Home » Resensi » Musik » NKKBS Bagian Pertama: Refleksi Keluarga Masa Lalu dari Melbi

NKKBS Bagian Pertama: Refleksi Keluarga Masa Lalu dari Melbi

Artis: Melancholic Bitch

Judul album: NKKBS Bagian Pertama

Rilis: September 2017

Melancholic Bitch atau biasa disebut Melbi, band rock alternatif asal Yogyakarta menggelar konser sekaligus peluncuran album baru mereka NKKBS Bagian Pertama pada 9 September 2017 di PKKH UGM.  Sebelumnya mereka telah merilis dahulu single berjudul “Bioskop, Pisau Lipat” yang mereka unggah di kanal Youtube resmi mereka pada 25 Agustus 2017.

NKKBS adalah singkatan dari Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera, bagian dari jargon politik Orde Baru tentang pentingnya konsep berkeluarga secara bahagia dan sejahtera. Terdapat sebelas nomor lagu dalam album ini. Semua judul terdiri atas dua kata dan terdapat tanda koma setelah kata pertamanya terkecuali untuk nomor terakhir.

Ada sebuah plot besar dalam album ini yaitu tentang keluarga kecil beserta dinamika peristiwa-peristiwa politik 1960-an hingga sekarang.

Diawali consanance bass dari Richardus Ardita dan keyboard dari Nadya Hatta di nomor “Normal, Moral” mengajak kita menghentakan pergelangan kaki dan kepala kita mengikuti ketukannya. Ugoran Prasad dan backing alto Nadya dengan tempo lambat ke cepat menghantui telinga kita, awal yang sedikit gothic tapi menyenangkan berakhir bridge “Pak disepakpak para preman/Awas, awas, bahaya anjing gila” berkumandang, agak klise dan usang namun entah rasanya terasa sukses. Berlanjut ketika Nadya mengharmonikan suara Ugoran kala “Ia tidak senang, mendapati istrimu, tak lagi perawan” bersatu dengan ketukan manis dari Danish. Sungguh nomor awal lagu yang dimainkan dengan bahagia.

Dilanjutkan “Cahaya, Harga” yang sudah menghentak sejak riff gitar Yennu dan Yossy dipetik. Distorsi gitar yang tebal dan berat. Membicarakan kondisi perubahan fungsi antara televisi dan radio zaman dulu dan sekarang dalam keluarga. “Sebelum cahaya berubah bencana/ ia hanya api kecil di sudut ruang keluarga /Di sudut ruang keluarga/ ia hanya ia cuma debar jinak udara” Puncaknya kala memasuki refrain:

Radio mengumumkan kematian harga cabai

Bahan bakar minyak dicampur air untuk obat

Pusing pusing menahun sembuh dalam sekejap

Padamu negeri jiwa raga ampas kami.

Sejenak hanya Danish yang menggebuk drum dan iringan sedikit lick gitar dari Yossy yang mengharmonisasi teriakan emosional dari Ugoran yang pelik. Mengkomposisi sebuah unison yang memekik. Ada sebuah solusi akan inflasi harga sembako di tengah penimbunan bahan bakar minyak oleh pihak tertentu. Memekik, jenaka, tapi tetap brightly. Mungkin ini nomor terbaik dari album ini, paling tidak menurut saya pribadi. Liriknya cerdas, modulasi kord yang energik. Tak usah dibahas lebih lanjut. Relakanlah sejenak senggang kalian untuk mendengarkan nada-nada agung tiap baitnya. Sesap sensasinya.

“666, 6” melanjutkan dengan syahdu lewat petikan-petikan bass dan drum yang aduhai. Sebuah nomor yang berlirik religius.

“Apa yang rahasia/ apa yang benderang pula/ tak pernah bisa kau jinakkan lama-lama/ apa yang berdarah dan luka/ apa yang terengah tak pernah bisa/ kau kurung dengan kerudung/ apa yang surga apa yang neraka,”

Lalu menuju bagian reff-nya

“Kumpul kumpul tukang pukul / benda-benda tajam tumpul / kumpul-kumpul tukang pukul/ tajam tumpul pakai dengkul/ otak dempul mulut bisul…” begitu membuat kita semangat untuk menyanyikannya.

“Selat, Malaka” dan “Trauma, Irama” lebih dekat pembahasannya dengan tema album ini. Timbul paradoks yang timbul di dua nomor tersebut. Tentang salah dan benar. Dan keduanya lebih dekat pada tema album ini, keluarga. “Dapur, NKK/BKK” menjadi semacam sindiran tersendiri, kita diajak menyimak dunia lewat pembicaraan ibu-ibu di dapur. Lirik “Kota sudah dikepung tentara,” bagian refrainnya merujuk pada gerakan normalisasi kegiatan kampus.

Pada “Bioskop, Pisau Lipat” menuturkan pengalaman sang vokalis, Ugoran Prasad saat menonton film propaganda pemerintah Pengkhianatan G30S/PKI, bagaimana ketika digelandang ke bioskop dan juga tentang tayangan film yang membuat trauma.

“Aspal, Dukun” menggebrak dengan intro ala musik trance EDM. Anehnya, karena jenis sound tersebut hanya terdengar pada intro saja. Pertama kali saya mendengarkan bagian intro, mungkin kalian nanti juga akan bergeming seperti saya “Ini lagu EDM ?” Kenyataannya tidak begitu, agak mengganggu memang.

Namun sekali lagi, Melbi menambalnya dengan lirik-lirik yang cerdas. “Titik Tolak, Pelarian” landai-landai saja. Crescendo pada peralihan dari lantunan reff yang kedua ke lirik “Ada dada dan jantung dan degup dan deru dan dendam yang hidup dan mati yang kini pantas kau tunda…” sangat emosional jika disesap lebih dalam lagi.

Jika nomor-nomor lagu di atas tidak begitu melankolis, “Peta Langit, Larung” menyajikan perasaan yang sangat tenang dan dalam. Tanpa gebukan drum disepanjang, Nadya Hatta bercumbu dengan tuts-tuts keyboardnya dengan sangat intim. Suara Ugo kala membuka lagu dengan lirik “Ini malam sudah bulat untuk penat dan pelikat…” harmoni yang begitu gelap dan intim. Nada minor yang begitu gelap yang tak cengeng. Klimaksnya ketika masuk lirik “Jatuh tubuhmu di peluk Bahtera yang sesat terapung Laut yang murung…” dilantunkan bersamaan antara Ugo dan Nadya.

Sebagai penutup, “Lagu Untuk Resepsi Pernikahan” sangat tepat untuk menutup album bagian pertama ini. Iringan tuba yang harmonis dengan petikan-petikan gitar yang sederhana dan ketukan drum yang ringan adalah paduan yang nikmat sebagai penutup. “Cinta kita seret paksa sampai kemari/ cinta kita rampas dari mimpi dan tidur/ Kering, kering dan kemarau,” Menurut Ugo sendiri resepsi pernikahan itu seperti panggung teater, dan kedua mempelai menjadi lakon di atasnya.

Mungkin akan timbul pertanyaan, “Apa sih pentingnya tema yang jadul dan nggak anak muda banget kayak gini, kan lebih asyik tentang senja, hujan, atau kopi gitu?” Menurut, vokalis Melbi, Ugoran, album ini bisa jadi bentuk refleksi mereka dalam berkeluarga di masa kini. Jadi memahami segala aspek dan dinamika sosial dari struktur sosial terkecil, yaitu keluarga. Mungkin, semata-mata untuk mengedukasi secara personal masing-masing anggota band yang mayoritas berkeluarga, baik berkeluarga secara biasa maupun berkeluarga dengan cara masing-masing. Semacam renungan pribadi sebenarnya. Sedikit informasi bagi calon pembeli, tak ada penyertaan lembaran lirik dalam albumnya yang menjadi kekurangan dalam album ini.

Gilang Romadhon

Check Also

Memotret Sisi Lain Dunia Fotografi Indonesia

Judul buku: Photagogos: Terang-Gelap Fotografi Indonesia Penulis: Tubagus P. Svarjati Tebal: xxix + 201 halaman …