Home » Sastra » Puisi » Masak dalam Mimpi

Masak dalam Mimpi

https://id.pinterest.com/pin/356699232956929803/

Oleh Muhammad Lutfi

(Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Sebelas Maret)

 

Masak dalam Mimpi

Seorang ibu dengan tangan basah dan gemetar

Memasukkan jari-jemarinya kedalam panci

Tangisnya menyalakan bara api

Di pangkuannya

Diaduknya lembut dan berputar-putar butiran beras

Dari lumbung yang sudah terbakar

Sementara anaknya menangis dan memegang pasak dan pisau dapur

Ditusukkan pada parit-parit tanah

Mata mereka sudah tak kuasa menahan beban

Keringatnya sudah habis sejak kemarin

Karena nasi tak kunjung datang

 

Surakarta, 22 November 2016

 

Gerobak Kehidupan

Sudah usang tralis besi di lengannya

Setiap didorong dan diajak berjalan

Kotak berisi kaleng dan plastik sudah amis dan karatan

Rodanya kembang kempis

Terpukul kerikil dari aspal

Catnya sudah kusam dan tua

Gerobak ini sudah sekarat, dia hampir tak kuasa pada penderitaannya

 

Surakarta, 22 November 2016

 

Tikar Pedagang Asongan

 

Di kaki paving-paving yang berlubang

Semut hitam berak dan meludah

Di halaman toko dan pastoran

Sepatu dan sandal tak bernyawa

Disulap jadi sepasang alas kaki

Kaki-kaki yang penuh memar dan memerah

Menginjak-injak tikar para pedagang asongan

Bahkan juga sepatu para saudara

Sempat mampir ke tikar pedagang asongan

Hingga seluruh tepian tikar penuh sobek dan jahitan

 

Surakarta, 22 November 2016

 

Lagu Pengaduan Pengamen Cilik

 

Jreng…. Jreng…

Aku hanya bisa menampar perut dan dada

Jreng….jreng….

Aku hanya bisa menikmati kertas para anak sekolah

Yang dengan santainya mereka bersembunyi dan petak umpet di balik kios-kios

Nasib mereka jadi umpatan masa depan

Jreng….. jreng……

Aku mengusik bulan dan tidurnya burung malam

Agar mereka setia menemaniku

 

Surakarta, 22 November 2016

 

Lesu Orang Pasaran

Di depan kaca angkot mereka berdiri lantang

Tubuhnya mengguncang seluruh penumpang

Teriakannya sambil memegang dagu sopir angkot

Dan memasukkan uang recehan atau ribuan yang terlekuk ke dalam jaket di dadanya

Segera dihantarkan separoh setoran dan separoh gajinya untuk anak dan istrinya

Supaya bibir mereka diam seribu kata

Melihat suaminya melayangkan teriakan pada sopir-sopir angkot di dekat rumahnya

 

Surakarta, 22 November 2016

Check Also

Itulah Alasan Mengapa Kau Harus Hidup

Jerman, 17 Agustus 2017 Kau terjaga, menatap ke luar jendela. Matamu menatap pohon pinus kurus …