Home » Opini » Indonesia Darurat Bunuh Diri

Indonesia Darurat Bunuh Diri

Ilustrasi bunuh diri. Repro Danang/EKSPRESI.

Pada 10 Oktober 2017, seorang pria bernama Mamat Ali ditemukan tewas gantung diri di rumahnya di Kampung Babak, Kabupaten Bekasi. Aneh rasanya. Bertepatan dengan Hari Kesehatan Mental Dunia, Mamat memilih mengakhiri hidupnya karena depresi akibat himpitan ekonomi. Tidak hanya itu. Bulan sebelumnya, pada 10 September 2017 di Gunungkidul, Yogyakarta, seorang pedagang kayu dan pengusaha mebel, Waspodo, juga ditemukan bunuh diri dengan cara gantung diri di hutan setempat. Tak ada masalah ekonomi pada pria ini. Ia malah bunuh diri tepat pada Hari Pencegahan Bunuh Diri Dunia.

Dua contoh di atas seolah ejekan bagi Hari Kesehatan Mental dan Hari Pencegahan Bunuh Diri Dunia. Kenyataannya, tepat pada hari yang seharusnya diperingati untuk mengkampanyekan kesehatan mental dan hari bebas bunuh diri, beberapa orang malah memilih cara yang “tidak sehat” untuk menyelesaikan masalah mereka.

Tidak heran apabila pada tahun 2020, World Health Organization (WHO) memprediksi bahwa angka bunuh diri di Indonesia akan mencapai 2,4 persen per 100.000 jiwa. Angka ini sangat fantastis. Jika disimpulkan, terdapat lebih dari satu juta jiwa meninggal setiap tahunnya karena bunuh diri. Jika dikerucutkan, kurang lebih setiap 40 detik jatuh satu korban disebabkan bunuh diri.

Prediksi ini bukan tanpa dasar, angka bunuh diri di Indonesia terus meningkat tiap tahunnya. Masih berdasarkan WHO, sedikitnya 50.000 orang Indonesia telah melakukan tindak bunuh diri selama tiga tahun terakhir. Dengan demikian, terdapat 46 korban meninggal setiap harinya.

Hal ini menunjukkan bahwa fenomena bunuh diri di Indonesia merupakan masalah serius yang patut disoroti secara tajam. Beberapa daerah yang rawan bunuh diri menetapkan agenda dan program kerja khusus untuk menanggulangi kasus bunuh diri di daerah tersebut. Misalnya saja Gunungkidul. Kabupaten dengan angka bunuh diri tertinggi se-Indonesia ini mengusung ide unik dengan membentuk Tim Pencegahan dan Penanggulangan Bunuh Diri. Gubernur Bali juga melakukan seminar dan kampanye anti bunuh diri secara rutin.

Bagaimanapun juga, berdasarkan pengakuan beberapa korban yang berhasil diselamatkan, atau catatan-catatan yang ditinggalkan pelaku, sebagian besar dari mereka memilih mengakhiri hidup karena alasan depresi, stres, atau masalah himpitan ekonomi. Apabila sebab dan motifnya bisa diukur, hal ini tentu bisa dicegah. Namun, tak bisa dimungkiri bahwa faktor penyebab seorang individu melakukan bunuh diri merupakan problem kompleks dan tidak didominasi alasan tunggal. Mulai dari interaksi biologis, genetik, sosial, dan lingkungan.

Sangat sulit mengungkapkan secara akurat sebab dan alasan kenapa bunuh diri dilakukan. Ujung-ujungnya, perbedaan individu tetap menjadi poros utama. Beberapa orang yang didera masalah lebih berat tetap bertahan dan tidak melakukan bunuh diri. Sedangkan yang lain putus asa dan merasa tak memiliki harapan lagi.

Meskipun demikian, ahli kejiwaan telah mengategorikan orang-orang tertentu yang rentan melakukan bunuh diri, di antaranya, orang yang merasa bahwa kualitas hidupnya tidak memuaskan, tidak berdaya, putus asa, kehilangan tanggung jawab sosial, serta peran di komunitasnya. Singkatnya, mereka yang tak puas dan tidak bahagia lebih rentan untuk melakukan bunuh diri.

Hal itu bertolak belakang dengan indeks kebahagiaan penduduk Indonesia yang dilansir oleh Badan Pusat Statistik bahwa Indonesia adalah negara yang cukup bahagia, lebih bahagia dari negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan beberapa negara di Eropa. Indeks tersebut memaparkan, orang Indonesia berada di tingkat kebahagiaan sebesar 65,11 dari skala 0 – 100. Logikanya, jika banyak orang Indonesia bahagia, kenapa masih banyak yang memilih mengakhiri hidup mereka sebelum waktunya?

Bunuh di Kalangan Anak dan Remaja

Akhir-akhir ini, kasus bunuh diri juga menyasar anak-anak usia produktif. Jika sebelumnya pelaku bunuh diri cenderung dari orang-orang dewasa dan lansia, kini anak-anak dan remaja juga melakukan bunuh diri. Trennya pun meningkat dari tahun ke tahun.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Abdur Rozaki dari UIN Sunan Kalijaga, motif anak-anak dan remaja melakukan bunuh diri tak jauh beda dari alasan orang dewasa dan lansia. Mereka juga depresi karena masalah ekonomi orang tuanya. Di kasus lain, beberapa anak mengalami stres dan memutuskan bunuh diri karena tekanan akibat ketidakharmonisan rumah tangga, orang tua yang kerap bertengkar, dan keluarga yang berantakan. Selain itu, beberapa didasari alasan putus cinta, tidak percaya diri, dan masalah pendidikan di sekolah.

Merebaknya kasus bunuh diri yang dilakukan anak-anak dan remaja ini seharusnya menyadarkan kita bahwa ada nuansa lain dari problem anak. Mereka dipaksa untuk beradaptasi di lingkungan yang di luar nalar mereka, berdinamika dengan masalah kompleks yang tidak bisa mereka atasi. Berdasarkan modelling yang dilihat dan diterima, mereka pun berani meniru perilaku orang-orang dewasa yang bunuh diri. Perilaku ini dipandang sebagai “ajaran” untuk menyelesaikan problema yang tidak bisa dinalar dan dikontrol lagi oleh pelakunya.

Faktor Utama Bunuh Diri: Depresi

Dari banyak kasus yang terjadi, ada benang merah yang dapat ditarik dari alasan-alasan pelaku untuk melakukan bunuh diri. Depresi adalah sebab yang paling sering muncul. Meskipun sebagian kecil pelaku diduga bunuh diri karena alasan religiusitas, budaya malu, atau penyakit menahun, sebagian besar dari pelaku bunuh diri adalah orang-orang yang stres dan depresi. Bagaimanapun juga depresi tidak bisa dipandang remeh sebagai gangguan psikologis yang tak kasat mata. Dampaknya sangat besar dan tidak kalah dari penyakit-penyakit medis berbahaya.

Sebagaimana juga bunuh diri, depresi merupakan gangguan mental yang bersifat kompleks. Tak ada motif pasti yang menyebabkan seseorang depresi. Kadar stres dan pertahanan diri antara satu individu dengan individu lain juga berbeda. Perbedaan individual dalam menyelesaikan masalah (coping) adalah kunci utama yang menyebabkan individu menjadi stres dan menuntun munculnya depresi. Semua permasalahan ekonomi, dinamika cinta dan keluarga, pengasuhan, serta hubungan sosial merupakan sesuatu yang lumrah dialami setiap manusia.

Pilihannya, bagaimana kita menyikapi masalah yang muncul serta menyelesaikannnya. Apabila masalah tadi terasa berat dan mencekik, pada akhirnya hal tersebut akan menyebabkan depresi. Bagi individu yang suka jalan pintas, akan melampiaskannya pada perilaku merusak seperti minum-minuman keras, merokok, hingga penyalahgunaan obat-obatan. Masalah yang tak terselesaikan pun akan beranak-pinak menjadi masalah-masalah baru.

Di atas semua itu, cara kita mengolah emosi tetaplah merupakan tonggak utama yang mesti kita jaga dan pelihara. Bagaimanapun juga, kesehatan mental dan psikologis merupakan bagian penting dari kehidupan manusia. Jangan sampai hal-hal negatif yang banyak berkeliaran di lingkungan sekitar mengontrol emosi dan perasaan kita. Oleh karena itu, upaya hidup sehat tak lagi cukup tanpa manajemen stres yang baik.

Saat ini, kesehatan mental dan psikologis duduk sejajar dengan kesehatan fisik. Tanpa keduanya, manusia hanyalah pesakitan yang memandang bahwa masa depan hanyalah dunia yang suram dan tak berpengharapan.

Abdul Hadi

Editor: Ahmad Yasin

Check Also

Pemilwa dan Perburuan Massa

Sesaat lagi kita akan merayakan pesta tahunan organisasi mahasiswa (ormawa): pemilihan ketua dan wakil ketua …