Home » Margin » Implementasi UNY menuju Kelas Dunia

Implementasi UNY menuju Kelas Dunia

Andhika/EKSPRESI

Semua perguruan tinggi di Indonesia perlu memacu diri untuk masuk dalam jajaran 500 universitas terbaik dunia, tak terkecuali UNY. Akreditasi internasional merupakan syarat mutlak UNY untuk menyabet gelar World Class University (WCU). Untuk mendapatkan gelar tersebut UNY wajib memenuhi berbagai kriteria yang telah ditetapkan sesuai standar internasional. Quacquarelli Symonds (QS), lembaga riset yang bergerak di bidang pendidikan tinggi dalam rilisnya menyebutkan bahwa ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi perguruan tinggi, di antaranya: kualitas penelitian, lulusan kerja, kualitas pengajaran dan infrastruktur.

UNY telah menyiapkan penguatan kelembagaan yang terdiri atas sumber daya manusia (SDM), manajemen, fasilitas, dan keuangan sebagai daya dukung utama dalam pelaksanaan tridharma perguruan tinggi (pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat). Sutrisna Wibawa, Rektor UNY periode 2017-2021 dalam program kerjanya mematok bahwa tahun 2025 UNY akan menjadi perguruan tinggi WCU sebagaimana yang diharapkan. Berikut wawancara reporter EKSPRESI, Jumat (10/11) di ruang Rektor UNY.

Tahun 2009 Anda pernah menulis tentang Penguatan Kelembagaan UNY menuju WCU. Apakah dari dulu Anda yakin bahwa UNY akan menjadi perguruan tinggi WCU dan bagaimana mengimplementasikannya?

WCU itu kan sebenarnya mulai mengemuka tahun 2008. Tahun 2009 kan saya wakil rektor. Saat itu kan saya menyiapkan kelembagaannya. Penyiapan kelembagaan pada saat itu dari satuan kerja biasa menjadi satuan kerja BLU (Badan Layanan Umum). Nah, BLU itu memiliki prinsip otonomi. Otonomi penggelolaan manajemen, otonomi keuangan untuk mengelola perguruan tinggi ke depan. Kita mulai dari situ. Kemudian di atas BLU itu namanya PTNBH (Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum).

Kita untuk PTNBH juga menyiapkan kelembagaannya, kita program di tahun 2019. Jadi 2018 itu kita menyusun perangkat-perangkatnya, lalu proposal naskah akademik kita masuk ke kementerian. Harapan kita tahun 2019 kita sudah clear (menjadi PTNBH, –red).

Kelembagaan PTNBH itu sebenarnya adalah prinsip otonomi. Jadi yang dibangun adalah kemandirian, sehingga dengan PTNBH ini, universitas memiliki keleluasaan untuk mengelola. Termasuk program studi itu tidak perlu lagi izin ke kementerian. Cukup oleh lembaga penjaminan mutu di universitas. Kalau prodi (program studi) itu layak, ya dibuka. Kalau tidak layak ya harus di studi lagi.

Kemudian kita mengelola perguruan tinggi secara otonom, itu lebih banyak mengedepankan tata kelola universitas. Tentu yang bisa dipertanggungjawabkan. Kemudian memegang juga prinsip transparansi-keterbukaan. Prinsip-prinsip itu untuk menuju ke sana (WCU, –red).

WCU itu kita mencanangkan tahun 2025, menjadi perguruan tinggi yang unggul. Saya menerjemahkan unggul itu yang seperti apa? Tahun 2025, unggul harus masuk ke rangking dunia. Masuk ke 500 rangking dunia. Saya buat tahapan-tahapan. Tahun ini kita mengkoordinasi potensi internal. Kita gerakkan untuk menuju WCU.

Tahun 2017 ini kita lebih awal, UNY masuk klaster 1 di Kemeterian Ristek Dikti, UNY rangking 10. Di seluruh Indonesia dari sekitar 4300 perguruan tinggi. Saya punya cita-cita tahun 2018 itu kita paling tidak rangking 8 atau 9, rangking Asia Tenggara. Jadi kita sudah mengejar ke sana. Kemudian di Tahun 2019 ini kita baru menuju ke Asia.

Tahun 2019 sampai tahun 2021, kita sudah merambah ke dunia. Target-target ini kita wujudkan dalam berbagai aktivitas. Nah, kita pakai versinya yang QS world university ranking (QS WUR). Versi QS WUR ada dua nilai besar, yang pertama itu adalah reputasi akademik 10%. Reputasi akademik itu dinilai oleh orang luar, seluruh dunia tidak hanya Indonesia. Bagaimana kualitas tenaga kerja lulusan UNY.

Kalau yang 40% itu reputasi akademik. Reputasi akademik itu ya dari karya dosen, karya mahasiswa, pokoknya yang sifatnya akademik. Kemudian yang 50% itu atas dasar data. Datanya terdiri dari riset, publikasi internasional. Kita mengisi majalah-majalah internasional. Riset sendiri menjadi prioritas di UNY. Dosen-dosen saya harapkan untuk meningkatkan riset-risetnya bukan hanya jumlah tapi kualitas.

Kenapa UNY harus menjadi perguruan tinggi WCU?

Ada keinginan tidak perguruan tingginya berkualitas? Jawabannya itu. Kita ingin menjadi perguruan tinggi yang berkualitas. Jadi kalau sekarang saja kita rangking 10, itu nama anda ikut terangkat. Itu kan anda bangga juga. Kebanggaan itu akan berpengaruh ke dunia akademik, jadi kultur akademik itu saya harapkan tercipta disitu. Jadi kualitas akademik akan menciptakan kualitas lulusan. Sehingga mahasiswa otomatis terangkat. Nanti masukannya (pendaftaran UNY, red) juga akan lebih ketat, karena yang melamar ke UNY akan lebih besar. Jadi punya daya tarik yang tinggi karena kualitas.

UNY mencanangkan menuju perguruan tinggi WCU sudah sejak kapan?

Tahun 2008 itu sudah persiapan. Pimpinan-pimpinan sebelumnya, dari Prof. Suyanto, Prof. Sugeng, sampai Prof. Rochmat mempersiapkan. Nanti saya selesai dilanjutkan pimpinan selanjutnya untuk menuju 2025 dan kita itu tersistem tidak ada pimpinan yang punya keinginan sendiri, kita melanjutkan.

Kesulitan untuk menuju perguruan tinggi WCU?

Semua sulit. Tidak ada yang mudah. Semua perlu tantangan, perlu kerja keras. Coba untuk menghasilkan publikasi internasional itu kan tidak mudah.

Sumber daya di UNY sendiri seperti apa menurut Anda?

Sekarang sudah baguslah. Dosen sudah 30 persen yang S3. Prodinya 60% sudah akreditasi A. Itu semua kan modal dasar. Kemudian suasana akademik itu juga sudah kondusif. Meskipun ya kadang-kadang setelah kuliah depan kelas ramai, lah anak-anak itu harus dipacu. Nah, nantikan setelah itu ada perpustakaan digital, ada 4 lantai dan saya harapkan kan itu jadi kumpul ajangnya mahasiswa untuk melihat jurnal, jadi online itu. Kita mau melihat apa saja di dunia, ada di situ. Itu juga dalam rangka memfasilitasi suasana akademik.

Kalau dosen-doktor di UNY itu harus berapa persen untuk menuju WCU?

Itu sebenarnya dilihatnya dari karya. Doktor kita sekarang sudah 31%. Kita akan mendorong terus paling tidak 50% di dua-tiga tahun ke depan. Tolok ukur sebenarnya adalah karyanya. Diharapkan S3 itu memiliki riset dan kemampuan lebih tinggi sehingga kualitas risetnya jauh lebih baik.

Bagaimana mengembangkan SDM mahasiswa sendiri?

Kita tetap pertahankan jumlahnya. Jadi kita tidak menambah dulu kuotanya. Jadi kita pertahankan relatif sama dulu. Sekarang ini kita fokus untuk meningkatkan kualitas. Sarana dan prasarana. Jadi dana Islamic Development Bank (IDB) ini kan ada 13 gedung, antara lain pembangunan laboratorium. Jadi memang kelemahan kita di laboratorium.

Bagaimana anggapan Anda mengenai komersialisasi pendidiakn?

Gak ada hubungannya dengan komersiliasi. WCU adalah kualitas. Memang untuk ke sana dibutuhan dana, tapi tidak berkorelasi. Sumber-sumber dana itu kan tidak hanya dari mahasiswa. Dari income ingeneering kita, kemudian dari APBN, murni dari pemerintah, dari kerja sama. Mahasiswa itu hanya sekitar 40 persen dari pendanaan universitas. Jadi bukan karena WCU terus kita mahal. Kita kan sudah ada acuan dari pemerintah.

Bagaimana mahasiswa sebaiknya ikut andil dalam rangka UNY menuju WCU?

Mahasiswa harus berkerja keras, harus belajar. Harus menyesuaikan. Dia harus membaca jurnal, membaca buku kemudian akses informasi yang dunia, dan era WCU itu tidak hanya bahasa Inggris tetapi kualitasnya.

Saya punya kepercayaan kalau lembaganya baik pasti mahasiswanya akan ikut baik. Sekarang ini eranya mahasiswa untuk meraih prestasi tidak lagi turun ke jalan. Turun ke jalan itu kan era sebelum reformasi, sekarang ini kan era prestasi. Sehingga harus ke sana, kalau forum forum itu kan harus forum-forum diskusi, untuk mengasah dan juga mengembangan.

Khusnul Khitam

Editor: Danang S

Check Also

Dilema Kuliah Sabtu PTSP

Terdampak proyek Islamic Development Bank (IDB), Pendidikan Teknik Sipil dan Perencanaan (PTSP) kuliah Senin sampai …