Home » Sastra » Cerpen » Itulah Alasan Mengapa Kau Harus Hidup

Itulah Alasan Mengapa Kau Harus Hidup

Jerman, 17 Agustus 2017

Kau terjaga, menatap ke luar jendela. Matamu menatap pohon pinus kurus di pekarangan taman Obsevatorium La Silla. Kegelapan membuat pohon itu nampak kuat dan misterius. Pohon yang sudah berdiri sejak kapan, entah tahu. Tak ada yang menyadari keberadaannya. Tidak engkau, dan tidak pula orang lain. Pohon itu, agaknya cukup merasa nyaman hanya dipelihara oleh alam.

Diruang multimedia, kau sentuh ujung teleskop portable yang menjulang ke arah gelap malam. Kau mulai meneropong, menggeser sedikit teropong ke arah kanan, untuk melihat formasi bintang yang lain. Ketika matamu menemukan diantaranya, kau mulai terngiang. Kau tahu? tentang percakapan yang menggantung dan menyisakan kenangan itu.

Bahwasanya, kau mengingatnya, Sabtu sore di taman kota. Tiga jam penuh telah kau lalui hanya berjalan tanpa arah tujuan dengan seorang wanita. Tentu dengan perasaan yang berkecamuk diantara masing-masing. (Dan saat itu kau merasa orang yang paling terluka).

Disaat kalian duduk di kursi taman yang panjang itu. Kau memulai percakapan;

“Apakah kau akan berhenti bernyanyi?” katamu.

Wanita itu hanya terdiam, mengangkat bahunya dengan lemah.

“Seseorang yang tak punya hal untuk dilakukan atau ditunjukan pasti sangat kesepian,” katamu lagi.

“Memiliki suami terhormat, tentu akan banyak pantangan,” jawabnya dengan nada penekanan.

Kau bertahan untuk terdiam. Kau tahu, bukan waktu yang tepat untuk menyudutkan lawan bicaramu. (Bagaimanapun, kau takan bisa merubah kepastian.)

Kemudian malam datang, kalian menunggu bus untuk membawa kalian pulang dari cerita menggantung yang kalian ciptakan. Di halte, dengan nuansa kota yang ramai, mobil lalu-lalang memenuhi jalan. Agaknya bising keramaian kota cukup mewakili dua hati yang terdiam. (Tak ada yang mengerti, atau adakah yang harus dimengerti?)

Kau memulai berbicara, kali kini tentang bintang. Kenapa hidup di kota menjadikan jarang melihat bintang? katamu. (Kau menjelaskan dengan seksama). Bukan hanya asap kendaraan yang menjadikan penyebabnya. Ada yang disebut dengan polusi cahaya, dikarenakan cahaya yang dibuat manusia terlalu besar dan terang. Cahaya tersebut bisa berupa lampu-lampu gedung, papan iklan dan sebagainya. Cahaya tersebut menutupi cahaya bintang di langit. Keindahan alam dilupakan.

“Ah!” teriakmu sedikit pelan. “Sebenarnya, seberapa banyak bintang yang ada di atas sana yang seharusnya kita lihat?”

(Dan beruntung kau temui satu bintang dikegelapan malam itu, untuk mencairkan kesunyian.)

Jeda itu, kau berhenti bercerita ketika wanita itu mulai bertanya, “Apakah setiap malam kita melihat bintang yang sama?”

“Tidak.” jawabmu pasti. “Sebab, bumi berputar dan bintang tidak mengikutinya.”

Wanita itu tersenyum, ia memandangmu penuh takjub. Kau mulai melanjutkan cerita yang lebih spesifik tentang bintang.

Ketika bus datang dan malam telah lama larut, lewat jendela bus kau melihat bulan yang sibuk mengikuti kalian. Wanita itu duduk menyandarkan punggung pada kursi yang berhimpit dengan jendela baris nomor tiga samping kanan bus, kau pun di samping kirinya untuk berjaga. Ia memejamkan mata, lelah, mungkin mencoba untuk tertidur. Kau perhatikan wajahnya, cukup lama, dengan ragu—kau melakukan apa yang biasa seorang pria melakukannya, suatu yang kuno—kau meraih kepala gadis itu untuk kau senderkan di bahumu.

***

Kau yang patah hati, memulai hidup baru sebagai astronom muda di Max Planck Insitute for Astronomi (MPIA), Jerman. Kemampuanmu telah mempertemukan kau dengan planet yang kau beri nama ekstrakuli dan ekstrakuler. Kau yakin, penelitian dan cita-citamu sangat penting bagi ilmu pengetahuan, kau ingin mengungkapkan asal-usul alam semesta.

Alasan bahwa kau memilih jalan ini adalah (hal yang sangat sulit bagimu). Tapi kau yakinkan dirimu bahwa kau bukanlah orang yang lari. Kau hidup sebagaimana semestinya. (Atau semestinya kau memang harus hidup?)

Dan di luar, kabut mulai menyelimuti semua pandang pada bintang. Kau meninggalkan ruang multimedia itu, sudah dapat dipastikan—kau kembali memandang ke luar jendela.

(Bagaimana dengan wanita yang kau temui itu?) Kau sebut perihal percakapan yang menggantung itu. Lagi. Lagi;

Di bus. Wanita itu menolak ketika kau menjamah kepalanya untuk kau senderkan ke bahumu. Ia terbangun, menegakkan badan pada kursi baris nomor tiga sebelah kanan itu. Kepalanya dipalingkan ke luar jendela, berlawanan dengan kau.

“Kita bukan pasangan yang putus dan tidak saling mencintai lagi,” ucapmu kemudian. “Kau tidak harus mengambil jarak.”

“Kau tidak mengerti,” ucap wanita itu dengan nada keras.

“Tentu aku mengerti, sebab, aku meninggalkanmu.”

“Memiliki suami terhormat, tentu akan banyak pantangan.”

Kau terdiam. Mulai mengerti. Menghela napas panjang, lalu menyesal. Menjadi calon istri seorang gubernur tentu mempunyai banyak pantangan, pikirmu. Bahkan menolak untuk menikah sekalipun. (Dan kau merasa sungguh hidup itu tidak adil).

Matamu menemukan seorang penjual koran yang tertidur pulas di kursi depan samping kirimu. Ia memakai kemeja kotak-kotak coklat, bertopi, bercelana, semua nampak lusuh. Hanya sandal selopnya itu yang nampak baru. Kulitnya hitam dan kasar, mungkin karena seringnya ia terkena matahari. Diperkirakan umurnya 35 sampai 37 tahunan. Koran yang berada dalam pangkuannya terlihat masih banyak, mungkin tak laku terjual. Dan hidup memang tak adil, pikirmu. Bagiku, baginya, bagi penjual koran itu, dan mungkin bagi semua orang.

“Kau pernah mendengar cerita Olympus-negeri para dewa?” katamu memulai percakapan lagi. “Zeus adalah dewanya para dewa. Ia memerintahkan semua dewa untuk melakukan pekerjaan apapun yang ia mau.”

Wanita itu mulai lagi memperhatikan.

Kau melanjutkan, “Kau tahu mengapa ada kehidupan kita ini? Zeuz, si dewanya para dewa itu, ia yang memerintah. Ia ciptakan manusia pertama melalui dewa Prometheus, dan diberinya manusia keistimewaan di bumi.”

Wanita itu menengahi, “Dalam agamaku tidak begitu.”

Ah..!! Tidakkah sekali ini saja tidak membawa nama ‘agama’, katamu dalam hati. Aku sudah cukup terluka karenanya.

Dan kalian terdiam, cukup lama. Lama. Lama. Bulanpun masih sibuk mengikuti kalian, entah apa yang ia tunggu, nampaknya ia terus saja menyimak.

“Kau tau, apa yang ingin ku ceritakan adalah jalan bagi persoalan kita? Mitologi dari Yunani itu yang menceritakannya padaku. Zeuz, dewanya para dewa itu, ia ciptakan segalanya. Ia pula ciptakan kehidupan-kehidupan lain seperti di bumi ini, seperti kita ini. Sebagai bukti, Zeuz pula lah yang menciptakan bintang untuk tempat tinggal Callisto kekasihnya. Sebab, Hera istri Zeuz membuat kesengsaraan Callisto di bumi. Kau harus mendengarkan cerita itu, dan seharusnya kau percaya,..”

Wanita itu memotong, “Apa yang kau maksud dengan jalan bagi persoalan kita?”

Kau terdiam, berpikir panjang. “Seharusnya kau dengarkan ceritaku dulu. Tapi sudahlah, langsung saja ku katakan, sepertinya kau memang sudah tidak sabar mendengar kebahagiaan itu.”

Kau melanjutkan, “Bahwa yang ku sebut Zeuz menciptakan kehidupan-kehidupan lain seperti bumi itu, menciptakan bintang,… aku akan mencarinya. Aku yakin kehidupan di sana jauh lebih baik dari bumi ini. Kita tidak harus mementingkan segala perbedaan yang ada di bumi ini, adat, agama dan sebagainya, kita bisa meninggalkan hal-hal yang aku benci itu. Kita..,” kau berhenti ketika mendapati wanitamu menangis.

“Kau menangis karena bahagia?” tanyamu. Kau ingin memeluknya, tapi wanita itu menolak.

Dalam tangisnya, wanita itu berkata, “Seharusnya kita tidak harus bertemu. Kau yang ku kagumi, kenapa jadi begini? Maafkan aku karena telah menghancurkanmu. Maafkan aku?”

Kau menghela nafas panjang.

“Kau tak percaya?” tanyamu. “Ya. Aku tau, pasti karena ajaran agamamu itu kau tak percaya dengan omonganku. Tak apa.” Kau sempatkan berdiam beberapa detik. “Tapi kau harus tahu, akan ku buktikan ucapanku.”

Wanita itu terus menangis, semakin menggigil. Kau khawaatir. Dan kini, kau tak perduli akan segala penolakannya. Kau peluk ia dengan sangat erat.

Nantikanku, katamu. Aku akan membawamu dari dunia bodoh ini, bersabarlah!

(Itulah alasan mengapa kau harus hidup.)

Khusnul Khitam

Check Also

Masak dalam Mimpi

Oleh Muhammad Lutfi (Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Sebelas Maret)   Masak dalam Mimpi Seorang …