Home » Opini » Bersenang-senang Kok Diawasi?

Bersenang-senang Kok Diawasi?

dok. istimewa

Oleh Nadzif Al Aqol

(Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNY 2017)

Rabu pukul satu dini hari, tepat empat puluh lima menit sebelum Liga Champions tayang, saya menulis tulisan ini. Alih-alih sebagai opini, tulisan ini mungkin akan lebih pas jika disebut curhat.

Ya, curhat. Setidaknya curhat dari mahasiswa baru (maba) yang semasa mengikuti Ospek 2017—secara resmi disebut Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru—selalu ditekan sie penegak kedisiplinan perihal tata tertib dan tetek bengeknya.

Pekan terakhir Agustus mungkin menjadi pekan yang melelahkan bagi hampir semua maba UNY. Pasalnya, ada dua momen besar yang diingat maba, yaitu; Ospek, dan berakhirnya kegiatan tersebut.

Mengapa dua momen tersebut sangat diingat di kepala kami selaku maba? Jawabannya: betapa tegangnya kami ketika melaksanakan kegiatan tersebut.

Adalah adanya sie penegak kedisiplinan, atau biasa disebut SPK, alasan mengapa kegiatan yang bertujuan mengenalkan lingkungan dan segala yang berhubungan dengan kampus kepada maba tersebut berlangsung tegang.

Bayangkan, betapa awalnya mindset kami bahwa Ospek akan berlangsung menyenangkan, seketika runtuh hanya karena seksi ini. Mereka, saya akui, sukses membuat rangkaian Ospek menjadi sangat tegang seperti perasaan mahasiswa lama yang skripsinya dibabat habis-habisan oleh dosen penguji.

Maka, ketika rangkaian kegiatan tersebut rampung, betapa bahagianya kami. Kami merasa, ketegangan yang terjadi di diri maba terhadap seksi ini berakhir sudah. Semua peralatan Ospek saya taruh sembarangan. Hilang pun saya tidak peduli.

Tadinya saya berpikir begitu. Sampai kemudian datang hari, di mana saya diberi tahu oleh teman suatu kabar: setelah Ospek, akan diadakan Siang Keakraban (Sikrab), yang mana di tiap jurusan diadakan pada waktu dan di tempat berbeda.

Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), jurusan saya, melaksanakan Sikrab pada 16 September, di Youth Center, Sleman. Hari-hari sebelum Sikrab dilaksanakan, ada satu pertanyaan menyakinkan yang keluar dari kebanyakan maba.

Sikrab tuh ada SPK-nya nggak, sih?

Para panitia, dengan enteng dan disertai senyum penuh arti, menjawab santai, “Liat nanti aja, ya.”

Oke.

Hari Sikrab pun datang, dan di jurusan PBSI terdapat seksi serupa yang membuat rangkaian Ospek begitu tegang: SPK.

Sikrab itu, ya, dek, dibawa santai aja. Dibawa seneng-seneng, kata salah satu panitia Ospek yang juga merangkap panitia Sikrab. Namun, mengingat betapa kami dibuat tegang mati-matian oleh seksi tersebut ketika Ospek, agak susah membayangkan Sikrab dimaksudkan untuk ajang bersenang-senang.

Maka, yang terjadi justru sebaliknya. Suasana tegang kembali terjadi di sana-sini. Alih-alih memerhatikan para pembicara di panggung, kebanyakan maba justru lebih fokus pada pergerakan SPK yang terus mondar-mondir untuk mengecek adakah di antara kami melanggar peraturan.

Berpotensi Unjuk Senioritas

Ada hal yang membuat saya bingung mengartikan makna keakraban dalam frasa Siang Keakraban dengan realitas yang terjadi. Keakraban, seyogianya tidak serta-merta lahir dari proses yang menegangkan. Seolah, ada unsur pemaksaan terhadap kami. Kami diharuskan akrab dengan semua panitia, khususnya SPK, setelah sebelumnya dibentak-bentak dan dianggap makhluk yang harus patuh pada sebuah teriakan.

Mindset bahwa SPK galak—alih-alih tegas—justru sudah sangat membekas di ingatan kami. Alhasil, ketika acara Sikrab hendak berakhir dan SPK menampakkan watak asli mereka—ramah dan bersahabat, jauh dari kesan jabatan yang mereka pegang sebelumnya—ada semacam refleks proteksi dari kepala untuk tidak buru-buru akrab dengan mereka. Setidaknya bagi saya.

Apa yang kita tanam itu yang kita tuai, bukan? Setidaknya peribahasa tersebut relevan dengan apa yang wajar didapat SPK ketika ada di antara maba yang tidak ingin buru-buru akrab dengan mereka, mengingat apa yang sebelumnya mereka lakukan dalam membentuk pola pikir maba.

Belum lagi, jika ada oknum dari SPK ini yang justru memanfaatkan jabatan tersebut untuk ajang senioritas. Sebab perlu diakui, antara ego dan apa yang seharusnya dijalankan sesuai perintah, terkadang tidak sejalan. Ini tentu sangat mungkin terjadi. Dengan dalih apapun, senioritas merupakan perbuatan yang salah. Diakui atau tidak, SPK menyediakan opsi yang sangat mudah untuk para oknumnya melakukan tindakan tersebut.

Nurfathi Robi, salah satu anggota SPK, dalam tulisannya yang berjudul “Senyum SPK”, mengakui secara tidak langsung betapa beratnya memegang jabatan kepanitiaan tersebut. Sebab, kemungkinan timbulnya kebencian dari maba akan lebih besar daripada rasa hormat yang muncul.

Meskipun begitu, tetap saja SPK memiliki kelemahan. Bias antara ‘menjamin jalannya acara dengan cara yang dianggap perlu’ dan ‘senioritas’ mengalami pembauran. Oleh karenanya, saya tidak bisa menyalahkan apabila kinerja SPK dianggap sebagai bentuk kekerasan dan pelanggaran terhadap amanat pemerintah dalam menjalankan masa orientasi kampus. Sebab, terdapat daftar panjang mengenai kasus yang melibatkan maba dan SPK.”

Maka dari itu, jika sekiranya sulit untuk memegang jabatan tersebut karena dirasa riskan, cukuplah adanya SPK ini hanya di Ospek. Seperti namanya, Sikrab fokus pada substansi mengakrabkan diri antara maba dan kakak tingkat yang dilakukan dengan menyenangkan.

Lagi pula, bersenang-senang kok diawasi?

Check Also

Choirul Huda dalam Pelukan dan Hati Masyarakat Lamongan

Pemain Semen Padang FC (SPFC), Vendry Mofu menerima umpan lambung tepat di kotak penalti Persela, …