Home » Resensi » Buku » Memotret Sisi Lain Dunia Fotografi Indonesia

Memotret Sisi Lain Dunia Fotografi Indonesia

dok. Istimewa

Judul buku: Photagogos: Terang-Gelap Fotografi Indonesia

Penulis: Tubagus P. Svarjati

Tebal: xxix + 201 halaman

Tahun Terbit: September 2013

Penerbit: Suka Buku

Photagogos—sang pembawa cahaya, begitu artinya. Buku ini bakal menjadi bahan bacaan penting bagi siapa saja mengenai dunia fotografi. Kumpulan esai Tubagus P. Svarjati ini merupakan bagian dari raganya selama menekuni dunia fotografi. Tubagus merupakan salah satu pendiri PFI Semarang bersama beberapa pewarta foto lainnya, seperti Budi Purwanto (Koran Tempo), Bowo Pribadi (Republika), dan Ahmad Antoni (Radar Semarang). Di tangan mereka terbentuklah Pewarta Foto Indonesia (PFI) Semarang. Beberapa pameran berhasil mereka selenggarakan. Salah satunya pameran dengan tajuk “Jejak Mata Hati 2003”.

Dalam bukunya, segala aspek ia kuliti. Alih-alih membicarakan fotografi secara teknis, Tubagus membahas hal yang jelas berbeda dalam membedah fotografi. Ia lebih memilih jalannya: menguliti dunia fotografi yang semakin digerus kecanggihan peranti—jauh dari kata esensial.

Bagaimana tidak, dunia fotografi sekarang bak wadah para kapitalis. Perkembangan peranti memaksa konsumen atau pegiat fotografi berlomba-lomba untuk sekadar mempercantik tampilan kamera. Tak ayal siapapun bisa mengaku dirinya sebagai seorang fotografer. Bukannya menghasilkan sebuah karya foto yang “menggugah” mata pemirsa, keberadaan peranti yang semakin canggih menjauhkan pewarta foto atau fotografer kita dari esensi sebuah foto itu sendiri.

Dalam salah satu subbab, Tubagus bahkan mengkritik para pewarta foto—anggota PFI Semarang di sebuah pameran fotografi. “Tidak semua anggotanya serius mempersiapkan diri. Bahkan ada yang hanya menyetor satu foto.” (hal 123).

Pameran tersebut justru menjadi sisi gelap sebagian anggota PFI Semarang. Foto yang dipajang jauh dari citra kawan-kawannya yang berlatarbelakang pewarta foto di media ternama tanah air. Tubagus menggambarkan bahwa hanya pewarta foto yang tak kenal lelah, matang secara teknis, etos belajarnya tinggi, punya kepribadian baik, mempunyai pengalaman kerja yang panjang akan mampu menghasilkan karya foto yang kuat dan bernas.

Hal remeh-temeh seperti pasfoto (hal 61) juga diulik dan disentil oleh Tubagus. Suatu waktu, saya pernah diminta oleh beberapa kawan untuk memotret mereka—setengah badan—mirip pasfoto untuk suatu keperluan. Tanpa saya sadari pasfoto hanya bakal jatuh menjadi sebuah identitas seseorang belaka. Tidak lebih. Namun, menurut Tubagus pasfoto merupakan pengenal diri yang “sahih”. Melalui pasfoto, pemangku kebijakan bisa memantau gerak-gerik rakyatnya. Seperti sebuah alat kontrol terhadap rakyatnya.

Dalam berpose kita dituntut untuk seformal mungkin: menampilkan secara jelas ciri-ciri wajah tersebut. Tak boleh memakai atribut berlebihan. Sehingga dengan pasfoto itu pula negara dengan gampang memampang foto rakyatnya dengan tujuan tertentu, misal kejahatan terorisme.

Menurut Tubagus, kesadaran masyarakat bakal mengkristal menjadi suatu kesadaran kolektif bahwa pelaku teror yang telengas, tak beradab, dan terkutuk harus diganyang. Padahal negara sendirilah yang memaknai rakyatnya sebagai teroris hanya dari sebuah pasfoto. Sosok teroris yang dipublikasikan sebenarnya tak jauh berbeda dengan pasfoto lainnya: tampil dalam kesan foto yang sama.

Fotografi dan Perempuan

Mbecak, begitulah keseharian yang dilakukan oleh Ponirah—perempuan perkasa pengayuh becak di jalanan Yogyakarta. Apa ada yang aneh tatkala seorang perempuan memilih profesi sebagai tukang becak? Tapi Ponirah tidak peduli. Demi menyambung hidup ia rela menerjang terik matahari dan ramainya jalanan yang menguras banyak tenaga itu.

Sosok Ponirah membelah stereotip bahwa mbecak tidak hanya bisa dilakukan oleh kaum adam. Ponirah yang tampak perkasa tersebut berhasil didokumentasikan oleh Agus Leonardus. Berbekal lensa sudut lebar ia berhasil menampilkan sosok perempuan yang tangguh dalam sebuah karya foto, kemudian terpajang di sebuah pameran bertajuk Waton Urip: A Tribute to Becak.

Tarikh 2010, tertanggal 11-23 Oktober terselenggara sebuah pameran foto Jugun Ianfu. Dalam pameran ini menampilkan sosok-sosok perempuan renta. Dipamerkan hanya memperlihatkan raut wajah yang sudah keriput itu—tanpa ekspresi berlebihan, apalagi makeup.

Kemudian siapakah gerangan perempuan yang hanya dipotret setengah badan—pasfoto tersebut? Apa yang menarik dari foto-foto tersebut?

Jugun Ianfu jika kita tarik ke belakang adalah budak seks para serdadu Jepang tatkala 1942-1945 negara sakura tersebut menjajah Indonesia. Foto yang dihasilkan dari tangan Jan Banning, tercipta rasa yang baru dalam sebuah pameran fotografi. Melalui pasfoto ia mencoba menguak sejarah kelam bangsa ini. Merekalah perempuan-perempuan korban keganasan perang.

Jugun Ianfu sendiri, dalam proyek seksual bala tentara Jepang menelan korban sekitar 5.000-20.000 perempuan Indonesia. Sejarah itu pula yang rasanya ingin kembali dimunculkan Banning—wong londo—dalam sebuah narasi berbentuk foto itu.

Sejatinya kita mempertanyakan keberadaan peran pemerintah selama ini. Menurut Tubagus, pemerintah Indonesia luput dalam hal melihat penderitaan yang menimpa warganya, “negara luput mencatat, bahkan terasa melakukan pembiaran terstruktur, nasib getir sebagian warganya. Seakan-akan negara melupakan mereka yang dianggap berdosa.”

Kritik Tubagus bukan tanpa sebab. Negara kita, melalui pasfoto demi kepentingan administratif begitu getol dilakukan, tapi mereka lupa, atau justru ingin melupakan peristiwa pahit yang menimpa warganya. Melalui sebuah foto pula, Banning menyadarkan kita bahwa sejarah bisa dinarasikan melalui sebuah seni cahaya (baca: fotografi). Banning sekan memberi pesan bahwa jangan biarkan sejarah terkubur dalam liang penderitan itu sendiri.

Sampailah pada akhirnya, esai-esai Tubagus yang terdiri dari empat bagian (kosa kata cahaya, menimbang pandang cahaya terpajang, mengukuhkan bayangan, dan memandang cahaya kebijaksanaan) ini begitu renyah dibaca. Penulisannya yang filosofis tak ubahnya sebuah sajian menarik dan nyentrik. Kalau ingin jemawa, esai ini tergolong baru—mendedah fotografi dari sudut pandang yang berbeda. Tak ubahnya sebuah pengalaman seorang Tubagus dalam menggeluti dunia fotografi selama hidupnya.

Tatkala dunia fotografi Indonesia terpaku pada gemerlapnya peranti, hal tersebut berbarengan dengan munculnya berbagai bahasan yang berbau teknis. Kemudian Tubagus hadir melalui “fragmen-fragmen pemikiran” yang kritis membahas kemerosotan dunia fotografi kita.

M.S Fitriansyah

Editor: Vina Fauzia

Check Also

1984: Dunia Buruk yang Mungkin Saja

George Orwell menerbitkan 1984, novel distopia yang cukup mengerikan pada 1949. Tiga puluh lima tahun …