Home » Resensi » Film » 1984: Dunia Buruk yang Mungkin Saja

1984: Dunia Buruk yang Mungkin Saja

dok.istimewa

George Orwell menerbitkan 1984, novel distopia yang cukup mengerikan pada 1949. Tiga puluh lima tahun kemudian, 1984, Michael Radford mentrasformasikan novel itu ke dalam bentuk audiovisual. Tentu kondisi dunia saat itu berbeda jauh dengan apa yang digambarkan Orwell dalam semesta fiksionalnya. Dalam 1984, otoritarianisme mewujud dalam bentuk yang ekstrem. Orwell menggambarkan sebuah dunia layaknya penjara berlangit biru. Meski kesan fiktif sangat terasa jika membacanya di tahun 1984—apalagi sekarang, akan tetapi, elemen-elemen otoritarianisme yang dituliskan Orwell tetap relevan di mana pun—dan kapanpun.

Radford sepertinya tak ingin mengkhianati ruh distopis 1984. Ia langsung mengawali film dengan sebuah kutipan, “Who controls the past controls the future. Who controls the present controls the past.” Sepotong kutipan yang jadi sinyalemen seisi film: tentang ‘kontrol’. Film ini dibawakan dengan teknik penceritaan orang pertama. Lewat Winston Smith (John Hurt) anggota Partai no. 6079, sang narator, kita akan dibawa ke semesta distopis yang serba muram.

Dikisahkan bahwa pasca Perang Dunia II, terjadi depresi besar-besaran di masyarakat. Depresi ini menyebabkan revolusi yang menaikkan rezim Ingsoc (English Socialism) sebagai pemegang kekuasaan. Setelah revolusi itu—kalau Ingsoc agak bisa dipercaya—dunia terbagi menjadi tiga negara besar: Oceania, Eurasia, dan Eastasia.

Smith adalah warga negara Oceania, yang dikendalikan oleh Partai—Ingsoc. Smith bekerja di Kementerian Kebenaran (Ministry of Truth). Penamaan ini terkesan ironis, karena kerja Kementerian Kebenaran bukanlah pencarian kebenaran. Kementerian ini berfungsi menyensor, menyunting, bahkan membuat kebenaran-kebenaran yang selaras dengan tujuan partai. Pekerjaan Smith adalah menyunting koran-koran lawas, mengubah isi artikel sesuai perintah partai. Ia membantu menyelaraskan sejarah dengan tujuan partai.

Bukannya Smith menelan mentah dogma partai. Ia diam-diam kontra rezim partai dan pemimpinnya, Big Brother. Namun, kalaupun bisa, Smith tak berani mengekspresikan kebenciannya terhadap rezim. Ia sendirian dan tak ada teman sepemikiran. Dari pandangannya, orang-orang di lingkungannya adalah anggota partai yang taat. Ia menyimpulkannya dari tiap pembicaraan, dan dari ekspresi mereka setiap nobar film propaganda partai—sejenis Pengkhianatan G 30 S PKI ala Oceania. Orang-orang itu, dengan ekspresif dan penuh semangat menghujat Goldstein, tokoh pemberontak, di layar lebar. Sebelum akhirnya menyilangkan pergelangan tangan—simbol Ingsoc—ketika lagu patriotik partai mengalun seiring munculnya wajah Big Brother yang menatap nyalang dari layar.

Dalam 1984, negara mengontrol rakyat dengan total. Rakyat diawasi dengan teleskrin, sebuah alat mirip televisi yang bisa menyiarkan sekaligus menangkap suara, visual, bahkan menafsir gestur. Teleskrin ini ada di mana pun. Di tempat-tempat umum, bahkan di setiap kamar anggota partai. Jikapun bisa menghindari teleskrin, orang-orang patut was-was dengan patroli Polisi Pikiran yang seakan ada di mana pun.

Dengan kontrol seperti itu, wajar jika Smith terkungkung ketakutan. Ia kesepian. Meski sebenarnya, ada satu orang yang dirasa Smith sepemikiran dengannya. Dialah O’Brien (Richard Burton), seorang elite partai. Smith gelisah, ia kepingin mengontak O’Brien tapi takut akan pengawasan. Tapi akhirnya O’Brien lah yang menemukan cara berhubungan dengan Smith. Smith dibawa ke rumah O’Brien, dan ia diberi buku The Theory and Practice of Oligarchical Collectivism, karangan Emmanuel Goldstein, sang tokoh pemberontak.

Ada satu tokoh lagi yang menanggapi kegelisahan Smith. Ialah Julia (Suzanna Hamilton), sosok yang saban hari mencitrakan diri sebagai anggota partai paling ideologis, tapi diam-diam menyimpan hasrat manusia normal. Mereka berkencan dan sama-sama merasa jadi manusia kembali, di sela terpenjara sebagai kaki-tangan partai.

Apa yang dilakukan Smith menunjukkan individualisme yang tak bisa dibunuh, sekuat apapun tekanan dan kungkungan yang ada. Smith rela bergelap-gelap di lingkungan kaum proletar—yang dianggap hina setara binatang, sembunyi-sembunyi menghindari teleskrin dan Polisi Pikiran, demi berkencan atau mengunjungi tempat di mana ia bisa menghirup aroma masa silam. Motivasi Smith mungkin sederhana, ia kepingin menghirup sedikit kebebasan di dunia yang buruk.

Smith terlalu manusiawi untuk menghabiskan hari diawasi teleskrin dan mendengar doktrinasi Ingsoc. Kehidupan Smith adalah perjuangan individu yang sulit. Apalagi di negara seburuk Oceania, di mana orang hendak dikontrol sejak di ujung lidah.

Dalam 1984, bahasa dikontrol dengan cara memangkasnya habis-habisan. Diperkenalkan ejaan baru yang miskin kosakata, Newspeak. Ejaan ini menggantian Oldspeak, bahasa Inggris sebelum revolusi. Ejaan ini dimaksudkan untuk menggantikan Oldspeak secara bertahap. Meski pada kenyataannya bahasa sedang dihancurkan, seperti dikatakan anggota tim penyusun, Syme (James Walker), “Penghancuran kata-kata, ini hal yang indah.”

Partai melakukan ini bukan sekadar iseng. Karena pemangkasan bahasa secara tidak langsung akan mereduksi kreativitas. Kalau kreativitas pun tak ada, penguasa semakin gampang mengontrol dunianya tanpa harus khawatir pada gagasan pemberontakan. Bahkan, kalau bahasa sukses “dirapikan”, tindak kecil perlawanan seremeh mengumpati pemimpin pun tak akan terpikirkan.

Apa yang ada dalam 1984 adalah seburuk-buruknya konstelasi politik. Di dalamnya, sejarah ditulis, ditulis-ulang, untuk kemudian ditulis-ulang lagi. Dalam cerita ini, musuh Oceania pun beberapa kali berganti antara Eurasia dan Eastasia. Nyaris mustahil menyelidiki kebenaran dalam dunia seperti itu. Informasi berulangkali disunting dan direproduksi sesuai kepentingan penguasa.

1984 adalah refleksi rezim otoriter di seantero dunia. Ia adalah totalitas dari segala otoritarianisme yang ada saat ini. Dunia buruk di mana ketidaktahuan mengerikan sudah menjadi “normal”. Kehidupan tanpa sedikitpun privasi dan kebebasan. Sebuah dehumanisasi total.

Meski tak sengeri novelnya, film ini lumayan juga. Ngerinya masih terasa. Meski film ini tak memberi efek horor ala film setan atau ketegangan thriller yang berdarah. Tapi, untuk merasakan kengeriannya, kuncinya satu: ikuti narasi Smith dan bayangkan dirimu ada di dunia semacam itu. Lebih buruk lagi adalah, kemungkinan terjadinya di dunia nyata selalu ada.

Dengan kesungguhan hati, saya merekomendasikan film ini (juga novelnya) kepada segenap penggemar rezim Orde Baru, fundamentalis, hipster apatis, dan terutama semua orang yang menganggap kalau dogma itu tidak buruk-buruk amat.

Ikhsan Abdul Hakim

Editor: Danang S

Check Also

Memotret Sisi Lain Dunia Fotografi Indonesia

Judul buku: Photagogos: Terang-Gelap Fotografi Indonesia Penulis: Tubagus P. Svarjati Tebal: xxix + 201 halaman …