Home » Opini » Persija Mencoba Bangkit

Persija Mencoba Bangkit

dok.istimewa

Persija Jakarta pernah memiliki skuat yang menakutkan dalam kancah Liga Indonesia. Sektor depan Persija pernah memiliki trio ABG (Aliyudin, Bepe, dan Greg). Sektor tengah Persija memiliki gelandang eksplosif sekelas Robertino Pugliara, Ponaryo Astaman, Syamsul Bachri. Sedang di sektor pertahanan nama beken seperti Abanda Herman, Piere Njanka, Precious Emuejeraye pernah berjibaku mengawal gawang Macan Kemayoran—julukan bagi Persija Jakarta. Tak ketinggalan sektor penjaga gawang, Persija pernah dikawal oleh kiper kawakan seperti Hendro Kartiko, Jendri Pitoy, dan si jangkung Evgeni Khamaruk.

Tak hanya diisi pemain-pemain bintang, skuat Persija juga pernah ditangani oleh pelatih-pelatih ternama. Nama-nama yang telah mengecap asam garam dunia persepakbolaan seperti Danurwindo, Benny Dollo, Rahmad Darmawan, Iwan Setiawan, dan Paulo Camargo pernah menukangi tim Ibukota Jakarta kala itu.

Persija kini laiknya sebuah tim yang terkena kutukan—mereka butuh penawar untuk menghilangkan kutukan tersebut. Walau memiliki skuat yang mendalam, pemain-pemain bintang, dan diarsiteki pelatih beken—nyatanya Persija belum mampu meraih gelar prestise apapun. Alih-alih juara bermain konsisten tiap musim saja Persija kadang kewalahan. Terakhir, Persija berhasil menjadi juara kasta tertinggi liga Indonesia ketika macan kemayoran diasuh oleh Sofyan Hadi, 2001 silam. Hingga saat ini Persija belum pernah merasakannya lagi.

Paceklik gelar juara lantas membuat pendukung setia Persija geram. Bagaimana tidak klub dengan nama besar dan punya basis suporter yang loyal, tetapi tidak diimbangi dengan manajemen klub yang baik. Persija, saat diketuai Ferry Paulus dianggap tidak mampu mengangkat prestasi Persija. Kasus gaji yang ditertunggak adalah salah satu manajerial yang gagal beberapa musim lalu. Kasus tersebut sempat panas manakala Bambang Pamungkas merasa jengah dengan gaji yang belum dibayarkan. Pada akhirnya, Bepe memutuskan untuk pindah ke Pelita Bandung Raya. Walaupun pada akhirnya hati Bepe tak bisa berpaling dari Persija.

Persija dan sekelumit masalah memang benar-benar tak bisa hilang dari klub yang sering pindah-pindah markas tersebut. Membawa nama Jakarta tak lantas membuat Persija jemawa. Justru sebaliknya. Persija lebih sering dilanda masalah finansial seperti contoh kasus yang telah dipaparkan di atas. Begitupun ihwal markas di mana mereka akan menjamu lawannya. Persija saat melakoni laga kandang di pentas Liga 1 musim ini harus hijrah ke Bekasi. Mereka menggunakan Stadion Patriot Candrabhaga sebagai markas. Persija bukan satu-satunya klub kontestan Liga 1 yang menggunakan stadion yang berkapasitas 39 ribu penonton tersebut. Bhayangkara United adalah klub yang juga menjadikan Stadion Patriot Candrabhaga sebagai rumah mereka.

Kedua klub tersebut akan bersua di stadion yang sama untungnya Bhayangkara United tidak memiliki basis suporter yang besar laiknya Persija dengan Jakmania. Persija dan Bhayangkara United bukanlah satu-satunya klub yang bermukim di markas yang sama. Bahkan di Serie A, Klub seteru abadi AC Milan dan Inter Milan justru menjadikan San Siro sebagai markas. Walaupun secara jarak antara Jakarta dan Bekasi tidak terlampau jauh, hal tersebut tetap menjadi dilema. Manakala klub lain memiliki stadionnya sendiri, Persija justru harus mondar-mandir mencari alternatif markas baru mereka.

Stadion memang menjadi persoalan klasik bagi Persija. Sebelumnya Persija pernah memakai Stadion Lebak Bulus, tapi semenjak digusur untuk jalur KRL Persija harus pindah-pindah stadion. Persija pernah merasakan jauh dari Jakarta ketika harus bermarkas di Stadion Manahan Solo. Ketika Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) harus direnovasi Persija harus gigit jari.

GBK tidak bisa digunakan, Persija harus mencari opsi lain, selain harga yang terlampau mahal untuk sekali sewa. Dilansir dari biaya.net, Kementerian Sekretariatan Negara sebagai pengelola komplek Gelora Bung Karno telah menetapkan tarif sewa GBK. Tarif sewa untuk klub dikenakan biaya sebesar 180 juta. Sedangkan untuk pertandingan yang digelar tanpa penonton dikenakan biaya sewa sebesar 15 juta. Jadi bisa dibayangkan berapa biaya yang harus dikeluarkan Persija untuk menggelar laga kandang selama ini—terlepas dari dukungan berjubel Jakmania yang datang ke stadion.

Pembangunan stadion bagi Persija kembali santer terdengar. Seperti janjinya saat kampanye, Anies-Sandi sebagai gubernur dan wakil gubernur baru Jakarta menjanjikan sebuah stadion untuk markas Persija. Proyek besar tersebut dijanjikan bakal jalan Oktober ini. Isu pembangunan stadion telah lama bergeming di telinga masyarakat Jakarta—khusunya Jakmania. Ketika Jokowi masih menjabat gubernur hingga digantikan Ahok, proses pembangunan stadion BMW yang dicanangkan masih terkendala. Kini Anies-Sandi punya hutang yang harus mereka lunasi—membangun stadion untuk Persija. Impian lama yang sulit terealisasi untuk publik Ibukota. Patut dinantikan bagaimana wajah Persija ketika sudah memiliki stadion sendiri.

Mencoba bangkit

Kompetisi Liga 1 bakal usai. Walaupun hingga sekarang titel juara masih diperebutkan Bhayngkara United, Bali United, PSM Makassar, Persipura Jayapura dan Madura United. Namun asa Persija menjadi kampiun sudah tertutup. Hingga pekan ke-30 Persija masih stagnan diperingkat ke-6. Poin mereka terpaut sepuluh poin dari pemuncak klasemen sementara. Posisi mereka bisa saja tergeser oleh Barito Putera yang menguntit di bawah dengan selisih satu poin. Hal sebaliknya juga bisa terjadi. Jika berhasil menuntaskan empat laga terakhir dengan poin sempurna—serta berharap Persipura maupun Madura terpeleset, Persija bisa merangsek ke posisi lima besar.

Kendati berada diposisi ke-6, Persija di musim ini patut diapresiasi. Pertama, di awal musim Persija sempat terseok-seok. Imbasnya posisi sang pelatih, Teco, saat itu terancam pemecatan. Beruntunglah Persija lekas menemukan pola permainan terbaik mereka. Hal yang paling menonjol adalah lini pertanahan Persija yang sampai saat ini terbaik di atas kontestan lain—Persija hanya kebobolan 22 gol. Berkat kerja keras Maman Abdurahman dan William Pacheco—walau usia mereka tak muda lagi namun mereka berhasil membangun rasa nyaman gawang Andritany dari kebobolan. Kedua, skuat yang dimiliki Persija dihuni oleh pemain-pemain muda berbakat. Sebut saja Fitra Ridwan yang dibeli dari Gresik United, Abduh Lestaluhu, serta trio timnas U-23 Hargianto, Ryuji Utomo, dan Rezaldi Hehanusa. Kunci sukses Persija juga berkat kombinasi pemain muda dan senior. Persija masih mempercayai pemain-pemain veteran seperti Bambang Pamungkas, Rudi Widodo, Ismed Sofyan, Maman Abdurahaman, untuk mengisi skuat utama. Terakhir, mungkin musim ini secara manajemen Persija lebih rapi. Faktor lain adalah dengan masuknya Gede Widiade. Masuknya Gede memberikan angin segar tatkala Persija di musim kemarin meninggalkan banyak hutang.

Duet Ferry Paulus dan Gede Widiade diharapkan memberikan sebuah kontribusi nyata bagi persepakbolaan tanah Betawi. Layak ditunggu bagaimana kiprah serdadu Persija dengan nama besarnya dikancah sepakbola nasional musim depan.

M.S Fitriansyah

Editor: Danang S

Check Also

Agar Kita Tak Terburu-buru Menghakimi Mourinho

Apa yang paling dikenang dari Piala Dunia 1974? Keindahan? Sepanjang hajatan terbesar sepak bola yang …