Home » Opini » Perang Dingin Menjelang Pemilwa UNY

Perang Dingin Menjelang Pemilwa UNY

Ilustrasi Pemilwa. Andhika/EKSPRESI.

Oleh Rony K. Pratama

(Alumnus Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia)

Desember belum terlihat batang hidungnya, tapi desas-desus Pemilwa mulai mengemuka. Hajatan tahunan yang telah mentradisi itu digadang-gadang aktivis mahasiswa. Pemilwa serupa panggung teater di mana sandiwara digelar meriah di atasnya. Sesekali penonton bertepuk tangan tanda gayung bersambut atas kepongahan para pemainnya.

Aktor dan aktris yang bersandiwara itu digerakan oleh sejumlah adegan. Kitab kudus mereka naskah drama. Sutradara berwewenang penuh mengendalikan penokohan pemain berdasarkan penafsiran naskah. Karenanya, otonomi absolut dipegang kuat oleh sutradara. Bukan pemain. Apalagi otoritas teks yang menawarkan keberagaman interpretasi itu.

Para pasangan calon yang mendaftarkan diri untuk mengikuti kontestasi demokrasi tentu telah “dibentuk” oleh sutradara tak kasat mata. Ia mewakili kepentingan sektoral. Kecenderungan politis demikian, dalam konteks UNY, bisa direduksi menjadi beberapa organisasi eksternal kampus seperti GMNI, HMI, KAMMI, KMNU, IMM, dan fraksi-fraksi lainnya.

Belenggu kepentingan merupakan inti dari Pemilwa. Tiap calon, dari mana pun ia berdiri, tak terlepas oleh beban ideologi yang menyokongnya. Sekalipun terdapat individu yang mempidatokan objektivitas pencalonannya, ia mustahil terlepas dari bayang-bayang netralitas. Ia, betapapun, ikut menggoyahkan diskursus status quo dengan beroposisi dengan liyan. Dengan kata lain, pihak yang berseteru itu meneguhkan batas demarkasi “kami” dan “mereka”.

Iklim politik kepentingan ini berlangsung satu sekade terakhir. Target mereka jelas, yakni menguasai setiap sektor organisasi, baik di tingkat program studi, fakultas, maupun universitas. Salah satu kader organisasi eksternal di atas, bahkan, pernah mengatakan dengan gamblang: melancarkan pengaruh seluas-luasnya.

Wajar bila pengaruh mereka begitu menggurita. Sistem koordinasi dan kaderisasi telah disusun matang di awal pergantian kepengurusan. Kunci utama mereka ialah infiltrasi mahasiswa baru lewat Ospek. Jadi, sebelum kepanitiaan Ospek dibentuk, organisasi eksternal itu telah menyiapkan kader-kader terbaiknya untuk menyuntikkan pengaruh di divisi strategis seperti Koordinator Fakultas (Ketua), Acara, dan Pemandu.

Simak jalan cerita pra dan selama Pemilwa berlangsung. Segelintir mahasiswa yang bersusah payah melakukan tebar pesona di mata Maba semenjak Ospek berlangsung biasanya muncul di daftar pendaftaran Ketua HIMA dan BEM. Strategi pencitraan ini masih dianggap efektif untuk mendongkrak popularitas, meski di satu sisi ia nihil elektabilitas.

Tribun dagelan di atas belangsung derivatif alias turun-temurun. Karena itu, peta politik keorganisasian di UNY sangat mudah dinyana. Fenomena demikian merupakan bagian integral dari iklim organisasi kampus di Indonesia. Membangun jaringan antaruniversitas dengan diwakili oleh pengaruh dominan organisasi eksternal tertentu ternyata merupakan pintu alternatif memasuki dunia politik praktis.

Tak heran bila banyak alumnus aktivis kampus terjun ke dunia politik. Partai politik (Parpol) yang dipilih tentunya adalah partai nasional yang mempunyai afiliasi dengan organisasi eksternal sebagaimana yang ia ikuti selama kuliah. Rasio alumni yang berkarier ke politik praktis tiap tahunnya melonjak. Hal ini barangkali dikarenakan oleh prospek masa depan yang menggiurkan.

Peta mikro di atas acap dihindari sebagian besar mahasiswa UNY karena dianggap tabu untuk dibicarakan. Namun demikian, topik semacam itu sering kali menarik atensi aktivis untuk diperbincangkan di belakang panggung. Alhasil, jamak di antara mereka menaruh curiga satu sama lain.

Kehidupan berpolitik di kalangan mahasiswa semakin gawat. Tiap individu, dari masing-masing kader organisasi ekstra kampus, kerap membuang pandangan manakala berpapasan di suatu tempat. Ditambah pula saling mencemooh ketika berada di forum dialog terbuka. Belum lagi saling adu verbal di media sosial yang sebetulnya disulut oleh persoalan sepele.

Geliat diam-diam organisasi eksternal menandakan sikap pengecut. Jika mereka benar-benar ingin mendulang kekuasaan di pucuk kepemimpinan mahasiswa sebaiknya segera unjuk gigi dengan menyodorkan bendera sesungguhnya. Sikap ini lebih elegan ketimbang gerilya di belakang panggung dan melancarkan perang dingin dingin dengan lawan-lawannya.

Universitas, bagaimanapun bentuknya, adalah lahan subur bagi perkembangbiakkan pengaruh organisasi eksternal. Sementara Pemilwa, di satu sisi, ialah puncak yang diperebutkan untuk menegaskan eksistensi sektoral. Pertarungan antarkader organisasi eksternal, karenanya, adalah suatu keniscayaan yang tak terhindarkan.

Meskipun, di sisi lain, masih terdapat sedikit orang yang menampik kehadiran kader organisasi eksternal di tubuh Ormawa. Orang tersebut mengakui kemurnian kampus sebagai laboratorium ilmu pengetahuan. Karena itu, kader organisasi eksternal semestinya bersikap profesional dalam membedakan keduanya. Menurutnya, kepentingan luar tak boleh dicampur adukkan dengan urusan dapur rumah.

Walau Pemilwa mulai memanas dan berakibat pada hubungan antarteman yang semakin renggang, ia tetap tak boleh mengotori kemerdekaan berpikir manusia. Tapi di dalam pikiran manusia masih terdapat korpus kesadaran yang menyimpan anggapan bahwa itu semua hanya panggung sandiwara.

Komedi di jagat teater tak pernah abadi. Sandiwara usai setelah tirai perlahan menutup. Baik protagonis maupun antagonis kemudian kembali pulang pada kesunyian masing-masing.

Editor: Danang S

Check Also

Agar Kita Tak Terburu-buru Menghakimi Mourinho

Apa yang paling dikenang dari Piala Dunia 1974? Keindahan? Sepanjang hajatan terbesar sepak bola yang …