Home » Opini » Agar Kita Tak Terburu-buru Menghakimi Mourinho

Agar Kita Tak Terburu-buru Menghakimi Mourinho

imgrum.org

Apa yang paling dikenang dari Piala Dunia 1974? Keindahan? Sepanjang hajatan terbesar sepak bola yang dihelat di Jerman itu, tim oranye berhasil memberikan kesan bahwa permainan 11 versus 11 memang harus dipersembahkan dengan indah. Melalui keahlian mengumpan dan meguasai bola, Belanda berhasil menyihir ribuan pasang mata penikmat sepak bola.

Meskipun demikian, kegagalan Belanda memburu trofi Piala Dunia juga menyisakan ironi: permainan indah tak menjamin kemenangan. Waktu itu, Jerman yang permainannya “kalah” indah dari Belanda justru keluar sebagai juara.

Jerman seolah membantah, sepak bola tidak cuma perkara penampilan. Mereka melenyapkan eksklusifitas sepak bola yang coba dibangun untuk mempertontonkan keindahan belaka.

Jerman kemudian menjadi contoh, ada kompleksitas yang membuat sepak bola tidak begitu berjarak dengan konteks sosial. Salah satunya, pemahaman akan kebutuhan. Kebutuhan adalah aspek paling dasar yang sifatnya universal, tak terkecuali dalam sepak bola. Oleh karena kebutuhan bersifat dinamis, ia tidak untuk memberikan jaminan, tetapi keberlangsungan.

Dewasa ini, pemahaman akan kebutuhan dalam sepak bola menjadi lumrah. Hal itu tercermin lewat perubahan taktik dan strategi. Konsekuensinya, pertandingan memang akan cenderung membosankan.

Dalam sepak bola modern, salah satu pelatih yang mengerti akan kebutuhan tim barangkali ialah Jose Mourinho. Jika ditarik pengalamannya sejak melatih Porto hingga Manchester United (MU), manajer yang kerap dipanggil Mou itu punya komposisi pemain lebih dari memadai—suatu kesamaan yang dimiliki Jerman 1974 dan MU 2017. Ia sesungguhnya bisa melakukan apa pun dengan modal itu.

Akan tetapi, Mou tahu bahwa itu bukanlah cara untuk berhasil dalam sepak bola. Ia lebih memilih untuk tidak mengakomodasi ego para pemain bintangnya. Sebaliknya, ego itu diolah menjadi kesadaran pada kebutuhan tim.

Sejak musim lalu, banyak yang meminta Paul Pogba diberi kebebasan bermain, terutama dalam formasi 4-3-3. Diyakini, Pogba akan bermain lebih trengginas seperti saat masih berseragam Juventus. Ia akhirnya memberikan kesempatan itu pada Pogba.

Akan tetapi, posisi itu tidak bertahan lama. Mou cukup segan menggunakan 4-3-3 karena membuat permainan lebih terbuka. Tidak ada alasan cukup kuat baginya untuk mengambil lebih banyak risiko. Filosofinya menitikberatkan untuk menghindari kekalahan.

Dalam banyak hal, Mou justru sering menggunakan formasi favoritnya: 4-2-3-1. Skema ini akan berubah menjadi 4-5-1, dengan menarik hampir semua pemain untuk membantu pertahanan. Ketika melakukan penyerangan, bek sayap turut naik menekan garis pertahanan lawan. Keuntungan formasi 4-2-3-1 juga dapat diperoleh dari peran double pivot. Kemampuannya akan lebih bermanfaat untuk melapisi pertahanan dan mendukung transisi penyerangan.

Meskipun dicemooh pengecut, pola permainan seperti ini membuat Manchester United lebih stabil. Stabilitas memang menjadi konsentrasi dua pelatih terakhir MU, Louis van Gaal dan Jose Mourinho. Bedanya, van Gaal menciptakan stabilitas dengan penguasaan bola, sementara Mou bertolak belakang dengan mentornya.

Dikutip dari Whoscored, MU lebih banyak menyentuh bola di sepertiga tengah lapangan dengan presentase 45%. Untuk sepertiga area pertahanan dan sepertiga area penyerangan, masing-masing mencatatkan angka minimalis, yakni 25% dan 30%.

Kecenderungan itu membuat MU bisa mengatasi keadaan dengan membiarkan tim lawan lebih banyak menguasai bola. Coba tengok pertandingan MU melawan Tottenham. MU hanya “mampu” menguasai bola sebanyak 45%, sementara Delle Ali dkk. sepuluh persen lebih banyak.

Kendati demikian, MU sangat efektif dalam melakukan serangan balik. Satu-satunya gol pada pertandingan itu—dicetak oleh Anthony Martial—ialah buah dari satu kali percobaan serangan balik yang dilakukan MU. Hal itu didukung oleh fakta: sejauh ini, rata-rata penguasaan bola MU hanya 53.3%—menurun dibanding era van Gaal.

Permainan MU saat ini seolah cetak biru dari Jerman 1974. Tanpa mengedepankan pada gaya permainan tertentu, formasi 4-2-4 Jerman justru mendukung penyerangan maupun pertahanan. Formasi ini akhirnya bertransformasi menjadi 4-2-3-1, di mana ia melahirkan peran-peran baru, seperti devensive forward yang menuntut lini depan berkonstribusi dalam bertahan.

Fungsionalisme

Pendekatan Mou di MU seolah aplikasi atas teori fungsionalisme dalam antropologi budaya. Saya tidak sedang gaya-gayaan, tetapi kenyataan bahwa taktik dan strategi berkelindan dengan kebutuhan tim lama-lama dapat diamini dalam evolusi sepak bola.

Fungsionalisme menekankan pada ketergantungan antarunsur di dalam masyarakat dan kebudayaan menjadi kesatuan yang berfungsi. Hal itu membawa konsekuensi adanya ikatan kuat yang membuat semua unsur tidak bisa saling melepaskan.

Layaknya antropolog Bronislaw Malinowski, Mou juga melihat tim sepak bola sebagai organisme. Ia sadar, ada fungsi-fungsi tertentu yang harus dipenuhi agar kehidupan tetap langgeng.

Boleh dibilang, Mou memenuhi syarat-syarat fungsional—mengeluarkan potensi yang dimiliki pemain di setiap posisinya—untuk tetap memungkinkan eksistensinya. Caranya: memarkir busnya dengan rapi di lini belakang. Cara tersebut membuat kebutuhan tim dapat terjaga. Tentu saja yang dimaksud kebutuhan dalam sepak bola tergantung seberapa menguntungkan bagi tim.

Belakangan, Mou dianggap sedang cari aman. Tidak sedikit yang mencacinya karena memainkan sepak bola negatif. Namun, penulis biografi Mourinho, Diego Torres, menulis beberapa poin agar manajer dapat memenangkan pertandingan. Di antaranya, pertandingan dimenangkan oleh tim yang lebih sedikit melakukan kesalahan dan siapapun yang menguasai bola cenderung akan melakukan kesalahan.

Saya mengamini jika Dex Glenniza menilai 4-2-3-1 sebagai formasi yang mulai membosankan. Penyebabnya, menurut Dex, ialah menurunnya jumlah gol, terutama di Liga Inggris. Namun, toh sepak bola menghendaki evolusi, dan evolusi selalu menuju ke arah yang lebih kompleks. Maka, tidak menutup kemungkinan jika sepak bola bukan cuma soal gol, melainkan juga taktik.

Dari era Herbert Chapman dan Vittorio Pozzo hingga Diego Simeone dan Antonio Conte, tak ada klub yang bisa konsisten dengan pakem tertentu, kecuali jika ia sadar pada kebutuhan. Sebab, tiap taktik, tiap strategi, pasti ada antidotnya masing-masing. Bagi yang bisa melihat kekurangan dan kelebihannya, aktualisasi menjadi penting agar tidak mudah dikadali.

Jonathan Wilson, kolumnis The Guardian, menulis, “Mourinho suka berbicara tentang pragmatisme. Ia menggambarkan dirinya sebagai realis melawan ‘penyair’ yang berbicara tentang permainan memukau tapi tidak memenangkan gelar.” Tidak salah, toh pragmatisme memang bagian dari evolusi sepak bola, dan ia semakin menemukan pembenarannya. Lagi pula, setelah wasit meniup peluit, siapa juga yang bisa menuntut klub karena bermain pragmatis?

Ahmad Yasin

Editor: Putra Ramadan

Check Also

Pemilwa dan Perburuan Massa

Sesaat lagi kita akan merayakan pesta tahunan organisasi mahasiswa (ormawa): pemilihan ketua dan wakil ketua …