Home » Berita » Wakil Dekan III FIS Sebut Spanduk Solidaritas Tidak Berizin & Provokatif

Wakil Dekan III FIS Sebut Spanduk Solidaritas Tidak Berizin & Provokatif

Petugas keamanan berusaha mencopot spanduk yang dipampang di samping gedung PKM. Foto oleh Rimba/EKSPRESI.

Muhammad Nur Rokhman, Wakil Dekan (WD) III Fakultas Ilmu Sosial (FIS) pada Senin sore (11/12), melarang serta mencopot poster-poster posko donasi dan solidaritas mahasiswa untuk warga penolak bandara Kulon Progo. Alasannya selain tidak berizin, spanduk-spanduk juga bernada provokatif. Pada Selasa (12/12), spanduk-spanduk penolakan terhadap bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) dipasang kembali oleh mahasiswa yang berniat mendirikan posko donasi dan bersolidaritas. Namun, sekitar pukul setengah sebelas pagi, spanduk-spanduk itu diturunkan lagi oleh pihak keamanan FIS atas perintah WD III.

“Saya hanya menjalankan aturan, kalau tidak saya jalankan, saya yang kena marah” ucap salah satu petugas keamanan. Spanduk-spanduk itu dipasang di menggantung dari lantai 3 gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) FIS.

Kronologi Pelarangan

Menurut keterangan Thoriq Abdunnasir, salah satu mahasiswa yang ikut mendirikan posko donasi dan solidaritas, ketika pencopotan itu terjadi dirinya mengaku tengah berada di lokasi dan bersiap untuk beres-beres. “Saat itu kira-kira setengah empat sore lebih, kita sudah akan tutup karena juga mahasiswa kebanyakan sudah pada pulang,” terang Thoriq. Seketika itu pula, WD3 datang menuju gedung PKM karena akan menghadiri acara debat calon ketua BEM FIS, melihat spanduk-spanduk itu.

“Sekitar pukul 03.40 WIB, ada tujuh orang datang. WD III, dan enam orang petugas keamanan. Waktu WD III mempertanyakan masalah izin, petugas keamanan langsung mencopot spanduk,” ujar Thoriq. Sewaktu ditanya oleh mahasiswa soal pencopotan spanduk, kata Thoriq, WD III mengatakan bahwa spanduk-spanduk itu tidak berizin dan bernada provokatif.

Adu pendapat pun terjadi ketika spanduk akan disita oleh petugas keamanan. “Mulanya satpam ngeyel buat menyita spanduk, tapi WD III memberi izin kepada mahasiswa untuk menyimpannya,” tambah mahasiswa jurusan Ilmu Sejarah itu. Salah satu spanduk yang bertuliskan “Tolak NYIA, Butuh Nandur, ra Butuh Mabur” menjadi permasalahan bagi WD III.

Tetap Dilarang

Selasa siang (12/12), Muhammad Nur Rokhman baru bisa ditemui di ruangannya untuk mengkonfirmasi berita. Ia mengaku, bahwa pencopotan spanduk ini benar adanya dan murni atas instruksinya. “Ini murni instruksi dari saya,” akunya. Nur juga mengatakan, sebelumnya ia mendapat informasi dari petugas keamanan. “Saya dengar info dari satpam bahwa ada spanduk di gedung PKM,” tambahnya.

Ketika ditanya alasan pencopotan spanduk, ia hanya mengatakan bahwa kalimatnya provokatif. “Provokatif ya yang seperti itu,” tegasnya. Selain itu, ia juga mengungkit terkait masalah izin. Nur berkata, bahwa untuk spanduk sebesar itu, harus melalui izin terlebih dulu. “Kan di situ (gedung PKM – red.) juga bukan tempatnya,” pungkasnya.

A. S. Rimbawana

Editor: Danang S

Check Also

Wakil Rektor III: Tidak Ada BEM, Tidak Masalah

Sumaryanto, Wakil Rektor III (WR III) Universitas Negeri Yogyakarta mengatakan garis antara Badan Eksekutif Mahasiswa …