

Dalam salah satu bab dalam novel ini menceritakan tentang sosok Putri Tabassum, seorang putri kerajaan yang tidak pernah berkaca—konon cermin istana akan pecah karena tak tahan dengan kecantikannya itu— ia adalah Putri dari Kerajaan Gerbang Agung. Sang Putri adalah alasan Raden Mandasia dan Sungu Lembu pergi berpetualang meninggalkan istana.

Raden Mandasia bersama Sungu Lembu menempuh perjalanan yang sangat jauh demi sampai ke Kerajaan Gerbang Agung. Dalam perjalanan tersebut, keduanya masing-masing mempunyai kisah menarik yang berhasil dinarasikan oleh si penulis.

Salah satunya, ketika kedua pemuda itu bertemu dengan sang juru masak. Mereka tidak mengira, bahwa si juru masak bisa membuat makanan yang sangat lezat. “Sekiranya siang itu bukan acara resmi, orang-orang mungkin akan berebut dengan cara kasar untuk mendapatkan tambahan sebanyak mungkin dari daging yang disajikan di meja utama,” (halaman 313).

Selain tujuan bertemu dengan Putri Tabassum, Raden Mandasia sebelumnya ingin mencegah perang besar terjadi, antara Kerajaan Gilingwesi dengan Kerajaan Gerbang Agung. Namun, perang pun akhirnya tetap tak terhindarkan dan menimbulkan ribuan nyawa melayang—termasuk nyawa Watugunung.

Akan tetapi, bukan Sungu Lembu yang membunuhnya, ia akhirnya tak bisa memenggal kepalanya langsung. Watugunung tewas setelah berduel dengan pangeran dari Kerajaan Gerbang Agung, bukan dari pangeran Kerajaan Banjaran Waru—Sungu Lembu.

Dua laki-laki yang mempunyai latar belakang, tujuan, nasib yang berbeda, hingga akhirnya bisa akrab dengan sebuah petualangan seru. Mencuri daging sapi menjadi pembuka kisah perjalanan mereka. Perjalanan yang membuat mereka selalu dipenuhi adegan gembira, sedih, dan berbahaya membuat keduanya sudah seperti saudara yang selalu bersama.

Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi menceritakan kisah raja dan pangeran dari kerajaan-kerajaan yang pernah ada di tanah Jawa. Selain menyajikan peperangan yang membuat suasana tegang, pembaca juga disuguhkan penceritaan bercinta hasrat seksual si tokoh utama.

Dengan berbagai deskripsi adegan dewasa dan macam-macam kuliner yang tersaji di dalam cerita, akan membuat pembaca semakin tergoda dan semakin penasaran. Alur dan konflik yang terjadi antartokoh pun terasa nyata seperti terdapat dalam sebuah film kolosal yang dikemas secara lebih detail.

Novel ini menampilkan bagaimana kesetiaan dan kebaikan seseorang haruslah tetap dijaga. Tawa, tangis, canda, bahagia, sedih dan pelbagai umpatan akan tersaji dari awal, tengah hingga akhir cerita, serta dapat pula membuat pembaca mengumpat seketika. Pembaca akan merasa terbawa dalam dunia dongeng sungguhan.

Penulis memang berhasil menuangkan gagasan dan ide-ide kreatifnya dalam novel ini. Sayangnya, dalam novel ini alurnya meloncat-loncat, mulai bab awal hingga akhir, sehingga ketika membacanya harus lebih teliti. Ada cerita yang seharusnya di letakan di bab tengah atau terakhir, tetapi justru ditaruh di bab awal. Seperti bab yang berjudul “Malam Celaka”, di situ pembaca langsung terbawa dalam bagian klimaks cerita yang disajikan di awal. Meski begitu, dengan alur cerita yang meloncat-loncat, setidaknya pembaca seperti mendapatkan sebuah kejutan setiap membaca bab satu dengan bab lainnya

Sunardi

Check Also

1984: Dunia Buruk yang Mungkin Saja

George Orwell menerbitkan 1984, novel distopia yang cukup mengerikan pada 1949. Tiga puluh lima tahun …