Home » Opini » Choirul Huda dalam Pelukan dan Hati Masyarakat Lamongan

Choirul Huda dalam Pelukan dan Hati Masyarakat Lamongan

dok.istimewa

Pemain Semen Padang FC (SPFC), Vendry Mofu menerima umpan lambung tepat di kotak penalti Persela, meski sempat dihalangi oleh bek Persela, Zainal Haq, umpan masih bisa lanjutkan ke arah penyerang SPFC, Marcel Sacramento. Tiga pemain: Sacramento; bek Persela, Ramon Rodrigues, dan kiper Persela, Choirul Huda berusaha merebut umpan tersebut. Namun nahas, Rodrigues bertabrakan dengan Huda.

Selepas tabrakan dengan Rodrigues, Huda sempat bergerak, kemudian ia tak sadarkan diri. Tim medis melarikannya ke rumah sakit dengan ambulans.

Dalam laga tersebut, Persela berhasil mengalahkan SPFC dengan skor telak 2-0. Namun, tak ada kebahagiaan di sana. Minggu itu jadi hari menyedihkan bagi warga Lamongan.

Huda, menghembuskan nafas terakhirnya di usia ke-38. Ia meninggal setelah mengalami insiden tabrakan dengan rekan setimnya pada menit ke-44. Dia pergi meninggalkan seorang istri dan dua anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Selama ia hidup, pria kelahiran Lamongan 2 Juni 1979 ini meniti karir di sepak bola sebagai penjaga gawang.

Dialah kapten setia Persela. Entah kenapa Huda memilih Persela sebagai klub satu-satunya. Padahal banyak tawaran menggiurkan dari klub-klub lain. Tawaran itu pernah datang dari Sriwijaya FC dan Persebaya Surabaya. Tetapi, loyalitas Huda pada Persela membuat kedua klub tersebut harus gigit jari.

Alasannya, Huda lebih memilih tinggal bersama keluarganya. Dengan alasan seperti itu, tak ada yang berhasil membujuknya angkat kaki dari Lamongan. Meski Persela selalu stagnan di Liga Indonesia, ia tak peduli seberapa besar tawaran yang sering datang kepadanya.

Membela Persela sejak tahun 1999, hampir setiap pertandingan ia berada di tim utama. Tak ada yang bisa menggantikannya. Ia baru duduk di bangku cadangan saat kondisinya sedang kurang prima.

Ada yang bikin lawan merinding kepada Huda setiap Persela berlaga. Hal itu terlihat ketika laga kandang, La Mania—sebutan bagi suporter Persela, artinya Lamongan Asli—selalu membuat nama Huda bergema. “Huda! Huda! Huda!” teriak mereka dengan keras. Begitulah semangat La Mania yang diberikan kepada sang kapten.

Pascainsiden di lapangan sore itu, Huda ditandu dan segera dilarikan ke Rumah Sakit dr Soegiri, Lamongan. Banyak dari penontonnya menitikan air mata setelah mengetahui sang kapten mengehembuskan nafas terakhirnya. Meskipun bersedih, para LA Mania tetap memberi dukungan kepada Huda dengan meneriakkan namanya.

Persela adalah Huda

Sebagai tim yang selalu bermain di kompetisi kasta tertinggi Liga Indonesia, Persela selalu konsisten dengan penampilannya. Memang tidak pernah juara, tapi setidaknya juga lolos dari jurang degradasi. Sejak promosi ke Liga Super Indonesia pada 2007, penampilan paling apik Persela justru ketika di bawah asuhan Miroslav Janu yang membuatnya bertengger hingga di posisi 4 besar.

Sebagai warga Lamongan yang tinggal di Yogyakarta sejak 2016, saya sudah tak bisa datang langsung ke Surajaya, stadion utama kebanggaan masyarakat Lamongan. Hanya lewat siaran televisi, pertandingan Persela bisa saya nikmati—itu toh alhamdulillah jika disiarkan, kalau tidak, saya hanya bisa melihat cuplikannya di Youtube.

Satu hal yang bisa saya temukan di kota pelajar selepas kepergian Huda: banyak yang mengenal dan menyayangi sang kapten. Ungkapan bela sungkawa pun datang dari mana saja. Itu semua berkat kharismanya sebagai kapten. Banyak yang menganggap Persela adalah Huda dan Huda adalah Persela.

Bahkan pemain kelas dunia seperti Paul Pogba ikut mendoakan Huda dan keluarganya. Sama halnya dengan Pogba, Petr Cech, dan Marc-Andre ter Stegen juga ikut berduka cita atas kepergian Huda. Masing-masing pemain tersebut menyampaikan belasungkawa lewat Twitter.

Selain itu, ucapan belasungkawa juga datang dari La Liga, pada Selasa (17/10). Dilansir dari Perselafootball.com, badan sepak bola Spanyol tersebut menyampaikan ungkapan duka yang terdalam atas kepergian Huda.

Bagi saya, ucapan para pemain kelas dunia dan dari La Liga adalah bentuk penghormatan sekaligus kebanggaan tersendiri, khususnya untuk warga Lamongan dan masyarakat Indonesia umumnya. Sepak bola Indonesia ternyata disorot dunia.

Huda laiknya sebuah pahlawan, namanya selalu diagung-agungakan oleh Persela. Ya, begitulah ciri khas dari sebuah klub bola yang berasal dari kota soto ini. Entah kenapa, sampai sekarang saya masih tidak percaya bahwa ia akan pergi secepat ini. Namun, begitulah kehidupan, pada akhirnya adalah kematian.

Ihwal kepergian sang kapten, tentunya patut untuk selalu dikenang. Tidak hanya sebagai La Mania ataupun orang Lamongan saja, tapi juga seluruh masyarakat Indonesia. Tentu ini menjadikan sebuah pelajaran dan hikmah bersama, bagaimana sebuah kesetiaan bakal tidak bisa terpisahkan.

Kepergian sang kapten akhirnya menyebabkan rasa sedih dan kehilangan. Namun selepas dari pelbagai alasan semua itu, kepergiannya pun semakin meneguhkan saya sebagai warga Lamongan, menambah rasa bangga terhadap kota seribu cerita dan cinta ini. Semoga kau tenang di alam sana, kapten.

Sunardi

Editor: Danang Suryo

Check Also

Agar Kita Tak Terburu-buru Menghakimi Mourinho

Apa yang paling dikenang dari Piala Dunia 1974? Keindahan? Sepanjang hajatan terbesar sepak bola yang …