Home » Resensi » Buku » Membaca Paradigma Anarkisme

Membaca Paradigma Anarkisme

Judul buku: ABC Anarkisme

Penulis: Alexander Berkman

Penerbit: Daun Malam

Tebal: 254 Halaman

Tahun terbit: Desember 2016

Jika bicara ataupun mendengar kata anakisme mungkin yang terlintas dalam benak kita ialah sebuah kekerasan, kekacauan, ataupun ketidakaturan. Tapi, apakah itu benar?

Di dalam buku ABC Anarkisme, karya Alexander Berkman, menjelaskan bahwa anarkisme ialah sebagai konsepsi kehidupan sosial dengan kebebasan dan harmoni yang paling rasional dan praktis. Alexander Berkman percaya bahwa anarkisme adalah hal yang paling bagus dan terbesar yang pernah dipikirkan oleh manusia; satu hal yang memberi kebebasan dan kesejahteraan.

Memang, sebelum membaca buku ini, paradigma saya selalu menganggap bahwa anarkis adalah sebuah hal kekacauan, ketidakaturan, dan selalu identik dengan sebuah kekerasan. Tetapi setelah membaca dan memahami maksud dan tujuan buku anarkis bukanlah itu semua. Anarkisme ialah sebuah kondisi masyarakat di mana semua laki-laki dan perempuan bebas, juga mana semua menikmati kesetaraan dan manfaat dari kehidupan yang teratur dan masuk akal (halaman 5).

Dalam buku ini terdapat empat belas bab, yang masing-masing bab mempunyai keterkaitan dengan pembahasan dari awal. Berkman menulis buku ini berdasarkan pengalaman pribadinya. Karya aslinya pertama kali diterbitkan di Amerika pada tahun 1929, oleh Vanguard Press di New York, dengan judul What is Communist Anarchism? Sedangkan buku ABC Anarkisme (The ABC Anarchism) diterbitkan pertama kali di Inggris pada bulan Mei 1942, oleh Freedom Press.

Anarkisme Bukan Kekerasan

Kebanyakan orang masih memiliki konsep yang salah mengenai anarkisme. Beberapa orang membicarakan anarkisme, tetapi tidak mengetahui sesuatu pun tentang konsepsinya. Berkman menganggap, bahwa banyak kaum Sosialis dan Bolschevik mengatakan hal yang salah mengenai apa itu anarkisme. Mereka sebenarnya mengetahuinya dengan baik, tapi sering berbohong, dan menganggap bahwa anarkisme tetaplah sebuah ketidakteraturan dan kekacauan.

Guru besar sosialisme—Karl Marx dan Friedrich Engels—telah mengajarkan bahwa anarkisme akan datang dari sosialisme. Marx dan Engels mengatakan bahwa pertama-tama mesti memiliki jiwa sosialisme, setelah sosialisme akan terdapat anarkisme. Anarkisme ialah kondisi masyarakat yang lebih bebas dan indah untuk hidup dari sekadar sosialisme (halaman 3).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, menjelaskan, anarkisme ialah ajaran (paham) yang menentang setiap kekuatan negara; teori politik yang tidak menyukai adanya pemerintahan dan undang-undang. Hal ini berarti anarkisme adalah sebuah ideologi yang tidak menyukai adanya tatanan atau sebuah struktur dalam suatu wilayah (negara) yang di mana struktur tersebut berkuasa di dalamnya. Yaitu pemerintah, atapun otoritas-otoritas yang menghalangi sebuah kebebasan.

Jika paradigma bahwa selalu menganggap bahwa anarkisme adalah sebuah konsep tentang kekerasan, tentu akan salah kaprah. Padahal dipahami lebih lanjut, buku ABC Anarkisme menganggap kekerasan adalah bukanlah konsep dari anarkisme. Itupun terjadi kekerasan apabila ada ketidakaturan ataupun kekacauan—yang biasa bisa dilakukan oleh otoritas-otoritas yang berkuasa.

Dalam konteks ini pula, apakah hanya orang anarkis yang melakukan sebuah tindakan kekerasan? Bukankah seorang demokrat, seorang monarki ataupun seorang oligarki pun juga pernah melakukan sebuah “kekerasan”. Bukankah semua itu sama (pernah melakukan kekerasan).

Saat tejadi atau terwujudnya anarkisme tergantung dari dua faktor: pertama, secepat apakah kondisi yang tumbuh menjadi tidak tertahankan secara fisik dan spiritual kepada sebagian besar umat manusia, terutama kepada pekerja. Kedua, dari tingkat pemahaman dan penerimaan pandangan anarkis itu sendiri.

Di dalam buku sejumlah 254 halaman ini, Berkman menjelaskan anarkisme bukanlah ketidakateratuan, bukan perampokan dan pembunuhan, bukan sebuah perang dan bukan pula melempar bom. Tetapi, (sekali lagi saya tekankan) memiliki arti bahwa kita harus bebas. Bebas, bahwa tidak seorang pun boleh memperbudak, menjadi majikan, atau merampok anda, atau pun memaksa kita.

Lebih singkat, anarkisme berarti semua menikmati kesetaraan dan manfaat dari kehidupan yang teratur dan masuk akal. Ajaran anarkisme adalah ajaran tentang perdamaian dan tidak ada penjajahan, di mana terjadi sebuah kehidupan yang suci tanpa adanya perbudakan ataupun kelas sosial.

Pada saat membaca buku ini, pembaca disarankan untuk membaca atau mengulanginya sekali atau berkali-kali. Karena di dalamnya terdapat beberapa kalimat atau istilah yang sulit untuk dicerna oleh pembaca awam. Namun, ketika kita sudah paham akan maksud dan tujuan buku ini, segeralah merefleksikan pikiran sejenak, apa maksud dari anarkisme ini.

Ketika pembaca sudah paham, tiba-tiba muncul sebuah pertanyaan: apakah revolusi akan terjadi?

Sunardi

Check Also

Memotret Sisi Lain Dunia Fotografi Indonesia

Judul buku: Photagogos: Terang-Gelap Fotografi Indonesia Penulis: Tubagus P. Svarjati Tebal: xxix + 201 halaman …