Home » Opini » Catatan untuk Stadion di Indonesia

Catatan untuk Stadion di Indonesia

Ilustrasi stadion di Indonesia. Ilustrasi oleh Danang/EKSPRESI.

Suatu hari saya dibikin tercengang dengan sebuah foto di linimasa Instagram. Foto Osvaldo Haay, pemain muda timnas Indonesia, tengah tertungkup di lapangan yang dipenuhi lumpur dengan seragam timnas warna putih. Bukan hanya Osvaldo, rekan-rekannya pun harus merasakan pekatnya lumpur di Stadion Harapan Bangsa pada perhelatan Aceh World Soldarity Cup 2017 Desember kemarin.

Padahal turnamen tersebut diikuti oleh beberapa negara luar seperti Mongolia, Kirgiztan, dan Brunei Darussalam. Bahkan Michael Weiss, pelatih Mongolia, sempat melontarkan kritiknya tentang kondisi lapangan yang buruk sehingga mempengaruhi jalannya pertandingan.

Kejadian yang hampir sama terjadi saat laga internasional timnas Indonesia Selection bersua timnas Islandia. Laga digelar di Stadion Maguwoharjo, Sleman pada 11 Januari 2018.  Hujan deras yang mengguyur  Sleman tak mampu diserap dengan baik. Akibatnya, beberapa titik di stadion digenangi air. Pertandingan tersebut sempat berhenti selama 15 menit.

Label stadion bertaraf internasional yang merupakan kandang PSS Sleman tersebut seolah tak lebih dari nama belaka. Masih banyak fasilitas yang perlu dibenahi. Termasuk sistem drainase itu sendiri.

Pada ajang Piala Presiden 2018 kejadian serupa kembali terulang. Dua stadion tuan rumah Piala Presiden 2018 yang mendapat sorotan adalah Stadion I Wayan Dipta (Bali) dan Stadion Gajayana (Malang).

Stadion I Wayan Dipta dipilih untuk melangsungkan pertandingan di Grup D (Persija, PSPS Riau, Bali United, dan Pusamania Borneo FC). Stadion tersebut baru saja direnovasi. Sayangnya, pihak pengelola hanya memperhatikan area tribun penonton dan bench. Padahal hal urgen seperti sistem drainase perlu mendapat perhatian lebih. Terlebih turnamen pramusim tersebut dihelat saat musim penghujan.

Kritik kembali dilontarkan. Kali ini pemain asal Persija Jakarta, Rico Simanjuntak, mengeluhkan lapangan yang digenangi air. Pada laga Persija kontra PSPS, pertandingan pun sempat ditunda. Walau akhirnya pertandingan tetap dilanjutkan, air tidak serta merta diserap secara cepat.

Kedua kesebelasan harus mengeluarkan tenaga ekstra. Tidak mudah untuk menggulirkan bola dalam keadaan lapangan dipenuhi air. Belum lagi cedera yang bisa dialami oleh pemain karena lapangan yang licin.

Sebelumnya, Stadion I Wayan Dipta juga menggelar pertandingan kualifikasi Liga Champions Asia antara Bali United vs Tampines Rovers. Hujan deras yang mengguyur jelang kick off  membuat stadion digenangi air. Sesuai peraturan, pertandingan pun harus ditunda sekitar satu jam lamanya.

Di grup E juga tak kalah memprihatinkan. Stadion yang akan mempertemukan Arema FC, PSIS Semarang, Persela Lamongan, dan Bhayangkara FC tersebut kian mendapat kritik dari warganet. Hujan yang mengguyur Malang ditambah kualitas rumput yang buruk seketika seperti menonton pertandingan di area sawah.

Rumput Stadion Gajayana yang seharusnya hijau berubah menjadi hitam pekat. Lumpur kian menempel di jersey para pemain. Aliran bola pun tersendat oleh lumpur.

Skema permainan yang sudah dirancang dari awal harus buyar. Tak ada yang bisa menebak sampai mana bola akan bergulir atau selengket apa tangkapan penjaga gawang. Bisa jadi keberuntunganlah yang menjadi harapan.

Bukan hanya berbahaya secara permainan, lumpur yang tersebar di berbagai titik lapangan bisa menjadi ancaman. Johan Alfarizi, bek sayap Arema FC, sedikit mengalami masalah dengan matanya karena terkena lumpur saat menghadapi Persela. Miris memang.

Indonesia sedang berada dalam musim penghujan. Hujan yang tak bisa diprediksi menjadi masalah ketika sebuah stadion tidak siap menampung curah hujan. Namun, aspek penting seperti sistem drainase selalu diabaikan. Seharusnya kualitas rumput dan sistem drainase perlu mendapat perhatian lebih, bukan hanya mempercantik arsitektur bangunan saja.

Melihat permasalahan di atas, sampai di manakah level kompetisi kita? Saat Indonesia masih berkutat dengan masalah stadion, Liga Thailand saja sudah berkeinginan menerapkan teknologi Video Assitant Referee. Malaysia dan Vietnam bahkan sudah melangkahkan kakinya hingga fase perempat final Piala Asia U-23.

Nah, masih mampukah Indonesia menuntaskan permasalahan klise di sepak bolanya, termasuk masalah lapangan yang lebih mirip sawah ketika musim penghujan tiba? Kapan sepak bola kita akan maju jika kompetisi lokal masih dilangsungkan di stadion yang berlumur lumpur dan digenangi air.

Bila ingin berprestasi, Indonesia seharusnya memperhatikan aspek-aspek yang sering kali dimarjinalkan. Seperti halnya kualitas rumput dan sistem drainase, keduanya harus dibereskan. Mengingat prestasi tak mungkin didapat apabila stadion untuk menghelat pertandingan tak ubahnya area sawah.

Masalah drainase yang buruk menjadi masalah bersama. Masalah yang harus diselesaikan sebelum kompetisi nasional bergulir. Anggap saja permasalahan di atas menjadi catatan merah bagi sepak bola nasional, dan catatan tersebut harus direalisasikan dengan perbaikan serta perawatan berkala.

Beruntunglah Indonesia tidak mengalami hujan salju. Jika terjadi, bagaimana nasib kompetisi Tanah Air? Mungkin saja diliburkan. Namun, mengingat masalah drainase masih belum kelar, bagaimana bisa menghadapi masalah salju di lapangan?

M. S. Fitriansyah

Editor: Ahmad Yasin

Check Also

Perubahan Budaya Bermain dari Tradisional ke Virtual

Pada 1938, Johan Huizinga, seorang teoritisi budaya dan sejarawan asal Belanda, menulis buku berjudul Homo Ludens: …