Home » Berita » Wartawan Persma Alami Kekerasan oleh Polisi

Wartawan Persma Alami Kekerasan oleh Polisi

    Rimbawana menunjukkan bekas kekerasan di punggungnya, Selasa (5/12). Foto oleh Ahmad/EKSPRESI.

Sebanyak 15 mahasiswa anggota solidaritas penolak pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) ditangkap dan dibawa ke kantor Kepolisian Resor (Polres) Kulon Progo, Selasa (05/12). Dari 15 mahasiswa yang ditangkap, terdapat tiga wartawan Persma. Salah satu wartawan Persma yang ditangkap, mengalami tindak kekerasan oleh polisi.

Mereka ditangkap ketika melakukan peliputan saat peristiwa kekerasan aparat kepolisian terhadap warga dan anggota solidaritas penolak pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) terjadi.  Wartawan Persma yang ditangkap diantaranya Imam Ghozali (LPM Ekspresi), Aris Rimbawana (LPM Ekspresi), dan Fahri Hilmi (LPM Rhetor). “Salah satu yang mengalami luka serius bernama Rimbawana, dia diseret dan diinjak-injak oleh aparat kepolisian,” terang Adnan Pambudi selaku pengacara Paguyuban Warga Penolak Penggusuran Kulon Progo (PWPP-KP) dan mahasiswa.

“Rambut saya dijambak hingga rontok, dada dan perut saya diinjak-injak, punggung saya juga tergores batu-batu bekas rumah yang digusur,” ujar Rimbawana ketika ditemui di Polres Kulon Progo. Bahkan, ia sempat diseret oleh aparat hingga mendekati truk Satuan Sabhara. Padahal ia sudah menunjukkan kartu wartawan Persma. Selain tindak kekerasan, Fahri, wartawan LPM Rhetor juga mengaku sempat mendapatkan intimidasi. “Saya sempat ditarik dan di dorong-dorong serta dibentak-bentak oleh aparat ketika dibawa ke truk,” ujarnya. Setelah ditangkap, Fahri menceritakan bahwa kartu persnya sempat disita oleh salah satu aparat polisi. Selain menyita kartu pers milik ketiga wartawan persma, dokumentasi yang ada di kamera milik Imam juga dihapus.

Alasan penangkapan 12 mahasiswa dan tiga wartawan Persma oleh aparat polisi karena dianggap menghalangi proses land clearing. Akan tetapi, menurut Adnan, alasan tersebut hanya dibuat-buat. “Ketika dilakukan pemeriksaan, kawan-kawan yang telah ditangkap tidak terbukti melakukan tindak pidana,” jelas Adnan.

Setelah menjalani pemeriksaan, pukul 22.00 WIB, mereka dibebaskan. Barang-barang yang disita seperti tiga kartu pers dikembalikan. Kemudian 12 mahasiswa dan 3 wartawan Persma diantar pulang kembali ke Palihan, Temon, Kulon Progo dengan pengawalan mobil Patroli dan Pengawal.

Ahmad Wijayanto

Editor: Danang S

Check Also

Surat Penundaan Dilayangkan Ombudsman, Angkasa Pura I Tetap Lakukan Pembongkaran

Ombudsman RI Perwakilan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melayangkan surat per 30 November 2017 kepada pihak …