Home » Resensi » Buku » Sebuah Desa Bernama Po-on: Refleksi Sejarah dari Filipina

Sebuah Desa Bernama Po-on: Refleksi Sejarah dari Filipina

Judul: Sebuah Desa Bernama Po-on

Judul Asli: Po-on

Penulis: Francisco Sionil José

Penerjemah: Kustiniyati Mochtar

Penerbit: Yayasan Obor Indonesia

Tahun: 1987

Jumlah halaman: xvi+430

Mengapa fiksi sejarah selalu menarik? Padahal ada jurnal sejarah yang lebih objektif dan jelas pertanggungjawabannya. Barangkali, orang hanya ingin melihat sejarah dari sisi dramatik. Atau mereka kepingin merasa hidup di suatu masa. Beda dengan jurnal, membaca fiksi sejarah rasanya seperti masuk ke masa lampau sebagai roh halus yang digembala—tak terlihat dan dituntun bebas oleh narator ke mana pun.

Pengalaman macam ini pula yang terdapat dalam novel Sebuah Desa Bernama Po-on, karangan Francisco Sionil José. Novel ini menceritakan tentang zaman penjajahan di Filipina. Dalam prakata novel ini Mochtar Lubis menulis, “Bangsa-bangsa yang sedang berkembang di dunia sedikit banyak berada dalam situasi yang sama, dan menghadapi pengalaman-pengalaman dan berbagai tantangan yang juga di antaranya ada yang sama … Adalah penting artinya dan amat menarik bagi kita di Indonesia, yang juga berada dalam proses yang sama, untuk membaca pengalaman manusia di berbagai negeri lain yang sedang berkembang.”

Sejarah Filipina yang diceritakan novel ini memang mirip-mirip dengan Indonesia ketika masa penjajahan. Ia menarasikan ketidakadilan—hukum rasialis, kesewenang-wenangan penjajah, ketimpangan kelas sosial dan ekonomi—dengan sudut pandang terbatas khas cerita fiksi. Membacanya seperti meresapi kembali pengalaman dalam Bumi Manusia karya Pram, tapi di Filipina.

Dalam novel ini, tokoh utama kita adalah Eustaquio Salvador (Istak), seorang Ilokano (salah satu suku terbesar di Filipina) yang terpelajar. Ia tak seperti pribumi lain, bisa bahasa Spanyol dan Latin, juga ilmu pengobatan. Istak anak petani miskin yang belajar di gereja pada Romo José yang baik hati. Sebagai orang terpelajar, Istak disegani di kampungnya. Ia bercita-cita menjadi pater pribumi, meski kolonial Spanyol tak mengizinkannya karena alasan ras.

Istak berasal dari keluarga petani miskin yang menggarap sawah tuan tanah. Masa itu, para petani pribumi menggarap sawah-sawah orang lain dan dibayar dengan sistem bagi-hasil. Bagi-hasil ini terjadwal, tak peduli kemarau, hama, atau bencana lain yang mungkin mengganggu pertanian. Kalau telat membagi hasil, petani-petani itu akan dihukum. Seperti yang dialami Ba-ac, ayah Istak, ia dihukum oleh seorang romo muda karena telat menyetor hasil panennya. Satu tangan Ba-ac digantung hingga membusuk, kemudian diamputasi.

Orang-orang terjajah diperlakukan serupa budak. Mereka disiksa, diperas keringat, hasil kerja mereka pun hanya sedikit yang dinikmati sendiri. Sistem membikin mereka jadi semakin miskin tetapi memperkaya orang lain. Hal ini terlihat dari ucapan sinis Ba-ac, “Tidak ada gunanya menggemukkan ayam-ayam kita, hanya untuk diberikan kepada Romo.”

Meski keluarganya ditindas sedemikian rupa, Istak tetap jadi pelajar yang lurus-lurus saja. Ia sangat merasa berutang budi pada Romo José. Istak kepingin jadi pater, jadi abdi Tuhan, seorang hamba taat yang pandai.

Namun, niatan Istak tersebut tak tercapai. Romo José yang sudah tua digantikan seorang romo yang lebih muda. Tak seperti Romo José, romo muda ini tak bijaksana dan seenaknya sendiri. Tak berselang lama setelah pengangkatan romo muda, Istak dikeluarkan dari gereja. Gara-gara Istak, secara tak sengaja, memergoki romo muda itu sedang berkelamin dengan anak-didiknya sendiri. Tahu anaknya dikeluarkan, Ba-ac mendatangi gereja untuk melobi. Sampai di sana, ia mendapati bahwa romo muda itu adalah orang yang menggantungnya tempo hari. Singkat cerita, Ba-ac membunuhnya.

Pembunuhan itu membawa bencana ke desa Po-on. Satu desa terpaksa pergi karena takut akan pembalasan Spanyol. Hanya Istak tinggal sendiri, dengan keyakinan ia bisa merembuki orang Spanyol dan menggantikan ayahnya untuk dihukum. Ketika pasukan Spanyol datang, Po-on dibakar dan Istak ditembak—tapi belum mati. Hingga ia diselamatkan Dalin—calon istrinya—dan ikut dengan rombongan itu.

Perjalanan berat dijalani rombongan eks-warga Po-on. Beberapa keluarga membawa isi rumah mereka dalam gerobak, melewati hutan rimba, menyeberang sungai ganas, pun masih diganggu oleh hewan liar dan suku pedalaman. Mereka melaluinya dalam ketakutan akan kejaran Spanyol. Dalam perjalanan yang keras ini, pengarang menyuguhi deskripsi alam khas iklim tropis, lengkap dengan flora dan faunanya. Terasa indah juga kejam.

Rombongan itu berhenti di Rosales, di mana seorang walikota menerima mereka dengan tangan terbuka. Mereka dipersilakan membuka desa di sekitar situ. Jadilah desa Cabugawan, menggantikan Po-on yang tinggal nama.

Di desanya yang baru, Istak menjadi dukun pengobatan. Berkat bantuan gaib dan ilmu kedokteran herbal, ia jadi dukun terkenal dan mengobati banyak orang. Istak beristri, beranak, dan menjalani hidup yang damai. Sampai kemudian ia sadar telah berhubungan dengan orang-orang nasionalis. Istak beda visi dengan mereka. Istak hanya ingin hidup tenang dan jadi abdi Tuhan.

Meski begitu, kebaikan orang-orang nasionalis membuat Istak merasa berutang budi. Di saat bersamaan, Spanyol mulai terusir oleh penjajah Amerika Serikat. Saat itu juga masa-masa sulit bagi orang-orang pergerakan. Salah seorang tokoh mereka, José Rizal, dieksekusi dan banyak tokoh pergerakan diburu.

Orang-orang itu memproklamirkan kemerdekaan Filipina dan ditanggapi dengan perang oleh Amerika Serikat. Di masa genting ini, Istak dimintai tolong untuk menyampaikan surat kepada presiden. Dalam perjalanannya, Istak tertahan di gunung Tirad bersama pasukan nasionalis. Jenderal Del Pilar, pemimpin pasukan itu, menawarinya untuk kabur ketimbang berhadapan dengan kekerasan. Istak sempat dilematis, memikirkan keluarganya di rumah dan kedamaian desanya. Sebelum akhirnya, untuk pertama kali dalam hidupnya, memutuskan turut mengangkat senjata dan melawan.

Kisah Istak adalah refleksi sejarah dari Filipina yang layak dibaca. Meski novel ini tak sehebat Bumi Manusia, tapi cukup bernas untuk dibaca. Cerita ini memang fiktif, tapi bukan berarti tak ada kebenaran di dalamnya. Sebagai karya sastra, novel ini adalah cerminan keadaan suatu zaman.

Seorang pengarang tak hanya asal tulis dalam membikin novel. Apalagi novel sejarah. Analisis, riset, dan perenungan diperlukan agar menghasilkan karya yang sebaik-baiknya, sebernas-bernasnya.

Francisco Sionil José bukan orang yang meragukan untuk kerja semacam itu. Penulis fiksi sekaligus wartawan ini pernah memenangkan beberapa penghargaan. Di antaranya Pablo Neruda Centennial Award (2004), Chevalier dans I’Ordre des Arts et Lettres (2000), dan Hadiah Ramon Magsaysay untuk Jurnalisme, Sastra, dan Seni Komunikasi Kreatif (1980). José juga dikenal akan sikap kritisnya terhadap rezim Marcos.

Novel karangan José ini merupakan refleksi menarik dari sejarah Filipina. Bagaimana berbagai wilayah dengan beragam suku pribumi berusaha membangun satu nasion.

Membaca novel ini adalah usaha memahami pengalaman bangsa yang senasib. Dalam novel ini, kita bertamasya sebentar ke penderitaan tetangga. Kita sampai Filipina dan kembali pulang. Seperti kata Mochtar Lubis, “….membaca buku ini membawa kita kembali pada suasana perjuangan bangsa kita sendiri, dari zaman penjajahan hingga perang kemerdekaan seusai Perang Dunia II, dan kita dibawa pada kesadaran, bahwa masih banyak cita-cita perjuangan bangsa kita yang masih terbengkalai hingga hari ini.”

Ikhsan Abdul Hakim

Check Also

1984: Dunia Buruk yang Mungkin Saja

George Orwell menerbitkan 1984, novel distopia yang cukup mengerikan pada 1949. Tiga puluh lima tahun …

  • Arci Arfrian

    spoiler parah, boeng!

  • Arci Arfrian

    Spoiler parah, boeng!