Home » Berita » Warga Penolak Bandara Alami Tindak Kekerasan

Warga Penolak Bandara Alami Tindak Kekerasan

Wartawan kampus terlihat dijatuhkan oleh aparat dipukuli, diinjak-injak, dijambak, dan diseret. pada Selasa (2/12). Foto oleh Imam/EKSPRESI.

Upaya penggusuran dalam rangka megaproyek New Yogyakarta International Airport (NYIA) dari pihak Angkasa Pura 1 masih terus berlanjut, Selasa (5/12). Fajar Ahmadi, salah satu warga terdampak, mengatakan bahwa pada sekitar pukul 10.00 WIB telah terjadi upaya penggusuran di tiga titik lokasi yang salah satu di antaranya adalah rumahnya. Fajar mengaku sempat terjadi bentrok dengan aparat dalam upaya penggusuran yang terjadi. Menurut pengakuan Fajar, ia juga mendapatkan intimidasi secara fisik dari aparat ketika sedang berupaya menghadang aparat yang mulai merobohkan pohon di depan rumahnya. Kita dipojokin. Saya kan target kan. Mungkin dikiranya saya menghalangi-halangi kayak gitu, saya ditangkap. Saya digeret, diantem,” ujarnya.  “Saya dicekik ini, dihajar, ditendang,” tambah Fajar.

Berdasarkan kesaksian Fajar, ketika penggusuran berlangsung, banyak aparat (Sabhara) yang ada di sekitar rumahnya dan sempat menyulut emosi untuk mengalihkan perhatian sehingga mempermudah proses penggusuran rumahnya. Dari tiga titik penggusuran yang dikatakan Fajar, ia mengaku hanya mengetahui rumahnya saja yang diratakan sebelum akhirnya ia diamankan.

Para relawan bahkan juga mendapat hal yang serupa dengan Fajar, “Tapi Saya liat teman-teman digeret juga. Malah lebih parah teman-teman relawan. Tempat saya disweeping, disuruh keluar,” ungkap Fajar. Ia memperkirakan kemungkinan penahanan para relawan itu karena laporan tidak ada izin dari kelurahan. “Itu kan bukan orang sini. Udah izin sama pak lurah belum lah itu. Alasan dia seperti itu. Dia itu takutnya sama itu yang moto-moto (foto-foto) itu. Makanya disingkirkan biar gak moto,” ungkap Fajar.

Ditemui di Kantor Polsek Temon, untuk dimintai konfirmasi terkait adanya peristiwa pemukulan dan tindakan kekerasan fisik lainnya oleh aparatnya, Kapolsek Komisaris Polisi Setyo Hery Purnomo menampik informasi tersebut. “Kalau ditanya terkait klarifikasi pemukulan, gak ada yg mukul, itu kena kamera,” ungkap Hery. Terkait dengan pengakuan Fajar yang mengalami pencekikan, Hery juga menampik hal tersebut dengan dalih tidak melihat pencekikan tersebut. Pihaknya berkilah karena itu (penggusuran) merupakan keputusan pengadilan untuk kepentingan negara. “Kalau negara mau makai berarti harus diserahkan ke negara. Bumi, air kan punya negara itu, pernah baca enggak?” ungkap Hery.

Andhika Widyawan

Reporter: Triyo Handoko

Editor: Danang S

Check Also

Dekanat Intervensi Pemilwa FBS

Persiapan pelaksanaan Pemilihan Mahasiswa (Pemilwa) Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) mengalami kendala. Nuril Arifa, Ketua …