Home » Resensi » Film » The Book Thief: Si Malaikat Penyelamat Buku

The Book Thief: Si Malaikat Penyelamat Buku

20th Century Fox

Sebuah perjalanan kereta menuju Jerman dengan kepulan asap tebal yang keluar dari mesin disertai salju-salju di tepi perlintasan kereta membuka kisah The Book Thief.

Liesel Meminger (Sophie Nelisse) diasuh oleh orang tua angkatnya, Hans Hubermann (Geoffrey Rush) dan Rosa Hubermann (Emily Watson), seorang warga Jerman yang sedang mencari anak adopsi.

Hari pertama di rumah baru, Liesel diajak pergi ke sekolah oleh Rudy Steiner (Nico Liersch), teman baru Liesel. Ketika di sekolah, Liesel disuruh ke depan kelas untuk menuliskan namanya. Namun, Liesel tak bisa melakukannya dan hanya mampu menuliskan tiga bentuk yang merujuk pada huruf X saja. Ternyata, ia tidak bisa baca tulis.

Sejak diketahui bahwa Liesel tidak bisa baca tulis , teman-teman sekolahnya melontarkan ejekkan. Sebuah tanah lapang yang bersalju menjadi saksi bisu ejekan yang dilontarkan teman-teman Liesel. Dengan ejekan seperti itu, Liesel—yang tidak takut pada siapapun—langsung menghajar Franz Deutscher (Levin Liam), salah seorang anak yang menyuruhnya membaca satu huruf tepat di depan wajahnya.

Liesel mendapat pengalaman pertama kali belajar membaca pada Hans, ayah angkatnya yang selalu datang ke kamarnya sebelum ia tidur. Suatu ketika, Hans melihat buku adiknya yang selalu ia peluk. Dengan ayah angkat Jermannya itu, Liesel diberikan ruang dan waktu untuk belajar membaca dan menulis.

Aktivitas membaca Liesel lakukan di ruang bawah tanah rumahnya. Hal itu membuat naluri menulis Liesel makin kuat. Ia corat-coret ruangan itu, hingga suatu ketika ayahnya terperanjat melihat coretan dinding Liesel. Liesel perlahan bisa baca tulis berkat kerja kerasnya sendiri. Liesel menyulut api literasi dalam dirinya.

Sejak kedatangan Max Vandenberg (Ben Schnetzer), seorang pemuda Yahudi yang sedang sembunyi dari kejaran tentara Nazi datang. Hans yang pernah berutang budi kepada ayah Max, akhirnya merawat Max di rumahnya meski hal tersebut membahayakan bagi seluruh keluarganya.

Liesel sering bertemu dengan Max dan akhirnya mereka berdua saling bertukar ilmu. Di ruang bawah tanah, Liesel menjenguk Max yang sedang dalam keadaan sakit. Max yang kagum dengan semangat belajar Liesel, mengajarkannya membaca dan membuat Liesel tahu banyak hal tentang dunia. Dari pengalaman membaca buku-buku yang ia dapatkan, Liesel selalu menceritakannya kepada Max.

Gadis bernama Liesel ini mengajarkan kepada kita semua, bahwa orang yang tidak bisa baca tulis bukan berarti orang itu bodoh. Liesel ingin menunjukan bahwa dengan niat yang sungguh-sungguh, apapun itu akan menjadi mudah. “Meski aku tidak bisa membaca, bukan berarti aku bodoh,” ujar Liesel kepada Rudy saat pulang sekolah di hari pertama ia sekolah.

Alur yang dibawakan film berdurasi 130 menit ini bisa dibilang lambat. Hal tersebut seperti tergambar di beberapa peristiwa yang tidak penting, seperti halnya adegan saat Rudy sedang berlari sendirian di sebuah lintasan atletik. Rudy dengan imajinasinya, ia berandai-andai telah berhasil sebagai sang juara dunia cabang atletik.

Film yang dirilis pertama pada 8 November 2013 besutan Brian Percival ini didasari novel berjudul sama karya Markus Zusak (2005). Alur ceritanya dipenuhi dengan suasana perang ideologi, membuat penonton semakin cemas akan setiap kelanjutan jalannya cerita.

Dengan latar belakang Perang Dunia II, The Book Thief yang diproduksi oleh Fox 2000 Pictures, Sunswept Entertainment, Studio Babelsberg, dan TSG Entertainment mampu membawakan jalannya cerita dengan baik.

Akan tetapi, cerita yang disuguhkan dari awal masih ada kekurangan. Seperti halnya latar belakang Liesel yang tidak jelas dari mana asalnya. Liesel selalu dianggap dan dituduh sebagai seorang Komunis oleh Franz. Dari tuduhan itulah membuat Liesel selalu bertanya kepada ayah angkatnya dan menjadikan ia selalu bingung akan latarbelakang keluarganya. Hal itu pula membuat kita sebagai penonton ikut kebingungan akan asal-usulnya yang masih abstrak.

Di akhir cerita, kedua orang tua angkat Liesel dan keluarga Rudy meninggal setelah rumahnya terkena serangan udara dan hanya Liesel saja yang selamat dari peristiwa tersebut. Dengan adegan yang menyentuh jiwa, Liesel harus kehilangan orang-orang yang dicintainya—termasuk Rudy yang tak sempat mengutarakan perasaannya kepada Liesel.

Pembakaran Buku

Salah satu buku bacaan Liesel ia dapatkan ketika upacara pembakaran buku yang dilakukan Nazi di sebuah alun-alun. Upacara pembakaran buku itu terilhami dari kejadian nyata, waktu Nazi Jerman melakukan pembakaran terhadap ribuan buku pada 10 Mei 1933. Nazi membakar buku karangan penulis yang berseberangan dengan ideologi mereka.

Dari hal tersebutlah film ini ditonjolkan. Dengan membakar sebuah buku yang dilakukan Nazi, penonton akan disuguhkan betapa menjadi terbelakangnya masyarakat Jerman pada saat itu. Selain itu, Nazi menganggap bahwa buku-buku yang dibakar tersebut adalah sebuah kotoran intelektual. Nazi telah berhasil manghancurkan rentetan ide-ide para pendahulu dunia.

Bagaimanapun, menyitat kata-kata Heinrich Heine, “Di manapun mereka bakar buku, mereka akan bakar manusia.” Benar saja, Nazi hancur dengan meninggalkan bekas luka genosida terbesar sepanjang sejarah umat manusia.

Liesel yang gemar dengan buku, menunjukan keberaniannya. Ia sempat menyelamatkan satu buku, meskipun tindakannya itu diketahui oleh Lisa Hermann (Barbara Auer), seorang istri walikota.

Suatu hari, ibu angkatnya meminta Liesel untuk mengantarkan penatu ke rumah walikota. Saat di rumah walikota tersebutlah, Liesel bertemu kembali dengan Lisa. Liesel yang awalnya masih canggung dengan Lisa, akhirnya mereka bisa akrab sejak Lisa menyuruhnya masuk ke perpustakaan pribadinya dan membolehkan Liesel berkunjung kapan saja ia mau.

Dalam peristiwa pembakaran buku itulah mengapa Liesel dianggap sebagai malaikat penyelamat buku. Dengan menyelamatkan salah satu buku pada saat upacara penghancuran oleh Nazi, Liesel mampu menceritakan bacaannya tersebut kepada para warga yang bersembunyi di ruang bawah tanah saat meletusnya perang Jerman dengan Amerika. Liesel mulai mendongeng. Ia mampu membuat suasana tegang berubah menjadi damai seketika.

Liesel yang dimaksud sebagai si pencuri buku itu. Salah satu adegan mencuri buku ditontonkan ketika Liesel mengambil beberapa buku di perpustakaan milik Lisa tanpa seizinnya, yang pada saat itu Liesel memang sudah dilarang Lisa tuk datang ke perpustakaannya, hanya karena Liesel hadir di mimpi Lisa. Sungguh sebuah prasangka buruk yang dilakukan Lisa.

Ada dialog apik tentang Liesel: “Aku ingin memberi tahu si pencuri buku, dialah salah satu dari beberapa jiwa yang membuatku bertanya: seperti apa rasanya hidup? Tapi pada akhirnya, tak ada jawaban. Hanya kedamaian.”

Sunardi

Editor: Danang Suryo

Check Also

Memotret Sisi Lain Dunia Fotografi Indonesia

Judul buku: Photagogos: Terang-Gelap Fotografi Indonesia Penulis: Tubagus P. Svarjati Tebal: xxix + 201 halaman …

  • umi zuhriyah

    masak ikan makan ayam